LANGIT7.ID-Langkah kaki Umar bin Khattab terhenti seketika di ambang pintu rumahnya ketika sang istri melontarkan sebuah usulan urusan domestik dengan nada menuntut.
Pada masa jahiliah, kaum laki-laki Quraisy tidak pernah memberikan ruang bagi perempuan untuk mencampuri urusan publik maupun keluarga.
Namun, dinamika di Madinah telah mengubah segalanya sejak Islam memberikan hak-hak hukum yang jelas bagi kaum perempuan.
Keberanian sang istri berargumen membuat Umar terkejut, terlebih ketika ia mengetahui fakta bahwa putrinya sendiri, Hafsah, bersama Aisyah, telah berani menentang dan mendebat keputusan Nabi Muhammad hingga membuat pemimpin tertinggi daulah Madinah itu gusar sepanjang hari.
Tanpa membuang waktu, Umar segera mengambil mantelnya, berjalan cepat membelah jalanan Madinah guna meluruskan konflik internal yang jika dibiarkan dapat berubah menjadi krisis politik yang mengancam stabilitas negara.
Krisis domestik di kediaman Nabi Muhammad bermula dari akumulasi kecemburuan sosial di antara para Ummul Mukminin atau ibu orang-orang beriman.
Dipicu oleh utusan Zainab binti Jahsy yang memprotes perlakuan yang dianggap kurang adil akibat besarnya cinta Nabi kepada bayinya, Ibrahim, yang lahir dari Maria, suasana rumah tangga mendadak memanas.
Hafsah dan Aisyah memimpin gerakan protes tersebut hingga membuat Nabi Muhammad tersinggung, lalu memutuskan untuk mengasingkan diri (ila) di sebuah kamar atas yang disebut masyrabah dan mengancam akan menceraikan seluruh istrinya.
Rumor perceraian massal ini segera menyebar luas di kalangan muslimin yang sedang berkumpul di dalam masjid, memicu kesedihan dan kecemasan kolektif yang mendalam karena urusan rumah tangga nabi selalu berkelindan dengan marwah daulah Islam.
Melihat situasi kritis tersebut, Umar bergerak secara personal. Ia terlebih dahulu menemui Hafsah untuk memberikan peringatan keras agar tidak teperdaya oleh kecantikan diri atau kedekatan emosional.
Umar juga mendatangi Ummu Salamah, kerabatnya, untuk membicarakan hal serupa, meskipun ia sempat mendapat teguran balik karena dianggap terlalu jauh mencampuri urusan privat Nabi Muhammad.
Ketegangan memuncak ketika seorang sahabat Ansar mengetuk pintu rumah Umar dengan panik, mengabarkan bahwa Nabi Muhammad telah meninggalkan semua istrinya akibat tekanan dari faksi Hafsah dan Aisyah.
Diplomasi UmarUmar segera bergegas menuju masyrabah, sebuah ruangan atas yang diakses melalui anak tangga dari batang kurma yang berlekuk-lekuk.
Di sana, seorang pelayan hitam bernama Rabah menjaga pintu masuk dengan ketat. Dua kali Umar meminta izin untuk menghadap, namun tidak mendapatkan jawaban dari dalam ruangan.
Pada permintaan ketiga, Umar menaikkan volume suaranya secara signifikan, memberikan jaminan loyalitas mutlak yang ekstrem: "Rabah, mintakan saya izin kepada Rasulullah. Saya kira dia sudah menduga kedatangan saya ini ada hubungannya dengan Hafsah. Sungguh, kalau dia menyuruh saya memenggal leher Hafsah, akan saya penggal lehernya."
Maklumat tegas ini dicatat secara ilmiah oleh Muhammad Husain Haekal dalam buku biografi monumental Al-Faruq Umar yang diterjemahkan oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh PT Pustaka Litera AntarNusa.
Mendengar pernyataan sang sahabat, Nabi Muhammad akhirnya memberikan izin masuk. Di dalam ruangan yang sunyi itu, Umar mulai menjalankan diplomasi persuasifnya guna mengurai benang kusut yang tengah terjadi.
Ia menceritakan kembali dialognya dengan Ummu Salamah yang sempat membuat Nabi tersenyum. Umar terus membangun argumen teologis untuk menghibur hati pemimpin tertinggi daulah, menegaskan bahwa jika perceraian harus terjadi, maka Allah, Jibril, Mikail, Abu Bakr, dan seluruh orang beriman akan tetap berdiri kokoh sebagai perisai di pihak Nabi.
Perlahan namun pasti, bayangan kemarahan di wajah Nabi Muhammad berangsur hilang hingga beliau tertawa, menandakan berakhirnya masa pengasingan diri yang berlangsung selama satu bulan penuh tersebut.
Turunnya LegitimasiSikap proaktif Umar yang sempat mendapat protes dari sebagian istri Nabi karena dianggap terlalu menceramahi wilayah domestik, akhirnya mendapatkan legitimasi hukum yang mutlak dari Allah Taala. Allah menurunkan wahyu penengah yang mengonfirmasi kebenaran arah pemikiran Umar melalui Surah At-Tahrim ayat 4-5:
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّعَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّArtinya:
Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, hatimu memang sudah cenderung; tetapi jika kamu saling membantu menentangnya, sungguh Allah Pelindungnya, juga Jibril dan orang yang saleh di antara orang-orang beriman—dan sesudah itu, para malaikat akan melindungi(nya). Kiranya Tuhannya, jika ia menceraikan kamu (semua), memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kamu.
Data tekstual ayat ini menggunakan diksi yang hampir serupa dengan kalimat peringatan yang sebelumnya dilontarkan Umar kepada para Ummul Mukminin.
Turunnya ayat ini memaksa faksi yang bertikai untuk melakukan tobat batin dan menyadari batas-batas etika dalam mendampingi seorang kepala negara sekaligus utusan langit.
Pasca-turunnya wahyu tersebut, tata tertib domestik kembali pulih, dan Nabi Muhammad kembali berkumpul bersama para istrinya yang telah bertobat dengan membawa kedamaian baru bagi seluruh Madinah.
Kestabilan Unit TerkecilKrisis rumah tangga di Madinah memberikan keteladan mendalam bahwa penataan sebuah negara besar harus dimulai dari kestabilan unit terkecil bernama keluarga, di mana komunikasi yang jujur dan intervensi yang terukur menjadi kunci penyelesaian konflik.
Umar bin Khattab lagi-lagi mempertontonkan kapasitasnya sebagai manajer krisis yang andal, yang tidak segan melompati sekat-sekat privasi demi menyelamatkan kehormatan institusi tertinggi negara.
Di era modern, saat urusan ranjang dan pertengkaran domestik para pejabat publik kerap dijadikan komoditas gosip murahan yang melumpuhkan kinerja pemerintahan, Umar justru mendatangi sumber masalah dengan membawa prinsip penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu.
Menuntut loyalitas mutlak dari rakyat sementara lingkaran ring satu di dalam istana masih sibuk bertengkar memperebutkan pengaruh dan perhatian laksana mengharapkan sebuah kapal perang tangguh dapat berlayar lurus, padahal para nakhoda di ruang kemudi sedang saling lempar piring akibat urusan pembagian jatah dapur yang belum selesai.
(mif)