LANGIT7.ID-Jakarta; - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah yang jatuh tepat setelah bulan Muharram. Secara etimologi, kata Safar diambil dari akar kata صَفِرَ – يَصْفَرُ – صَفَرًا yang memiliki arti kosong, sepi, atau tidak berpenghuni.
Penamaan ini merujuk pada tradisi masyarakat Arab kuno yang gemar keluar meninggalkan rumah mereka untuk berniaga maupun maju ke medan perang, sehingga rumah-rumah mereka menjadi kosong melompong. Pendapat lain menyebutkan bahwa penamaan ini berkaitan dengan perpindahan musim atau kondisi alam tertentu yang menciptakan suasana lengang.
Namun di samping latar belakang historis tersebut, terdapat mitos yang telanjur mengakar di tengah masyarakat jahiliyah bahwa bulan Safar adalah waktu pembawa sial, petaka, dan bencana. Keyakinan keliru mengenai hari atau bulan pembawa sial ini secara tegas telah dibatalkan oleh Rasulullah.
Melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Nabi bersabda, لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ yang menegaskan bahwa tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada kesialan karena tanda-tanda burung, tidak ada burung hantu pemanggil kematian, dan tidak ada kesialan di bulan Safar. Ketetapan ini menjadi benteng akidah bagi umat Islam agar tidak terjerumus ke dalam khurafat dan takhayul yang dapat merusak kemurnian tauhid.
Pendakwah Persatuan Islam, Ustaz Ade Enjang menjelaskan, dalam poin pertama mengenai '
adwa atau perpindahan penyakit, hadis tersebut sebenarnya tidak menolak adanya hukum sebab-akibat dalam penularan penyakit. "Rasulullah sendiri mengingatkan dalam hadis lain agar kita melarikan diri dari orang yang terkena penyakit kusta sebagaimana lari dari kejaran singa lewat sabdanya. Beliau juga melarang pencampuran antara yang sakit dengan yang sehat melalui instruksi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
Prinsip dasar yang diajarkan di sini adalah bahwa penyakit dapat menular melalui perantara sebab yang Allah ciptakan, namun ia tidak memiliki kekuatan mandiri di luar kehendak-Nya. Seorang muslim diwajibkan mengambil langkah preventif atau ikhtiar, tetapi hatinya harus tetap berserah diri dan meyakini firman Allah dalam surat At-Taubah ayat lima puluh satu, قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا bahwa tidak akan menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan.
Selanjutnya, Islam juga menghapus konsep thiyarah, yaitu kebiasaan kuno menentukan nasib baik atau buruk berdasarkan arah terbang burung. Rasulullah mengecam keras praktik ini dengan bersabda hingga tiga kali الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ yang berarti thiyarah adalah syirik.
"Menggantungkan nasib kepada makhluk dinilai dapat merusak kesucian tauhid. Hal yang sama berlaku bagi mitos haamah, yang merujuk pada kepercayaan bahwa arwah korban pembunuhan akan menjelma menjadi burung hantu untuk menuntut balas, atau mitos bahwa burung malam tersebut merupakan pembawa kabar kematian," jelasnya.
Allah memotong takhayul tersebut lewat surat Al-A'raf ayat seratus tiga puluh dua dengan menegaskan, أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ bahwa sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan di sisi Allah, bukan karena pertanda dari makhluk tertentu.
Mengenai pelarangan atas mitos bulan Safar itu sendiri, para ulama memberikan dua interpretasi. Pertama, penolakan terhadap anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan penuh petaka sehingga muncul larangan adat untuk menikah atau bepergian.
Kedua, penolakan terhadap keyakinan adanya jenis penyakit perut tertentu yang dianggap membawa kesialan. Islam menepis kedua pemikiran destruktif tersebut, sebab Allah telah berfirman dalam surat At-Taghabun ayat 11 bahwa مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ yang berarti tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.
Berbeda dengan bulan Haram, yaitu bulan-bulan suci yang di dalamnya dilarang keras memulai peperangan serta melipatgandakan dosa bagi pelaku kezaliman, bulan Safar adalah bulan biasa yang harus disikapi dengan optimisme. Islam justru menuntun umatnya untuk senantiasa menyongsong setiap waktu dengan penuh harapan serta amal saleh.
"Jika menengok lembaran sejarah, bulan Safar justru bertabur peristiwa besar dan mulia. Pada bulan inilah Rasulullah melangsungkan pernikahan agung bersama Khadijah radiallahu anha," jelasnya.
Di bulan Safar pula, tepatnya pada tahun pertama Hijriyah, Nabi memulai perjalanan hijrah monumental menuju Madinah yang diabadikan dalam surat At-Taubah ayat empat puluh, sebagai pengingat akan pertolongan Allah yang nyata saat beliau bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq berada di dalam Gua Tsur.
Selain itu, pada bulan Safar tahun kedua Hijriyah, Nabi memimpin langsung ekspedisi militer pertamanya yang dikenal sebagai Perang Al-Abwa' atau Waddan guna menjaga stabilitas keamanan kaum muslimin. Meskipun pada akhir bulan Safar tahun kesebelas Hijriyah beliau mulai mengalami sakit menjelang wafatnya hingga beliau berdoa, اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى untuk memilih tempat di sisi Kekasih Yang Mahatinggi, momentum tersebut justru mempertegas kesempurnaan tugas risalah beliau di dunia.
"Sebagai intisari dan bahan perenungan bagi kita semua, bulan Safar memberikan pelajaran berharga bahwa seorang mukmin dilarang keras menggantungkan nasibnya pada perputaran waktu atau bulan tertentu. Segala garis takdir yang terjadi di alam semesta berjalan di atas ilmu dan kehendak mutlak Allah, sehingga memperbanyak tawakal adalah jalan keluar terbaik," ujar Ustaz Ade.
(zhd)