Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Ilusi Kekuatan di Balik Jimat: Benarkan Kekuatannya dari Allah?

miftah yusufpati Sabtu, 04 April 2026 - 04:28 WIB
Ilusi Kekuatan di Balik Jimat: Benarkan Kekuatannya dari Allah?
Kesaktian jimat adalah sebuah jebakan ideologis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah arus modernitas, praktik penggunaan jimat masih menjadi fenomena yang menggurita di berbagai lapisan masyarakat. Para pendukungnya sering kali berlindung di balik retorika religius: bahwa kekuatan yang tersimpan dalam benda-benda tersebut murni pemberian Allah Subhanahu wa Taala. Namun, penelusuran mendalam terhadap akidah yang lurus justru menunjukkan bahwa klaim tersebut hanyalah bangunan ilusi yang rapuh, sebuah kedustaan yang dialamatkan kepada Sang Pencipta.

Secara fisik, jimat—baik berupa rajah, batu, maupun benda lainnya—adalah benda mati yang tidak memiliki daya apa pun. Kesaktian yang diklaim melekat pada benda tersebut hanyalah khayalan yang dipelihara oleh keyakinan yang menyimpang. Jika pun pada kenyataannya sebuah jimat tampak memiliki "tenaga", sumbernya bukanlah keberkahan dari Allah, melainkan campur tangan setan. Para pembuat jimat sering kali melakukan ritual peribadatan kepada jin sebagai bentuk timbal balik agar benda tersebut "berisi".

Persoalan ini menjadi semakin pelik ketika para praktisi jimat berargumen bahwa segala kekuatan di alam semesta, termasuk dalam jimat, adalah atas kehendak Allah. Di sinilah letak kerancuan berpikir yang perlu dibedah secara kritis. Dalam diskursus akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, terdapat perbedaan fundamental antara kehendak takdir (Iradah Kauniyah) dan kehendak syariat (Iradah Syariyyah).

Allah memang maha berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi. Namun, terjadinya sesuatu secara takdir tidak serta-merta menunjukkan bahwa Allah mencintai atau meridai perbuatan tersebut. Allah melarang sihir, namun secara takdir, sihir bisa saja menimpa manusia, bahkan pernah menimpa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ujian dan hikmah. Begitu pula dengan jimat; meski secara takdir ia mungkin menunjukkan "efek" tertentu, secara syariat Allah telah melarangnya melalui lisan Rasul-Nya.

Prinsip ini berlandaskan pada dalil-dalil syari yang sangat gamblang. Allah berfirman dalam Surah al-Anam ayat 39:

مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Barang siapa yang dikehendaki Allah dalam kesesatan, niscaya akan disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi di bawah kendali kehendak-Nya. Namun, di sisi lain, Allah juga berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 205:

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Dan Allah tidak mencintai kerusakan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa ayat pertama menunjukkan cakupan takdir yang pasti terjadi, sedangkan ayat kedua menunjukkan adanya hal-hal yang dibenci Allah meski hal itu terjadi atas izin-Nya secara takdir. Hubungan prinsip ini dengan klaim jimat sangat jelas: andaikata jimat memang mempunyai kekuatan, hal itu tidak membuktikan bahwa Allah meridai pemakaiannya.

Menyamakan takdir dengan rida adalah kekeliruan fatal yang sering digunakan untuk melegalkan kemungkaran. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah al-Aqidah al-Wasithiyyah menekankan bahwa seorang muslim wajib membedakan antara apa yang Allah takdirkan terjadi dengan apa yang Allah perintahkan untuk dilakukan. Menggunakan jimat dengan alasan "kekuatannya dari Allah" sama saja dengan seseorang yang melakukan pencurian lalu berdalih bahwa tangannya bergerak atas kehendak Allah.

Interpretasi ini membawa kita pada kesimpulan bahwa kesaktian jimat adalah sebuah jebakan ideologis. Ia menawarkan perlindungan semu yang justru menjauhkan manusia dari perlindungan sejati. Dengan bersandar pada benda mati, seorang hamba telah menukarkan kemuliaan tauhid dengan kehinaan syirik. Memahami bahwa Allah terkadang menakdirkan terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai adalah kunci untuk mematahkan argumen para penjaja jimat. Pada akhirnya, keselamatan hanya ada pada ketaatan terhadap syariat, bukan pada eksploitasi takdir demi pembenaran khurafat.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)