LANGIT7.ID-Aroma gurih santan, kunyit, dan berbagai macam sayuran menyeruak dari sebuah kuali besi berukuran raksasa di pelataran sebuah masjid di Kalimantan Selatan. Sejak pagi buta pada hari Jumat, 10 Muharam, puluhan ibu sibuk mengaduk adonan beras yang perlahan mengental. Di sudut lain, para pria paruh baya menyiapkan mangkuk-mangkuk plastik untuk membagikan hidangan tersebut kepada para tetangga.
Pemandangan ini akrab dikenal sebagai tradisi pembuatan bubur Asyura. Ritual tahunan ini jamak ditemui di berbagai daerah di Indonesia setiap memasuki bulan Muharam. Di balik keriuhan gotong royong warga, mangkuk-mangkuk bubur tersebut membawa beban narasi sejarah yang panjang. Narasi ini bercampur aduk antara memori duka, kearifan lokal, dan tumpukan mitos yang tidak memiliki jangkar sahih dalam literatur keagamaan Islam.
Konstruksi kepercayaan masyarakat seputar Hari Asyura memang menyerupai pasar malam teologis. Berbagai legenda instan tumbuh subur di benak sebagian umat Islam. Mulai dari klaim bahwa 10 Muharam adalah hari penciptaan Nabi Adam, hari kelahiran Nabi Ibrahim, hingga keyakinan bahwa hari kiamat pasti akan jatuh pada tanggal tersebut.
Bahkan, muncul mitos medis lokal yang menyatakan bahwa siapa saja yang mandi besar pada hari Asyura akan kebal dari serangan penyakit selama setahun penuh. Namun, jika dilacak menggunakan metodologi kritik hadis, seluruh rangkaian cerita dramatis tersebut runtuh karena tidak memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sengkarut mitos ini semakin keruh oleh warisan rivalitas politik masa lalu antara kaum Syiah dan kelompok Nashibah yang membenci keluarga Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Taimiyah dalam kitab
Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah mencatat bahwa kelompok Nashibah sengaja memproduksi riwayat-riwayat palsu untuk melawan tradisi duka kaum Syiah. Salah satunya adalah anjuran memakai celak mata, mandi besar, dan menghidangkan makanan mewah secara berlebihan pada hari Asyura sebagai simbol kegembiraan.
Sebaliknya, Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya oleh Al-Harb al-Karmani mengenai hadis kelonggaran nafkah keluarga di hari Asyura secara tegas menjawab bahwa riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang terpercaya. Para imam mazhab tidak pernah mengajarkan ritual kosmetik semacam itu.
Politisasi KalenderBagi penganut Syiah, kesucian 10 Muharam terkunci rapat pada peristiwa pembantaian Husain bin Ali di Padang Karbala oleh tentara pimpinan Ubaidillah bin Ziyad. Kematian tragis cucu Nabi Muhammad ini diperingati dengan ritual duka yang ekstrem, mulai dari meratapi diri, memukul dada, hingga melukai punggung dengan senjata tajam.
Di sisi lain, muslim Sunni memandang klaim kesucian Asyura tidak boleh disangkutpautkan dengan kematian Husain. Secara kronologis, keutamaan Asyura dan syariat puasa sunah di hari tersebut sudah ditetapkan oleh Nabi Muhammad jauh sebelum Husain lahir ke dunia. Gugurnya Husain sebagai syahid di Karbala merupakan sebuah kehormatan yang kebetulan bertepatan dengan hari mulia tersebut.
Muslim Sunni memandang ekspresi duka ekstrem kaum Syiah bertentangan dengan prinsip dasar hukum Islam. Nabi Muhammad secara eksplisit melarang umatnya meratapi kematian seseorang dengan cara merusak diri, karena hal itu merupakan manifestasi dari tradisi jahiliah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Nabi Muhammad bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِArtinya: "
Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan berteriak-teriak (menangis) seperti teriakan orang-orang pada zaman jahiliyah."
Anggapan keliru lainnya yang masih tersisa di masyarakat adalah mitos bahwa Muharam merupakan bulan pembawa sial dan tidak membawa keberuntungan akibat adanya peristiwa pembunuhan di Karbala. Dampaknya, sebagian masyarakat memilih menunda pelaksanaan pernikahan atau agenda besar lainnya selama bulan ini. Sikap takhayul ini jelas menjauhkan umat dari esensi Muharam sebagai salah satu bulan yang disucikan oleh Allah untuk memperbanyak amal kebajikan, bukan untuk memelihara ketakutan tak berdasar.
Antusiasme yang KeliruKembali ke urusan isi mangkuk bubur Asyura, muasal tradisi ini kerap dikaitkan dengan epos besar kedatangan kapal Nabi Nuh setelah air bah surut. Dalam kitab
I'anah al-Thalibin, dikisahkan bahwa Nabi Nuh memerintahkan umatnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang ada di dalam kapal, kemudian mengaduknya menjadi adonan bubur untuk disedekahkan kepada semua orang yang kelaparan.
Peneliti kebudayaan Alfani Daud dalam buku Islam dan Masyarakat Banjar menjelaskan bahwa bubur ini terbuat dari campuran beras, santan, dan berbagai sayur-sayuran sebagai simbol bertahannya hidup di masa krisis.
Sementara itu, orientalis Snouck Hurgronje dalam studinya mengenai kehidupan sehari-hari di Makkah justru melihat ada keterkaitan antara tradisi hidangan khusus ini dengan ingatan kolektif atas krisis logistik yang menimpa rombongan Husain di Karbala sebelum mereka dibantai.
Secara normatif, asal-usul historis bubur Asyura ini memang tidak populer di kalangan ahli hadis. Keberadaannya murni lahir dari proses akulturasi budaya setempat. Dalam konteks kearifan lokal, perayaan ini memiliki nilai moral yang positif sebagai perekat sosial dan sarana bersedekah antarwarga. Namun, praktik ini menjadi bermasalah ketika dibumbui oleh keyakinan teologis baru yang menganggapnya sebagai bagian dari syariat agama yang wajib ditunaikan.
Tragedi kebudayaan yang sesungguhnya terjadi ketika antusiasme masyarakat untuk mengaduk kuali bubur Asyura justru menggeser ibadah yang memiliki dalil kuat dari Nabi Muhammad. Sungguh ironis melihat sebuah kampung yang begitu riuh bergotong royong menyiapkan hidangan sedekah dari mitos sisa logistik kapal Nabi Nuh, namun sebagian besar warganya justru melewatkan puasa sunah Asyura yang jelas-jelas dijanjikan dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu.
(mif)