LANGIT7.ID-Manusia lahir dari ketiadaan. Ayat pembuka surah Al-Insan mengingatkan, pernah datang masa ketika manusia bahkan belum patut disebut. Dari titik nol itu, hidup adalah nikmat pertama.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam buku
Wawasan Al-Qur’an (Mizan) menulis: para ulama mendefinisikan nikmat sebagai segala sesuatu yang melebihi modal dasar manusia. Namun, manusia tak memiliki modal apa pun. Segala yang ia miliki adalah anugerah. Bahkan kemampuan bernapas.
Al-Biqa’i, ulama tafsir abad ke-15, menunjukkan struktur unik Al-Qur’an: lima surat dibuka dengan al-hamdulillah, masing-masing merinci kelompok nikmat. Al-Fatihah sebagai inti—lalu empat surat yang menjelaskan cabang-cabang nikmat itu.
- Al-An’am berbicara tentang dunia: langit, bumi, potensi darat-laut-udara, terang dan gelap.
- Al-Kahf menyebut nikmat pemeliharaan, terutama turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk.
- Saba’ mengabarkan nikmat akhirat: hidup yang tidak lagi dicemari kefanaan.
- Fathir menggambarkan nikmat abadi setelah akhir zaman: malaikat dan jagat yang tunduk mengurus makhluk.
Rinciannya merentang panjang: hidup dan mati (QS Al-Baqarah 28), hidayah (QS Al-Baqarah 185), ampunan (QS Al-Baqarah 52), akal dan pancaindra (QS An-Nahl 78), rezeki (QS Al-Anfal 26), hingga fasilitas penopang peradaban seperti lautan dan perdagangan (QS An-Nahl 14). Kebebasan pun disebut nikmat besar—Bani Israil dibebaskan dari Fir’aun (QS Al-Maidah 20).
---
Para mufasir memandang Surah Ar-Rahman sebagai katalog nikmat. Pertanyaan retoris berulang 31 kali: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Sebuah teguran, tapi juga ajakan untuk berhitung dengan hati.
Analisis ulama mengelompokkan ayat-ayat itu menjadi 8 nikmat dunia, 7 ancaman neraka sebagai nikmat edukatif, 8 nikmat surga lapis pertama, dan 8 surga lapis kedua. Kesimpulannya: siapa mensyukuri nikmat dunia dengan benar akan dijauhkan dari tujuh pintu neraka, dan dapat memilih delapan pintu surga.
Azyumardi Azra dalam
Agama dan Moral Publik (2012), menyebut syukur sebagai daya sosial yang membebaskan masyarakat dari mental korban. Sementara Malik Badri dalam
Contemplation (2000) menilai syukur sebagai terapi jiwa: menambal lubang-lubang ketidakpuasan manusia modern.
Meski begitu, Al-Qur’an jujur: sedikit sekali hamba yang bersyukur. Kebanyakan baru berjanji setelah hampir tenggelam oleh badai, seperti dikisahkan QS Yunus 22 dan Al-An’am 63.
---
Syed Naquib al-Attas dalam
Islam and Secularism (1978) menyebut syukur sebagai inti adab: mengenal posisi pemberi nikmat dan penerima. Karena itu syukur tidak hanya ucapan alhamdulillah, tapi tindakan yang memuliakan karunia Tuhan.
Dalam perspektif itu, syukur bukan sekadar rasa senang atas rezeki atau kemenangan. Ia meliputi hidayah, ampunan, bahkan ancaman yang mendidik.
Syukur adalah kesadaran tentang keterbatasan manusia dan keluasan kasih Tuhannya.
Dan dari semua nikmat yang berlimpah, mungkin yang paling pantas disyukuri adalah kemampuan untuk menyadari nikmat itu sendiri.
(mif)