LANGIT7.ID-Di sudut-sudut pasar gelap spiritual hingga obrolan warung kopi yang kental dengan mistisisme, sebuah nama sering dicatut untuk melegalkan ketergantungan pada benda mati: Nabi Sulaiman Alaihissalam. Bagi para pemburu karamah instan, cincin sang raja dianggap sebagai prototipe jimat paling sahih dalam sejarah manusia. Sebuah benda yang konon mampu menundukkan jin dan mengendalikan angin. Namun, benarkah sang Nabi memerlukan sekerat logam untuk menjalankan mandat kenabiannya?
Pertanyaan ini mungkin terdengar menggelitik bagi mereka yang sudah mencecap jernihnya akidah tauhid. Namun, bagi masyarakat yang masih terbelenggu pola pikir paganisme modern, narasi "cincin sakti" adalah pelarian logis. Mereka melakukan analogi atau qiyas yang dipaksakan: jika Nabi Sulaiman punya cincin dan Nabi Musa punya tongkat sebagai media kekuatan, maka jimat di dompet atau sabuk pun dianggap sah sebagai perantara (wasilah).
Sejarah penafsiran kitab suci memang sering kali menjadi medan tempur antara kemurnian akidah dan infiltrasi dongeng kuno. Penelusuran terhadap literatur tafsir klasik mengungkap adanya alur cerita yang ganjil.
Alkisah, seorang setan berhasil mencuri cincin Sulaiman, menyamar menjadi sang nabi, hingga menduduki takhta dan menggagahi para istri nabi. Narasi ini menyebutkan bahwa tanpa cincin itu, Sulaiman kehilangan daya, berubah bentuk, dan terusir dari kerajaannya sendiri.
Vonis Batil Para UlamaCelakanya, fondasi argumen ini dibangun di atas pasir yang rapuh. Kisah "cincin yang dicuri setan" tersebut ternyata telah lama divonis cacat oleh para pakar hadis dan sejarawan Islam. Para ulama otoritatif menolak keras alur ini karena mengandung kebatilan yang nyata secara teologis.
Ibnu Hazm dengan tegas menyebut kisah ini sebagai khurafat, sebuah kedustaan yang rantai penularannya (isnad) sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Senada dengan itu, Al-Qadhi Iyad menegaskan batilnya kisah tersebut karena bertentangan dengan kemaksuman (ishmah) para nabi. Bagaimana mungkin seorang utusan Allah bisa kehilangan otoritas kenabiannya hanya karena sepotong benda, atau lebih buruk lagi, membiarkan setan memanipulasi rumah tangganya?
Analisis mendalam menunjukkan bahwa sumber utama kisah ini adalah Israiliyyat—dongeng-dongeng yang menyusup dari tradisi Bani Israil. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa narasi ini mengandung banyak kemungkaran yang tidak layak disematkan kepada seorang Nabi.
Abu Hayyan dalam kitab Al-Bahr al-Muhith bahkan lebih keras lagi; ia menyebutkan bahwa kisah ini tidak halal untuk dinukil karena bersumber dari karangan kaum zindiq yang bertujuan merusak citra para rasul.
Hakikat Ujian dalam Surah ShadLantas, bagaimana kita memahami firman Allah dalam Surah Shad ayat 34?
وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَArtinya: "
Sungguh Kami telah menguji Sulaiman dan kami letakkan sebuah jasad di atas singgasananya. Kemudian dia bertaubat." (QS. Shad: 34).
Jika narasi cincin sakti itu gugur secara sanad dan logika, para ulama menoleh pada rujukan yang lebih sahih. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tafsir yang paling akurat atas "ujian" tersebut merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Bukan soal jimat atau sihir, melainkan soal kelalaian lisan dalam bersandar pada kehendak Tuhan.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menceritakan bahwa Sulaiman pernah bertekad untuk menggilir sembilan puluh istrinya dalam satu malam agar masing-masing melahirkan ksatria jihad. Namun, ia lupa mengucapkan "Insya Allah" meskipun telah diingatkan oleh malaikat.
Hasilnya, hanya satu istri yang mengandung, dan bayi yang dilahirkan pun hanya berupa "setengah manusia" (syiqqu rajul). Inilah jasad yang diletakkan di atas singgasananya sebagai bentuk teguran langsung dari Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ سُلَيْمَانُ: لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى تِسْعِينَ امْرَأَةً... فَلَمْ يَقُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُDari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Sulaiman berkata: 'Malam ini aku akan berkeliling pada sembilan puluh istriku...' namun ia tidak mengucapkan Insya Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Pelajaran Akidah: Memerdekakan Manusia dari Benda MatiPerbedaan antara dongeng cincin dan hadis sahih ini laksana bumi dan langit. Hadis tersebut mengajarkan tentang ketauhidan—bahwa sehebat apa pun rencana seorang nabi, keberhasilannya tetap bergantung pada izin Allah, bukan pada benda sakti. Kesimpulan ini sekaligus meruntuhkan syubhat para pengguna jimat yang sering mencatut nama Sulaiman untuk melegalkan praktik paganisme modern.
Ketergantungan pada benda mati seperti jimat justru merupakan bentuk pengkhianatan terhadap esensi tauhid. Islam datang untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada materi menuju penghambaan kepada Pencipta materi. Menyamakan tongkat Musa atau cincin Sulaiman dengan jimat adalah sebuah sesat pikir yang fatal. Tongkat Musa adalah mukjizat, sebuah kejadian luar biasa yang Allah ciptakan sebagai bukti kenabian, bukan benda yang secara mandiri memiliki "isi" kekuatan yang bisa diwariskan.
Mengikuti jejak pemikiran Al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani, kita diingatkan bahwa memurnikan kisah nabi dari unsur Israiliyat yang korup adalah bagian dari menjaga agama. Nabi Sulaiman adalah hamba Allah yang paling bersyukur, dan kekuatannya bersumber langsung dari Rabb semesta alam, bukan dari lingkaran logam di jarinya. Menjaga kemurnian akidah berarti berani membedakan mana wahyu yang suci dan mana dongeng Bani Israil yang menyesatkan.
(mif)