LANGIT7.ID- Di sudut-sudut pengajian hingga ruang kelas akademik, stigma terhadap kaum hawa sering kali bermula dari tafsir usang mengenai kejadian di surga. Hawa kerap digambarkan sebagai kelemahan Adam, sosok yang tak tahan godaan dan akhirnya menyeret sang nabi ke dalam kubangan dosa. Konsekuensinya, narasi ini sering digunakan untuk membenarkan penempatan wanita dalam posisi inferior, seolah mereka adalah sumber malapetaka dan pembawa sial. Benarkah demikian? Ataukah kita sedang membaca sejarah melalui kacamata yang salah, terpengaruh oleh cerita-cerita yang bukan berasal dari sumber-sumber otentik Islam?
Syaikh Yusuf Qardhawi, ulama terkemuka yang dikenal dengan manhaj wasathiyah-nya, menawarkan pembacaan yang segar dan mencerahkan dalam bukunya "Fatwa-fatwa Kontemporer" yang diterbitkan oleh Gema Insani Press. Dengan tegas, Qardhawi menegaskan bahwa dalam Islam, tidak dikenal konsep dosa asal yang dibebankan secara eksklusif kepada wanita. Pandangan yang menuding Hawa sebagai penyebab tunggal terusirnya Adam dari surga adalah tafsiran yang tidak islami. Ia menyebutnya sebagai produk taklid buta terhadap narasi yang bersumber dari kitab-kitab sebelum Al-Quran, yang telah mengalami banyak distorsi sejarah dan kerap menjadi referensi para pemikir non-Muslim.
Untuk meluruskan pemahaman ini, Qardhawi merujuk pada beberapa dalil Al-Quran dan hadis. Pertama, dalam Surat Al-Baqarah ayat 35, titah ilahi untuk menjauhi pohon tersebut ditujukan secara duet: "Dan Kami berfirman, 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang zalim.'" Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa larangan itu berlaku untuk Adam dan Hawa, menyiratkan tanggung jawab yang setara di mata Allah. Tidak ada indikasi bahwa Adam adalah pemimpin yang tak tergoyahkan dan Hawa adalah pembangkang yang lemah.
Kedua, Al-Quran secara eksplisit menunjuk setan sebagai provokator tunggal di balik insiden tersebut. Dalam Surat Al-Araf ayat 20, disebutkan, "Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup bagi mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'" Setan bahkan bersumpah palsu untuk meyakinkan mereka. Ini mengindikasikan bahwa baik Adam maupun Hawa sama-sama menjadi korban tipu daya setan, bukan salah satu dari mereka yang merayu yang lain.
Yang menarik, Qardhawi menyoroti Surat Thaha ayat 115-121, di mana fokus pertanggungjawaban justru diletakkan di pundak Adam. Ayat tersebut menyatakan: "...dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesalah ia." Al-Quran tidak menyebutkan Hawa merayu Adam. Sebaliknya, Qardhawi menginterpretasikan bahwa Hawa justru mengikuti Adam dalam pelanggaran tersebut. Adam, sebagai sosok yang diberikan peringatan awal, dianggap kehilangan kemauan kuat (azm) saat menghadapi godaan setan. Hal ini juga diperkuat dengan hadis sahih tentang pertemuan gaib antara Nabi Musa dan Nabi Adam, di mana Musa mencela Adam atas kesalahannya, bukan Hawa. Argumentasi Adam sangat telak: segala yang terjadi adalah ketentuan Allah yang telah tertulis dalam Lauh Al-Mahfuzh bahkan sebelum ia diciptakan.
Fakta ini memberikan dua pukulan telak bagi penganut misogini religius. Pertama, klaim bahwa Hawa adalah otak di balik pelanggaran tersebut terbukti tidak memiliki sandaran kuat dalam tradisi kenabian yang murni dan teks Al-Quran. Kedua, peristiwa pengusiran itu bukanlah kecelakaan sejarah akibat rayuan perempuan, melainkan sebuah transisi menuju pelaksanaan tugas kekhalifahan di bumi, sebuah peran mulia yang telah ditetapkan Allah sebelum penciptaan Adam (Surat Al-Baqarah ayat 30-33). Manusia memang diciptakan untuk hidup dan memakmurkan bumi, dan peristiwa di surga hanyalah bagian dari takdir ilahi untuk mengantar Adam dan keturunannya ke tempat seharusnya.
Qardhawi juga mengajak kita menengok karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, "Miftahu Daaris Saadah," untuk memahami hakikat surga tersebut. Para ulama berselisih apakah itu surga abadi di akhirat atau sebuah kebun (jannah) di dunia. Apapun tafsirnya, satu hal yang pasti: Al-Quran mencatat bahwa setelah melakukan kesalahan, baik Adam maupun Hawa segera bertobat secara kolektif. "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi," demikian pengakuan mereka dalam Surat Al-Araf ayat 23. Ini menunjukkan kesadaran kolektif atas kesalahan dan permohonan ampun yang sama-sama tulus dari keduanya.
Dengan demikian, menyudutkan Hawa sebagai biang kerok penderitaan anak cucu Adam di dunia adalah bentuk pengabaian terhadap teks suci dan semangat Islam yang memuliakan wanita. Qardhawi menekankan bahwa perbedaan pendapat mengenai peranan Hawa ini sering kali dipicu oleh masuknya infiltrasi pemikiran luar ke dalam literatur Islam. Islam datang justru untuk mengangkat martabat wanita, memposisikannya sebagai mitra sejajar dalam memikul beban taklif, dan bukan sebagai kambing hitam sejarah peradaban. Pemahaman yang benar akan kisah Adam dan Hawa dalam Al-Quran penting untuk membangun masyarakat yang adil dan menghargai peran setiap individu, tanpa memandang gender, sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
