Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Benarkah Nabi Khidhir Mengabaikan Perjanjian Menolong Rasulullah?

miftah yusufpati Kamis, 16 April 2026 - 05:20 WIB
Benarkah Nabi Khidhir Mengabaikan Perjanjian Menolong Rasulullah?
Khidhir tidak memiliki satu pun nash shahih yang mengecualikannya dari kematian. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Diskusi mengenai eksistensi Nabi Khidhir alaihissallam sering kali terjebak dalam romantisme mistis yang mengabaikan struktur hukum syariat. Dalam bilik-bilik diskusi teologi, sebuah pertanyaan besar menyeruak: jika Khidhir memang masih hidup dan mengembara di muka bumi, mengapa ia tidak muncul di Madinah untuk membela Muhammad shallallahu alaihi wa sallam? Pertanyaan ini bukan sekadar skeptisisme sejarah, melainkan sebuah gugatan fundamental terhadap loyalitas kenabian.

Naskah yang diulas oleh para pakar, termasuk Syaikh Athiyah Salim dalam catatan kritisnya terhadap pendapat Imam al-Qurthubi, menyoroti adanya Mitsaqan Nabiyyin atau perjanjian para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil sumpah setia dari setiap utusan-Nya untuk mengimani dan menolong rasul yang datang kemudian. Hal ini termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 81:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.

Logika syar'i yang dibangun sangat tajam: jika Musa alaihissallam yang memiliki kedudukan tinggi sebagai Kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah) saja dinyatakan wajib mengikuti Muhammad seandainya ia masih hidup, maka Khidhir tidak memiliki alasan untuk absen. Kehadiran Khidhir di samping Muhammad seharusnya menjadi magnet luar biasa bagi Ahli Kitab untuk memeluk Islam. Namun, sejarah tidak mencatat adanya sosok berpostur nabi Bani Israil yang bergabung dalam barisan Perang Badar maupun Uhud.

Persoalan fisik juga menjadi sorotan. Sebagai nabi dari kalangan Bani Israil, Khidhir seharusnya memiliki anatomi jasad yang serupa dengan nabi-nabi terdahulu seperti Danial. Abu Imran Aljuni dalam riwayatnya menyebutkan ukuran fisik nabi masa itu yang jauh melampaui rata-rata manusia modern. Namun, mereka yang mengklaim bertemu Khidhir di masa kini tidak pernah menunjukkan bukti otentik mengenai ukuran jasad yang sesuai dengan atsar nabi zaman dulu.

Perdebatan ini memuncak pada bantahan terhadap Imam al-Qurthubi yang mencoba mengecualikan Khidhir dari hukum kematian umum manusia. Al-Qurthubi berargumen bahwa Khidhir adalah pengecualian (takhshish), serupa dengan Nabi Isa yang diangkat ke langit atau Dajjal dalam hadis Al-Jassasah. Namun, Syaikh Athiyah Salim mematahkan argumen ini dengan pisau analisis Ushul Fiqh. Dalam kaidah hukum, kata "basyar" (manusia) dalam ayat "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu" adalah isim nakirah dalam konteks nafi, yang bermakna generalitas mutlak.

Pengecualian hanya bisa diterima jika ada nash atau dalil eksplisit. Nabi Isa dikecualikan karena adanya Surat an-Nisa ayat 158:

بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.

Begitu pula Dajjal yang memiliki sandaran hadis shahih. Sementara itu, Khidhir tidak memiliki satu pun nash shahih yang mengecualikannya dari kematian. Pengakuan pertemuan atau mimpi tidak bisa menggugurkan keumuman ayat Al-Quran. Oleh karena itu, pendapat mayoritas ulama (Jumhur) tetap kokoh pada kesimpulan bahwa Khidhir telah wafat. Menganggapnya masih hidup tanpa dalil kuat justru akan merusak tatanan logika mitsaq (perjanjian) kenabian yang mengharuskan setiap nabi menjadi pembela bagi risalah pamungkas Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)