LANGIT7.ID-Kematian adalah sebuah kepastian yang sering kali datang tanpa mengetuk pintu. Namun, dalam lembaran tarikh yang diwariskan melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, maut pernah hadir dalam rupa yang sangat dialogis, bahkan konfrontatif. Di sana ada Nabi Adam yang menawar waktu dan Nabi Musa yang memberikan perlawanan fisik. Kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah narasi teologis tentang hakikat manusia: tempatnya alpa dan kerasnya kemauan.
Mari kita tengok fragmen pertama di awal penciptaan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dikisahkan bagaimana Allah mengusap punggung Adam. Dari sana, seluruh calon keturunan manusia hingga kiamat diperlihatkan. Adam terpesona pada satu sosok yang matanya bersinar terang. Itulah Daud. Namun, Adam terperanjat saat mengetahui umur Daud hanya dijatah enam puluh tahun.
Dengan kedermawanan seorang ayah, Adam meminta Allah mengurangi umurnya sendiri sebanyak empat puluh tahun untuk diberikan kepada Daud. Kesepakatan itu tercatat di alam malakut. Namun, ribuan tahun kemudian, saat Malaikat Maut datang mengetuk pintu hidup Adam, sang bapak manusia itu bergeming. Ia mendebat sang pencabut nyawa. "Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun lagi?" tanyanya.
Malaikat Maut mengingatkan tentang hibah umur untuk Daud. Namun, Adam tetap mengingkarinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam naskah yang disunting Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari menjelaskan fenomena ini dengan lugas: Adam mengingkari janjinya, maka anak keturunannya pun sama suka ingkar. Adam lupa, maka anak keturunannya pun meniru.
Ini adalah interpretasi yang mendalam tentang asal-usul sifat lupa dan ingkar pada manusia. Dalam pandangan ulama, insiden ini menunjukkan bahwa secara fitrah, manusia memiliki kecintaan terhadap hidup dan terkadang terjebak dalam ruang lupa terhadap komitmen yang pernah dibuatnya sendiri.
Fragmen kedua lebih dramatis. Kali ini lakonnya adalah Musa Alaihissalam. Jika Adam memilih jalan debat, Musa memilih aksi fisik. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dikisahkan Malaikat Maut mendatangi Musa dan berkata, Penuhi panggilan Rabbmu. Musa, yang dikenal memiliki watak keras dan tegas, justru melayangkan pukulan telak hingga mata sang malaikat terlepas.
Malaikat itu kembali kepada Allah dan mengadu, Engkau telah mengutus hamba kepada seseorang yang belum ingin meninggal. Kejadian ini sering disalahpahami oleh kaum rasionalis yang meragukan kesahihan hadis tersebut. Namun, dalam literatur IslamHouse yang merujuk pada karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, dijelaskan bahwa Musa melakukan itu karena malaikat datang dalam wujud manusia biasa yang asing, bukan dalam rupa aslinya. Musa melindungi dirinya dari orang asing yang masuk tanpa izin dan bicara soal kematian.
Allah kemudian mengembalikan mata sang malaikat dan memberikan pilihan kepada Musa: letakkan tangan di atas punggung sapi jantan. Setiap helai bulu yang tertutup tangan berarti tambahan umur satu tahun. Sebuah tawaran yang bisa membuat siapa pun tergiur untuk hidup ribuan tahun lagi. Namun, pertanyaan Musa berikutnya sangat filosofis: Setelah itu apa?
Malaikat menjawab singkat: Setelah itu kamu mati.
Musa kemudian memilih untuk pulang ke pangkuan Sang Pencipta saat itu juga. Bahkan sekarang, katanya. Ia hanya meminta satu permohonan terakhir: didekatkan ke tanah suci. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan koordinat spiritual mengenai lokasi ini:
Wallahi lau anni indahu la-araitukum qabrahu ila janibith thariqi indal katsibil ahmar. Artinya: Demi Allah, kalau sekiranya saya berada di sisinya, tentu akan saya beritahu kalian kuburannya yang berada di sisi jalan di tumpukan bukit berpasir yang berwarna merah.
Dua kisah ini memberikan sudut pandang berbeda mengenai cara manusia memandang garis finis kehidupan. Adam mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis dengan ingatannya, sementara Musa mengajarkan bahwa umur panjang tanpa ujung hanyalah penundaan terhadap pertemuan yang pasti. Pada akhirnya, kedua nabi tersebut menunjukkan bahwa maut bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sekadar pintu yang harus dilalui, baik dengan sengketa angka maupun dengan kesiapan batin yang paripurna.
(mif)