Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Mencari Akhlak di Antara Tuhan dan Tumbuhan Menurut Quraish Shihab

miftah yusufpati Rabu, 30 Juli 2025 - 04:15 WIB
Mencari Akhlak di Antara Tuhan dan Tumbuhan Menurut Quraish Shihab
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Etika adalah tentang kelakuan. Akhlak, lebih dalam dari itu. Ia menyentuh ruang terdalam dari iman, pikiran, dan hati nurani, dari relasi manusia dengan Tuhan hingga dengan batu yang tak bersuara.

Pada suatu malam di Makassar, Quraish Shihab kecil pernah ditegur oleh ayahnya karena menendang batu. “Mengapa kamu menyakiti sesuatu yang tidak bisa membalas?” katanya.

Bagi sebagian orang, itu mungkin berlebihan. Tapi bagi sang ayah, ulama besar yang disiplin dalam mendidik akhlak, itu adalah pelajaran awal tentang hubungan manusia dengan makhluk selain manusia.

Bertahun-tahun kemudian, dalam bukunya "Wawasan Al-Qur’an", Quraish Shihab menulis satu bab panjang tentang akhlak. Di sana ia membedakan secara tajam antara etika dan akhlak dalam perspektif Islam.

Etika, kata Shihab, kerap dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia. Akhlak dalam Islam jauh lebih luas. Ia tidak hanya mengatur yang tampak, tapi juga yang tersembunyi: niat, keyakinan, bahkan relasi metafisis manusia dengan Tuhan dan semesta.

"Akhlak bukanlah soal baik dan buruk menurut masyarakat, tapi kebaikan dan keburukan menurut Allah," tulis Quraish Shihab. Dari sini, batas antara moralitas sosial dan kesalehan spiritual menjadi kabur. Dalam Islam, menyakiti binatang tanpa sebab sama jahatnya dengan menolak menyapa tetangga. Mematahkan ranting sembarangan bisa setara dengan meremehkan doa.

Baca juga: Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab

Tuhan sebagai Wakil, Manusia sebagai Khalifah

Dalam sistem nilai Islam, relasi utama akhlak dimulai dari relasi manusia dengan Tuhan. Kesadaran tauhid—bahwa tidak ada Tuhan selain Allah—menjadi titik pangkal dari seluruh struktur moral. Maka, menurut Shihab, manusia tidak bisa membatasi akhlak hanya pada perilaku terhadap sesama. Ia harus dimulai dari kesadaran penuh akan keagungan, kesucian, dan kemahasempurnaan Allah Swt.

Bahkan malaikat pun, tulis Quraish Shihab, tidak sanggup memuji Allah secara sempurna. “Kami tidak mampu memuji-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu,” kata para malaikat dalam riwayat tafsir.

Itulah sebabnya mengapa seluruh makhluk—guntur, angin, pohon, bahkan batu—senantiasa bertasbih menyucikan-Nya. Sebelum memuji Tuhan, mereka terlebih dahulu menyucikan-Nya, seakan khawatir bahwa pujian mereka tidak cukup agung bagi-Nya.

Karena itu, akhlak terhadap Allah bukan hanya tunduk dan patuh, tapi juga memahami posisi diri sebagai makhluk yang serba terbatas. Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang mengajarkan agar manusia menjadikan Allah sebagai “wakil”—bukan sekadar pelindung, tetapi tempat menggantungkan seluruh harapan. Menariknya, kata “wakil” di sini tidak berarti pasrah total dalam arti malas. Justru tawakal—menjadikan Allah sebagai wakil—selalu didahului dengan perintah berikhtiar.

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, condonglah kamu juga, dan bertawakallah kepada Allah,” demikian firman-Nya dalam QS Al-Anfal: 61. Bertindak dulu, baru berserah.

Baca juga: Merumuskan Syarat Sah Pernikahan Menurut Tafsir Quraish Shihab

Akhlak: Menyentuh yang Tak Terlihat

Etika Barat umumnya membatasi moralitas pada hubungan antarindividu atau masyarakat. Bahkan dalam teori Kantian pun, etika didasarkan pada rasionalitas dan kehendak bebas. Tapi dalam Islam, akhlak bukan hanya perintah rasional, tapi juga transenden. Dalam narasi-narasi tafsir, bahkan kata-kata pun dipilih dengan hati-hati agar tidak menyandarkan sesuatu yang buruk kepada Tuhan.

Nabi Ibrahim, ketika berbicara tentang penyakit, berkata: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” Bukan “Dia yang membuatku sakit.” Karena sakit adalah sesuatu yang negatif, dan tidak layak disandarkan langsung kepada Tuhan—sekalipun, dari sisi teologis, segala sesuatu memang berasal dari-Nya.

Begitu pula dalam kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Ketika Khidir membocorkan perahu, ia berkata, “Aku ingin merusaknya.” Tapi ketika ia membangun dinding, ia berkata, “Tuhanmu menghendaki.” Kalimat negatif disandarkan pada diri sendiri. Kalimat positif dikembalikan kepada Tuhan. Di sinilah letak akhlak tingkat tinggi: dalam pilihan diksi, dalam niat tersembunyi, dalam kepatutan bahasa.

Baca juga: Quraish Shihab dan Dewan Syariah CIMB Niaga Kompak Mundur, Transisi Unit Syariah Dimulai?

Dari Allah ke Daun-daun Kecil

Dalam Islam, akhlak tidak berhenti di Tuhan. Ia mengalir ke seluruh ciptaan-Nya. Dari manusia ke hewan, dari hewan ke tumbuhan, dari tumbuhan ke benda mati. Bahkan batu pun punya hak tak tersurat untuk tidak ditendang sembarangan.

Inilah akhlak yang bersifat holistik—bukan sekadar "baik" menurut norma masyarakat, tetapi baik karena sesuai dengan kehendak Allah. Di zaman di mana manusia kian menjadikan moralitas sebagai alat tawar-menawar, Islam mengajarkan akhlak sebagai bentuk ibadah. Kita tidak sopan kepada orang tua karena mereka tua, tapi karena Allah memerintahkannya. Kita tidak boleh menebang pohon sembarangan bukan karena alasan ekologi semata, tapi karena Islam mengajarkan adab terhadap makhluk.

Dalam dunia yang semakin relativistik, di mana batas antara baik dan buruk kabur oleh opini dan algoritma, ajaran akhlak Islam menawarkan sebuah jalan: jalan kesadaran penuh akan posisi manusia di hadapan Tuhan dan semesta.

Maka, saat Anda memungut sampah di jalan, itu bukan hanya sopan santun. Itu bisa jadi bagian dari ibadah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)