Jika Musa saja wajib tunduk pada risalah Muhammad, bagaimana mungkin Khidhir mangkir dari panggilan jihad di Madinah? Sebuah bedah ushul fiqh tentang batas umur dan perjanjian para nabi.
Misteri keberadaan Nabi Khidhir terus membelah opini publik dan pakar teologi. Antara klaim pertemuan mistis dan ketegasan dalil naqli, benarkah sang pengajar Musa itu telah berpulang?
Misteri keberadaan Nabi Khidir terus memicu perdebatan panjang. Di balik narasi mistis tentang keabadian, Al-Quran menegaskan ketetapan hukum kematian bagi setiap manusia tanpa terkecuali.
Klaim sebagai manusia paling berilmu membawa Nabi Musa pada perjalanan paradoks bersama Khidir. Sebuah gugatan terhadap batas logika manusia dan pengakuan akan samudera ilmu Tuhan yang tak bertepi.
Di tengah maraknya kisah mistis tentang Khidir, Qardhawi mengajak umat kembali ke disiplin sanad, nalar sejarah, dan batas-batas wahyu. Antara folklore sufi dan kajian kritis, sosok misterius itu ditimbang ulang.
Kisah antara Musa dan seorang hamba istimewa dalam Al-Quran memuat pelajaran yang tak terjangkau akal biasa. Hingga kini, ia tetap jadi teka-teki yang memikat.
Di mimbar-mimbar ia dipuji sebagai wali agung yang masih hidup hingga hari ini, terus berkelana sebagai penjaga rahasia Tuhan. Di warung kopi, kisah-kisah penampakannya menyelusup sebagai cerita rakyat yang ajaib.
Kontroversi seputar keberadaan Nabi Khidir hingga kini masih diperdebatkan. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi membantah kepercayaan bahwa Al-Khidir masih hidup, dengan merujuk pada Al-Quran, Hadits, dan pendapat ulama terkemuka. Menurutnya, kisah-kisah pertemuan dengan Al-Khidir hanyalah dongeng yang tidak memiliki dasar kuat dalam Islam.
Salah satu Nabi yang dianggap masih hidup hingga hari ini adalah Nabi Khidir Alaihissalam. Dalam sebagian kepercayaan tasawuf, Nabi yang memberikan pembelajaran pada Nabi Musa ini, sering disebut-sebut masih hidup dan menemui orang-orang alim. Benarkah demikian?