LANGIT7.ID-Aroma rempah dan kepulan asap dari kuali-kuali besar tercium di selasar sejumlah masjid di pesisir nusantara setiap kali tanggal 10 Muharam tiba. Masyarakat sibuk mengaduk bubur syura, sebuah hidangan komunal yang diyakini sebagai simbol keselamatan dan rasa syukur.
Namun, ribuan kilometer dari tempat itu, pada hari yang sama, ratapan massal melengking di jalan-jalan kota Karbala, Irak. Ribuan orang berbaju hitam menangis sembari memukul dada, meratapi darah yang tumpah dari leher Husain bin Ali lebih dari 1400 tahun silam.
Satu hari dalam kalender penanggalan Islam, namun dirayakan dengan dua wajah psikologis yang berlawanan secara diametral. Realitas ini menunjukkan bahwa Asyura bukan sekadar urusan penanggalan, melainkan sebuah ruang temu yang rumit antara tafsir doktrin, fakta historis, dan ekspresi antropologis.
Bagi umat Islam, hari kesepuluh pada bulan Muharam ini memang menyimpan memori kolektif yang berlapis. Polarisasi cara pandang ini membagi ingatan umat menjadi dua kutub besar.
Kalangan Syiah menempatkan Asyura sebagai puncak duka cita atas tragedi pembantaian cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, bersama keluarganya dalam peristiwa Karbala pada tahun 61 Hijriah atau 680 Masehi. Sementara itu, di dalam tradisi Sunni, Asyura dibaca melalui tiga kacamata sekaligus, yakni teks hadis atau doktrin, kronik historis, dan praktik budaya masyarakat.
Tatanan teologis normatif mengenai anjuran berpuasa pada hari tersebut merujuk pada beberapa korpus hadis sahih. Landasan normatif ini terekam jelas dalam sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai keutamaan puasa Asyura:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُArtinya:
Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.
Antara Sunah Medinah dan Tragedi KarbalaDalam perspektif doktrin Sunni, ritus puasa 10 Muharam berkelindan erat dengan memori penyelamatan teologis masa lalu. Ketika Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, beliau mendapati komunitas Yahudi setempat sedang berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa dan runtuhnya dinasti Firaun di Laut Merah.
Merasa kaum Muslimin lebih berhak atas memori Nabi Musa, Nabi Muhammad kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa, dengan anjuran menambah puasa pada tanggal 9 Muharam atau Tasu'a guna membedakan identitas ritual mereka.
Namun, pembacaan doktrinal ini kerap berbenturan dengan memori historis yang traumatis bagi sebagian umat yang lain. Cendekiawan Islam internasional, Profesor Akbar S. Ahmed, dalam studinya
Islam Today: A Short Introduction (I.B. Tauris, 1999), menjelaskan bahwa peristiwa Karbala telah mengubah lanskap sosiologi politik Islam secara permanen.
Kematian Husain bukan sekadar tragedi keluarga nabi, melainkan simbol perlawanan terhadap kezaliman penguasa Bani Umayyah kala itu. Bagi kalangan Syiah, merayakan Asyura dengan kegembiraan atau sekadar menganggapnya sebagai hari puasa biasa dirasa kurang peka terhadap luka sejarah yang mendalam tersebut.
Sebaliknya, tradisi historiografi Sunni menolak reduksi bulan Muharam hanya sebagai bulan ratapan dan kematian. Sejarawan Ibn Kathir dalam kitab
Al-Bidayah wa an-Nihayah menegaskan bahwa Islam tidak mensyariatkan ritual berkabung yang destruktif seperti melukai diri sendiri.
Perspektif historis Sunni mendudukkan wafatnya Husain sebagai kesyahidan yang mulia, namun tidak boleh mengaburkan fungsi Muharam sebagai salah satu dari empat bulan suci yang diisi dengan peningkatan amal kebajikan dan rasa syukur.
Akulturasi BudayaDi luar perdebatan teologis yang kaku, Asyura dalam lanskap antropologis justru tampil dalam wujud yang sangat cair dan bervariasi di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, memori Asyura mengalami proses domestikasi budaya yang unik. Di Sumatera Barat, muncul festival Tabuik yang merefleksikan prosesi simbolis pemakaman Husain, sementara di Jawa dan Sulawesi Timur ditandai dengan pembuatan bubur syura yang dibagikan kepada tetangga sebagai simbol perekat sosial.
Guru besar antropologi Islam, Profesor Robert Redfield, dalam analisis struktur budaya melalui bukunya
Peasant Society and Culture (University of Chicago Press, 1956), membedakan adanya tradisi besar (
great tradition) yang bersumber dari teks suci formal dan tradisi kecil (
little tradition) yang hidup di level masyarakat adat.
Tradisi bubur syura atau festival budaya lokal merupakan bentuk tradisi kecil yang lahir dari memori kolektif masyarakat jelata. Mereka merayakan keselamatan dan keberkahan hidup, meskipun validitas argumen historis yang mengaitkan bubur tersebut dengan kapal Nabi Nuh sering kali masih menjadi bahan perdebatan akademik yang panjang di kalangan ahli hadis.
Tantangan dakwah pencerahan hari ini adalah bagaimana mendudukkan lapisan-lapisan pemahaman Asyura ini secara proporsional. Dai dan pemikir kontemporer dituntut mampu mengurai benang kusut antara fanatisme mazhab yang memicu konflik domestik dengan apresiasi terhadap warisan budaya lokal yang sarat nilai gotong royong. Asyura tidak boleh lagi sekadar menjadi panggung tahunan untuk memproduksi kebencian teologis antarkelompok.
Membaca Asyura dari berbagai perspektif pada akhirnya melatih kedewasaan berpikir umat untuk melihat agama dalam wujudnya yang multidimensional. Hari kesepuluh Muharam ini membuktikan bahwa sebuah teks keagamaan akan selalu berinteraksi dengan dinamika politik zaman dan realitas sosial budaya tempat ia tumbuh.
Sisi satir dari dinamika tahunan ini menyisakan sebuah refleksi yang tajam: di saat para elite teolog di mimbar-mimbar kota sibuk berdebat sengit memperebutkan apakah hari itu harus diisi dengan tawa syukur atau tangis duka, masyarakat kecil di akar rumput justru telah selesai dengan perbedaan itu.
Mereka memilih merayakan Asyura dengan cara yang paling praktis sekaligus manusiawi: duduk bersama mengitari kuali, melupakan sejenak sekat sekte, lalu membagikan bubur hangat kepada tetangga yang kelaparan, membuktikan bahwa rasa kemanusiaan terkadang jauh lebih cepat memahami esensi keselamatan daripada nalar doktrin yang gemar mengadili.
(mif)