Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home masjid detail berita

Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab

miftah yusufpati Kamis, 24 Juli 2025 - 05:45 WIB
Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab
Syukur adalah jalan menuju rendah hati. Jalan menuju keberanian untuk berbagi. Jalan menuju penerimaan pada ketetapan Tuhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ada satu ayat yang diulang 31 kali dalam sebuah surah Al-Qur’an. Bunyinya sama, nadanya tegas, sekaligus mengusik hati:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?” (QS Ar-Rahman)

Kalimat yang berulang-ulang itu membelah surah Ar-Rahman menjadi irama tanya yang menggugah. Bagi sebagian pembaca, itu seperti rapalan peringatan. Bagi yang lebih jernih melihatnya, ia terdengar sebagai undangan lembut untuk merenung.

Nikmat, itulah kata kunci dalam kisah panjang manusia di bumi. Dan jika manusia diminta menghitung, bahkan mendefinisikannya, niscaya ia akan terhenti di ujung penanya sendiri.

Baca juga: Mengapa Bersyukur Itu Berat: Sebuah Doa yang Tak Pernah Selesai

Nikmat di atas modal?

Bagi banyak orang modern, nikmat sering dipersempit: rumah yang luas, gaji yang besar, kesehatan yang prima. Tetapi para ulama memandang lebih dalam. Salah satunya berkata: nikmat adalah segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda.

Tapi adakah manusia benar-benar punya modal?

Al-Qur’an sudah mengingatkan: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS Al-Insan:1)

Dengan kata lain, bahkan hidup itu sendiri adalah anugerah. Nafas kita bukan milik kita. Mata, akal, rasa, semua hanyalah pinjaman yang tak pernah kita bayar lunas.

Dalam Nadzm ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar, Al-Biqa’i — seorang mufasir klasik — menjelaskan: ungkapan al-hamdulillah di surat Al-Fatihah mencakup seluruh nikmat Tuhan yang layak disyukuri. Empat surat lain — Al-An’am, Al-Kahfi, Saba’, dan Fathir — bahkan merinci nikmat itu menjadi empat bab besar: Nikmat wujud di dunia; nikmat pemeliharaan melalui wahyu; nikmat akhirat yang abadi; dan nikmat dari dimensi tak terlihat seperti peran para malaikat.

Baca juga: Syukur yang Lahir, Syukur yang Batin: Bukan Hanya dengan Lidah

Bukan Sekadar Ucapan

Tentu, syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Ia menuntut pengakuan jujur dari hati dan amal perbuatan yang menyenangkan Tuhan.

Prof Dr Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996) menyebut syukur sebagai sebuah cara pandang — sebuah keterampilan untuk melihat bahwa segala sesuatu adalah pemberian, bahkan yang tampak sebagai musibah.

Dan sungguh, daftar nikmat yang dikatalogkan Al-Qur’an memang panjang: kehidupan dan kematian (QS Al-Baqarah:28), petunjuk (QS Al-Baqarah:185), pengampunan (QS Al-Baqarah:52), pancaindra dan akal (QS An-Nahl:78), rezeki (QS Al-Anfal:26), sarana hidup seperti laut dan bumi (QS An-Nahl:14), bahkan kemerdekaan (QS Al-Maidah:20).

Bahkan ancaman neraka pun — kata para mufasir — bagian dari nikmat Tuhan. Sebab ia adalah peringatan, penjaga, sekaligus pendidikan. (Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab)

Baca juga: Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur

Surga, Neraka, dan Delapan Rumus Syukur

Menariknya, dalam surah Ar-Rahman yang mengulang tanya itu 31 kali, para ulama menemukan pola.

- 8 pertanyaan pertama: tentang nikmat dunia.
- 7 pertanyaan berikut: tentang ancaman neraka.
- 8 pertanyaan setelah itu: tentang nikmat surga pertama.
- 8 pertanyaan terakhir: tentang nikmat surga kedua.

Mereka pun menyusun semacam “rumus spiritual”: siapa yang bisa mensyukuri nikmat dunia yang digambarkan dalam 8 pertanyaan pertama, ia akan selamat dari 7 pintu neraka, dan berhak memilih di antara 8 pintu surga.

Rumus ini dipaparkan, antara lain, dalam *Wawasan Al-Qur’an* dan dikutip juga dalam pengantar tafsir surat Ar-Rahman dalam *Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an* karya Al-Qurthubi.

Tantangannya justru di sini: di zaman yang gemerlap, saat manusia mengira semua bisa dibeli atau diusahakan, syukur kehilangan makna. Orang memandang nikmat hanya sebagai angka-angka di rekening atau hasil kerja keras sendiri. Padahal, Al-Qur’an dengan tegas menyindir:

“Seandainya kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (QS Ibrahim:34)

Di sisi lain, sikap kufur — lupa diri dan lupa Tuhan — adalah penyakit lama yang menunda kesadaran manusia untuk bersyukur. Surah Ar-Rahman, dengan denting pertanyaan yang berulang itu, seolah menjadi terapi untuk menyadarkan yang lupa.

Baca juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ridha-Nya

Dari Ritual ke Kesadaran

Tafsir modern juga mengajak untuk memandang syukur bukan hanya sebagai ritual verbal atau ekspresi seremonial, melainkan cara hidup. Mensyukuri pancaindra dengan memanfaatkannya untuk kebaikan. Mensyukuri rezeki dengan berbagi. Mensyukuri kemerdekaan dengan memerdekakan orang lain dari ketakutan, kebodohan, dan penindasan.

Karena itu, syukur adalah jalan menuju rendah hati. Jalan menuju keberanian untuk berbagi. Jalan menuju penerimaan pada ketetapan Tuhan.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?”

Tanya yang diulang 31 kali itu tidak pernah benar-benar dijawab oleh manusia. Barangkali karena memang tak terjawab. Nikmat Tuhan terlalu banyak, terlalu luas, terlalu dalam.

Yang bisa kita lakukan hanya mencoba menjawabnya dengan tindakan. Dan, kadang-kadang, dengan diam penuh rasa takzim.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan