LANGIT7.ID-Sejarah kemanusiaan di bumi tidak dibuka dengan tinta emas kedamaian, melainkan dengan tumpahan darah persaudaraan. Di sebuah masa ketika dunia masih begitu lengang, sebuah tragedi besar meletus, bukan karena perebutan wilayah atau takhta, melainkan karena gejolak di dalam rongga dada seorang manusia bernama Qabil. Tragedi ini menjadi monumen peringatan abadi tentang daya rusak sebuah sifat nista bernama hasad.
Dalam literatur klasik al-Furqan min Qashashil Quran karya Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Aziz, ditekankan bahwa kisah-kisah Al-Quran hadir bukan untuk sekadar dibaca, melainkan untuk dibedah maknanya sebagai ibrah.
Hasad, secara terminologi ulama, didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang menginginkan kenikmatan yang ada pada orang lain berpindah kepada dirinya sendiri. Ia adalah api yang memakan kayu bakar kebajikan.
Akar dari petaka ini sebenarnya jauh lebih tua dari usia manusia di bumi. Hasad adalah dosa pertama yang dilakukan iblis terhadap Nabi Adam Alaihissalam. Tatkala Allah Azza wa Jalla memerintahkan para malaikat dan iblis untuk bersujud sebagai penghormatan kepada Adam, iblis membangkang. Bukan karena ia tidak tahu itu perintah Tuhan, melainkan karena hatinya terbakar oleh karunia yang dianugerahkan kepada Adam. Hasad mendorong iblis melakukan makar abadi untuk menyesatkan keturunan Adam hingga kiamat.
Estafet kebencian itu kemudian berpindah kepada Qabil. Kisahnya diabadikan dalam surat al-Maidah ayat 27, saat ia dan saudaranya, Habil, mempersembahkan kurban ke hadirat Allah. Habil, dengan ketulusan dan takwa, memberikan yang terbaik. Sementara Qabil, dengan hati yang keruh, memberikan ala kadarnya. Hasilnya, kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil ditolak.
Di sinilah hasad mengambil alih kendali akal sehat. Alih-alih melakukan introspeksi diri atas kegagalan ibadahnya, Qabil justru memendam iri yang akut kepada Habil. Mata hatinya buta. Baginya, keberhasilan Habil adalah ancaman bagi eksistensinya. Ia merasa terhina oleh takwa saudaranya sendiri. Kebencian itu memuncak pada sebuah ancaman yang mengerikan: Aku pasti membunuhmu!
Habil, dengan ketenangan seorang mukmin, menjawab:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَSesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Maidah: 27).
Namun, nasihat itu tak mempan bagi jiwa yang sudah terinfeksi hasad. Qabil akhirnya mengeksekusi niat jahatnya. Habil tersungkur, dan bumi untuk pertama kalinya mengecap darah manusia. Namun, apa yang didapatkan Qabil setelah nafsunya terpuaskan? Bukan ketenangan, melainkan kerugian yang bertumpuk-tumpuk.
Ia menjadi orang yang paling merugi karena termakan bujuk rayu setan. Penyesalannya datang terlambat, saat ia melihat seekor burung gagak menggali tanah untuk mengubur bangkai temannya, sebuah pelajaran adab yang bahkan seorang manusia pembunuh pun tak memilikinya saat itu.
Dampak dari hasad ini bersifat sistemik dan melintasi zaman. Sifat inilah yang menjadi motor penggerak bagi kaum Yahudi dan Nasrani dalam usaha mereka memerangi kaum Muslimin. Hasad pula yang mendorong saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam membuang sang adik ke dalam sumur gelap. Ia adalah benih bagi setiap perpecahan dan kezaliman.
Interpretasi atas kisah Qabil mengajarkan kita bahwa hasad adalah penyakit yang mematikan logika dan empati. Seseorang yang memelihara hasad sebenarnya sedang memprotes pembagian karunia yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Ia tersiksa oleh kebahagiaan orang lain dan merasa puas di atas penderitaan sesama.
Melalui kisah tragis di padang kurban itu, kita diingatkan untuk senantiasa memohon perlindungan agar hati tidak menjadi sarang bagi dengki yang merusak, sebab akhir dari hasad hanyalah kehampaan dan kerugian yang nyata, baik di dunia maupun di akhirat.
(mif)