LANGIT7.ID-Tersebutlah di sebuah lembah yang kering dan berdebu di tanah
Bani Israil, sebuah kisah lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah tentang darah, warisan, dan seekor sapi betina yang sinarnya seperti emas.
Cerita ini bermula dari seorang pedagang kaya bernama Syam’un. Hartanya melimpah, ladang-ladang miliknya luas, tapi hidupnya hanya sendirian tanpa ahli waris kecuali seorang sepupu miskin bernama Uhaihah. Di balik wajahnya yang tampak teduh, Uhaihah menyimpan dengki yang mengeras jadi niat buruk: membunuh Syam’un demi warisan.
Pada suatu malam, Uhaihah membunuh sepupunya. Mayat Syam’un lalu diseret ke tepi kota, dilempar begitu saja. Di pagi hari, mayat itu ditemukan pasangan suami-istri, Yahuda dan istrinya. “Dia Syam’un, pedagang kaya yang tinggal di kota,” kata Yahuda. Mereka pun melaporkan kepada Uhaihah.
Di depan umum, Uhaihah berpura-pura meratap. Ia menuduh pembunuhan dilakukan oleh orang-orang kota sebelah. Warga pun tersulut. Dua kota yang bertetangga itu bersiap saling menyerbu. Saat suasana nyaris pecah, seorang kakek renta muncul di tengah-tengah kerumunan. Suaranya lirih tapi tegas, “Jangan biarkan setan menunggangi amarah kalian. Laporkan perkara ini pada
Nabi Musa. Bukankah beliau ada di tengah kita?”
Baca juga: Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun Orang-orang pun menemui Nabi Musa, yang tertegun melihat perkara yang pelik ini. Ia lalu masuk ke kemahnya, berdoa. Setelah itu ia keluar membawa jawaban: Sembelihlah seekor sapi.
Warga tersentak.
“Apakah engkau sedang mempermainkan kami?”
“Aku berlindung kepada Allah dari berlaku bodoh,” jawab Musa. (QS. Al-Baqarah:67)
Perintah itu, rupanya, tak sesederhana kedengarannya. Nabi Musa menyebutkan ciri-ciri sapi yang harus mereka cari: betina, tak terlalu tua dan tak terlalu muda, tak cacat, belum pernah dipakai membajak, dan warnanya kuning keemasan, memantulkan sinar seolah menyala.
Orang-orang Bani Israil pun mulai mencari. Di sebuah hutan, seekor sapi dengan persis ciri itu ternyata ada—tapi tak dimiliki sembarang orang. Sapi itu milik seorang pemuda miskin yang dikenal sangat berbakti pada ibunya. Pemuda itu adalah anak seorang lelaki saleh yang dulu menitipkan anak sapi ke hutan dengan doa: “Ya Allah, titipkanlah untuk anakku.”
Anak itu setiap hari mengumpulkan kayu bakar, membaginya menjadi tiga: untuk makan, untuk sedekah, untuk ibunya. Ia menemukannya kembali di hutan dengan doa yang diajarkan ibunya, “Demi Rabb Ibrahim, Ismail, dan Ishaq…” Dan sapi itu datang mendekat, seolah memahami panggilan.
Baca juga: Kisah Nabi Musa Memukul Malaikat Maut Sampai Terlepas Matanya Ketika dibawa pulang, sang ibu menyuruhnya menjual di pasar seharga tiga dinar. Di pasar, seorang pembeli misterius (yang ternyata adalah malaikat) menawar hingga dua belas dinar, tetapi sang anak bersikeras tak akan menjual tanpa izin ibunya.
Malaikat akhirnya berkata, “Sapi ini jangan dijual pada siapa pun. Tahanlah. Nabi Musa sendiri akan membelinya untuk mengungkap pembunuhan ini. Dan harganya: emas seberat kulit sapi ini.”
Warga Bani Israil pun tak punya pilihan selain membelinya. Emas seberat tubuh sapi itu dibayarkan kepada pemuda itu. Sapi disembelih. Lalu, sebagaimana perintah Musa, sebagian tubuh sapi dipukulkan pada jasad Syam’un.
Mayat itu pun bangkit. Darah masih mengalir di lehernya. Dengan suara serak ia menunjuk ke arah Uhaihah: *“Dia yang membunuhku.”*
Lalu ia roboh kembali, mati untuk kedua kalinya. Warga pun terpana. Warisan itu pun tak pernah jatuh ke tangan Uhaihah. Dan emas seberat seekor sapi itu menjadi balasan bagi anak yang berbakti kepada ibunya.
Baca juga: Kisah Nabi Musa Mandi di Kali Menyembunyikan Auratnya Kisah ini tetap abadi bukan hanya karena dramanya yang menegangkan, tapi juga pesan moralnya yang tak lekang: bahwa dosa dan keserakahan hanya menghasilkan kehinaan. Dan bahwa bakti seorang anak pada ibunya bisa membawa keberkahan yang tak disangka-sangka.
Dan seekor sapi betina berwarna emas itu, hingga kini tetap hidup sebagai simbol—dalam Kitab, dalam ingatan umat manusia—tentang bagaimana kebenaran akhirnya selalu menemukan jalannya.
(mif)