LANGIT7.ID-, - Presiden AS
Donald Trump kembali menuai kritik tajam akibat pernyataan kasarnya di media sosial pada Ahad (5/4/2026). Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas
pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika
Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
"Buka selat itu sekarang juga, atau kalian akan hidup dalam neraka — lihat saja nanti!" tulis Trump.
Ia juga menambahkan kalimat, "
Praise be to Allah (
Segala puji bagi Allah)," yang dinilai sebagai ejekan.
Baca juga: Gara Gara Serang Iran, Penyesalan Pemilih Trump Kini Mulai Terasa, Popularitas Presiden dari Republik Ini Melorot TajamAncaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari kalangan
oposisi. Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut amukan Trump seperti orang tidak terkendali, apalagi di hari besar keagamaan.
"Selamat Paskah, Amerika. Saat masyarakat pergi ke gereja dan berkumpul dengan keluarga, Trump justru mengamuk di media sosial seperti orang yang tidak terkendali," ujarnya.
Schumer juga menilai bahwa pernyataan tersebut berpotensi mengarah pada pelanggaran hukum internasional serta merusak hubungan dengan sekutu.
Senator Demokrat lainnya, Chris Murphy, menyebut sikap Presiden sebagai "benar-benar tidak terkendali."
Ia bahkan menyinggung kemungkinan penggunaan Amandemen ke-25, yang memungkinkan pengalihan kekuasaan jika presiden dianggap tidak mampu menjalankan tugas.
Namun, tidak semua pihak menentang. Komentator konservatif Laura Loomer justru memuji sikap keras Trump.
"Ini yang saya pilih. Hancurkan para jihadis sampai ke akar," tulisnya di media sosial, seraya menyebut pernyataan Trump sebagai sesuatu yang "luar biasa."
Baca juga: Trump Meminta Anggaran Militer Bersejarah Sebesar Rp24.000 Triliun Kepada KongresPernyataan Presiden ini kembali meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ancaman terhadap Iran, khususnya terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global, berpotensi memperburuk situasi keamanan internasional.
Di sisi lain, perdebatan di dalam negeri Amerika Serikat juga semakin memanas, mencerminkan polarisasi tajam terkait kebijakan luar negeri dan gaya komunikasi Presiden. (Sumber: AFP).
(est)