Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home masjid detail berita

Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan

miftah yusufpati Ahad, 13 Juli 2025 - 05:45 WIB
Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan
Dalam mencari ilmu, adab lebih utama daripada rasa ingin tahu. Bahwa kesabaran kadang lebih penting daripada jawaban. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Kisah antara Nabi Musa dan seorang hamba istimewa dalam Al-Qur’an memuat pelajaran yang tak terjangkau akal biasa. Hingga kini, ia tetap jadi teka-teki yang memikat.

Sebuah batu, sepotong ikan, dan perjalanan tanpa kompas menandai langkah Nabi Musa menuju sebuah pertemuan agung. Di balik narasi yang tercatat dalam surat Al-Kahfi ayat 60 hingga 82, tersimpan salah satu kisah paling misterius dalam Al-Qur’an: pertemuannya dengan seorang hamba pilihan, Khidir.

Semua bermula dari sebuah pertanyaan. Suatu hari, Musa berdiri di tengah Bani Israil. Ia ditanya, “Siapakah orang paling berilmu?” Tanpa ragu, ia menjawab, “Aku.” Namun jawaban itu justru menuai teguran langsung dari Allah. “Sesungguhnya, di sisi-Ku ada seorang hamba di pertemuan dua lautan, yang lebih berilmu daripada kamu.”

Maka dimulailah perjalanan itu. Musa tidak menolak ditegur. Ia malah menyambutnya sebagai tantangan keilmuan. Allah memberikan isyarat: bawalah seekor ikan di dalam keranjang. Bila ikan itu hilang, di sanalah Musa akan menemukan sang hamba.

Baca juga: Jejak Misterius Nabi Khidir: Nabi, Wali, atau Sekadar Dongeng?

Musa tak sendiri. Ia ditemani muridnya, Yusya' bin Nun. Perjalanan berlangsung tanpa kejelasan arah, hingga keduanya sampai di sebuah batu besar. Di tempat itulah, ikan mereka melompat keluar dan mengambil jalannya ke laut — *bi hayrin ‘ajib* — dengan cara yang sangat aneh. Yusya menyaksikannya, namun lupa menceritakan peristiwa itu. Setan, kata dia, telah membuatnya lupa.

Mereka berjalan lebih jauh, sampai Musa merasa letih. “Bawalah kemari makanan kita. Sesungguhnya, kita telah merasa letih karena perjalanan ini,” katanya (QS Al-Kahfi: 62). Barulah Yusya’ teringat, dan menceritakan insiden ajaib di batu sebelumnya. “Ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” Musa segera tersadar: di sanalah titik temu yang dijanjikan.

Keduanya pun kembali menyusuri jejak hingga tiba di tempat itu. Di sana, duduklah seseorang yang tak dikenali. Seorang hamba, tenang dan bersimpuh. Musa menyapa dan memperkenalkan diri. "Aku Musa." Sang hamba bertanya, "Musa, pemimpin Bani Israil?" Musa membenarkan. Ia menyampaikan maksudnya: ingin berguru.

Baca juga: Ketika Kaum Sufi Anggap Nabi Khidir Masih Hidup Hingga Kini

Tapi si hamba, yang diyakini bernama Khidir, berkata:

قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا

"Sesungguhnya, kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku." (QS Al-Kahfi: 67)

Khidir tak bermaksud menyombongkan diri. Ia hanya mengingatkan: ilmu yang ia miliki bukanlah pengetahuan biasa. “Aku punya ilmu dari Allah yang engkau tidak tahu. Engkau pun memiliki ilmu yang tidak aku tahu.”

Musa tak menyerah. “Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar.” Maka mereka sepakat. Musa hanya boleh mengikuti, tanpa bertanya — sampai Khidir sendiri memberi penjelasan (QS Al-Kahfi: 70).

Tiga kejadian pun terjadi. Pertama, Khidir melubangi perahu nelayan. Kedua, ia membunuh seorang anak kecil. Ketiga, ia membangun ulang dinding rumah milik anak yatim tanpa meminta imbalan. Tiga tindakan yang tak masuk akal — bahkan menyakitkan di mata Musa.

Baca juga: Nabi Khidir Diklaim Masih Hidup, Benarkah Demikian?

Tiga kali pula Musa bertanya. Dan pada pertanyaan ketiga, Khidir menegaskan:

قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

"Inilah perpisahan antara aku dan kamu. Kelak, akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."* (QS Al-Kahfi: 78)

Penjelasannya mengubah segalanya. Perahu itu ia lubangi agar tak dirampas raja zalim. Anak kecil itu akan tumbuh menjadi pendurhaka yang membuat orang tuanya celaka. Dan dinding rumah itu melindungi harta anak yatim — amanah dari dua orang tua yang saleh.

Khidir tak melanggar hukum. Ia melampaui pengetahuan syariat Musa — karena ilmunya bukan dari logika, tapi dari wahyu ilahi. Musa pun tak sanggup bersabar.

Nabi atau Orang Saleh?

Dalam literatur tafsir dan hadis, para ulama berbeda pendapat soal siapa sebenarnya Khidir. Apakah ia seorang nabi? Ataukah hanya wali Allah yang memiliki karamah istimewa?

Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa

Mayoritas ulama menyebut Khidir sebagai nabi. Alasannya sederhana: bahkan Musa, seorang rasul ulul azmi, rela berguru padanya. Tak mungkin Musa berguru kepada seorang yang bukan nabi, kata mereka.

Khidir sendiri adalah nama julukan. Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا سُمِّيَ الخَضِرَ أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ، فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاءَ

"Beliau dinamai Khidir karena beliau duduk di atas tanah putih, tiba-tiba berguncang di belakang beliau berwarna hijau."* (HR. Bukhari, Turmudzi, Ibnu Hibban)

Maknanya: tempat yang gersang pun hidup bila disentuh keberkahannya.

Namun sebagian ulama sufi meyakini Khidir masih hidup sampai hari ini. Ada yang mengklaim pernah bertemu, bahkan menerima petuah darinya. Tapi banyak pula ulama yang skeptis. "Jika benar beliau masih hidup," kata mereka, "mengapa tidak muncul di masa Nabi Muhammad ﷺ? Mengapa tidak menjadi sahabat dan membantu perjuangan Islam?"

Sampai kini, misteri itu belum selesai. Yang terang, Khidir bukan tokoh biasa. Ia adalah simbol dari ilmu yang tidak bisa diselami oleh logika. Ia hadir dalam ayat-ayat yang membuat kita rendah hati, bahwa tak semua hal bisa dijawab oleh akal, bahkan oleh seorang Nabi Musa sekalipun.

Baca juga: Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun

Di ujung kisah, ada pelajaran mendalam. Bahwa dalam mencari ilmu, adab lebih utama daripada rasa ingin tahu. Bahwa kesabaran kadang lebih penting daripada jawaban.

Dan bahwa ilmu Allah — selalu lebih luas dari yang bisa kita bayangkan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)