LANGIT7.ID-Di ruang yang hening, di tengah malam yang sunyi, seorang hamba bangkit dari tidur. Di bibirnya, lirih terdengar ucapan, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami.” Tak ada tepuk tangan, tak ada sorot kamera. Tapi di langit, mungkin para malaikat mencatatnya sebagai satu di antara sekian pujian yang mewarnai perjalanan hidup manusia.
Ucapan itu bukan rutinitas, bukan pula formalitas. Ia adalah kesadaran: bahwa hidup adalah pemberian, dan karena itu, harus disyukuri. Inilah yang hendak ditekankan oleh ayat pertama dari Surah Saba’, “Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan di bumi, dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat.” (QS Saba’ [34]:1). Syukur tak terikat waktu. Ia abadi—di dunia dan di akhirat.
Alhamdulillah di SurgaDi akhirat kelak, menurut Al-Qur’an (QS Al-A’raf [7]:43), mereka yang masuk surga tidak mengucap slogan, tidak juga menyombongkan amalan. Yang mereka ucapkan adalah syukur. “Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk kepada kami. Kami tidak memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.”
Syukur di surga adalah bukti bahwa pujian kepada Allah bukan hanya ritual duniawi. Ia adalah laku spiritual yang lintas alam, lintas dimensi. Bahkan di tempat sempurna seperti surga, manusia tetap mengucapkan *Alhamdulillah.*
Baca juga: Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab Di dunia, siang dan malam terus bergulir. Tapi bagi sebagian orang, pergantian waktu hanya artinya deadline, jam kerja, atau jadwal rapat. Padahal, Al-Qur’an menyebutnya sebagai ruang kontemplasi dan waktu bersyukur: “Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS Al-Furqan [25]:62)
Ayat ini menyelipkan sindiran halus: bahwa hanya sebagian manusia yang mengerti bahwa waktu bukan sekadar angka. Bagi yang sadar, setiap detik adalah kesempatan untuk berterima kasih. Yang tertidur di malam hari, bisa bersyukur ketika bangun. Yang hidup di siang hari, bisa bersyukur saat mentari masih menyala.
Dari Bangun Tidur Hingga TerlelapNabi Muhammad SAW adalah figur yang menjadikan syukur sebagai denyut hidup. Setiap bangun tidur, beliau memuji Allah. Saat mengenakan pakaian, selesai makan, menjelang tidur—Alhamdulillah tak lepas dari lisannya. Bahkan ketika menghadapi duka, yang terucap bukan keluh kesah, tapi pujian: “Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.”
Dalam
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab (Penerbit Mizan), tertulis dengan rinci bagaimana Nabi SAW selalu mengawali dan menutup aktivitasnya dengan pujian kepada Allah. Saat bangun tidur, beliau membaca:
“Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku mengingat-Nya.”
Saat mengenakan pakaian, beliau berdoa: “Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan (pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa kemampuan dan kekuatan (dari diriku).”
Baca juga: Mengapa Bersyukur Itu Berat: Sebuah Doa yang Tak Pernah Selesai Saat makan: “Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum dan menjadikan kami kaum Muslim.”
Doa-doa itu bukan sekadar hafalan, melainkan pancaran dari hati yang penuh kesadaran. Kesadaran bahwa tak ada satu pun nikmat—sekecil napas—yang tak patut disyukuri.
Syukur sebagai Cara HidupDalam dunia yang gemar mengeluh, ucapan Alhamdulillah bisa terdengar aneh, bahkan dianggap denial. Tapi dalam perspektif Al-Qur’an, syukur adalah sikap mental yang melampaui logika sesaat. Ia tidak menafikan masalah, tapi memberi jarak yang sehat antara kenyataan dan respon kita terhadapnya.
Quraish Shihab menulis, apabila seseorang membiasakan diri mengucapkan Alhamdulillah, maka jiwanya akan terus berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Bahkan di tengah derita, ia tetap merasa tidak sendiri. Dalam tafsirnya, beliau mengutip sebuah doa: “Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.”
Syukur adalah bentuk kepercayaan bahwa Tuhan tak pernah zalim. Bahwa segala sesuatu, bahkan yang pahit sekalipun, ada dalam kendali dan rencana-Nya. Dan bahwa kebahagiaan bukan soal jumlah nikmat, tapi soal seberapa sadar kita terhadapnya.
Pujian yang MenyelamatkanDalam surah Ar-Rum ayat 17-18, Allah memerintahkan agar manusia bertasbih dan bersyukur pada petang hari, waktu subuh, dan waktu zuhur. Tiga waktu yang menjadi poros hidup manusia: pagi saat memulai, siang saat berjuang, dan sore saat merenung. Di semua waktu itu, syukur harus hadir sebagai bingkai.
Baca juga: Syukur yang Lahir, Syukur yang Batin: Bukan Hanya dengan Lidah Tapi yang lebih penting, syukur bukan sekadar diucapkan. Ia harus dilatih. Ketika dilafalkan berulang-ulang, hati akan mulai merasakan hangatnya. Dan saat hati mulai mengenal nikmat, kesabaran tumbuh. Bahkan dalam derita, ia bisa tetap berkata: Alhamdulillah.
Dalam dunia yang terburu-buru, syukur adalah bentuk perlawanan. Ia mengajari manusia untuk jeda, untuk sadar, untuk menghargai. Seperti dikatakan Quraish Shihab, orang yang pandai bersyukur tak akan merasa sendiri. Karena dalam setiap ucapannya, ia sedang menyapa Tuhannya.
(mif)