Perayaan Hari Asyura di Indonesia terjebak di antara pelestarian kearifan lokal berupa pembagian bubur dan serbuan mitos instan yang tidak memiliki hulu sanad yang sahih.
Tragedi pembantaian Husain bin Ali di Padang Karbala menjadi hulu ledak sejarah yang mengubah Hari Asyura menjadi simbol perlawanan spiritual sekaligus pembelah teologis umat Islam hingga hari ini.
Awalnya menjadi kewajiban mutlak sebelum Ramadhan turun, puasa Asyura menyimpan sejarah panjang tentang penegasan identitas teologis umat Islam di tengah komunitas Yahudi Medinah.
Umat Islam memasuki tahun baru Hijriah melalui gerbang Muharram. Sebuah bulan suci kuno yang dipertahankan Islam untuk menegakkan disiplin spiritual dan meredam syahwat konflik manusia.
Perbedaan cara pandang terhadap 10 Muharam membelah ingatan umat Islam secara diametral. Sebuah pelacakan kritis terhadap teks hadis, memori sejarah, dan ritus akulturasi budaya.
Dari keutamaan puasa hingga praktik ritual yang dipertanyakan, hari Asyura menjadi ruang tarik-menarik antara warisan keimanan dan budaya turun-temurun.
Nabi Yunus dihukum karena marah dan meninggalkan kaumnya. Dalam gelap lautan, gelap malam, dan gelap perut ikan, ia belajar bahwa pengampunan Allah lebih besar daripada rasa kecewa manusia.
Pakaian serba hitam membanjiri jalanan. Genderang duka ditabuh bertalu-talu, mengiringi arak-arakan unta berhiaskan kain berwarna-warni. Di tengah hiruk pikuk kota Teheran, suara ratapan menggema bersahut-sahutan.