Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 05 Mei 2026
home masjid detail berita

Menelusuri Jejak Sufisme dalam Sastra dan Budaya Dunia

miftah yusufpati Selasa, 05 Mei 2026 - 05:00 WIB
Menelusuri Jejak Sufisme dalam Sastra dan Budaya Dunia
Membatasi Sufisme hanya pada satu kelompok atau satu zaman adalah sebuah bentuk penyederhanaan yang keliru. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam upaya mengkaji gagasan-gagasan sufistik, seseorang yang baru menapakkan kaki di dunia spiritual kerap dihadapkan pada sebuah persoalan mendasar. Persoalan tersebut adalah pengulangan teori-teori yang tidak terbukti secara empiris yang terus-menerus disebarluaskan oleh para pakar atau spesialis yang minim objektivitas. Teori-teori ini pada akhirnya diakui seolah-olah sebagai sebuah fakta sejarah yang mutlak. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pencarian kebenaran spiritual di era modern.

Kajian mengenai Sufisme, pada hakikatnya, tidak bisa hanya dilakukan melalui pendekatan tekstual semata. Sebagaimana dijelaskan oleh Idries Shah dalam karya Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat, kajian kesufian pada dasarnya disampaikan melalui metode-metode langsung, bahasa tubuh, simbol, dan peragaan. Ketika elemen-elemen langsung ini hilang dan peneliti hanya bergantung pada buku-buku atau naskah literal, mereka akan berada di bawah kendali para penulis yang mengembangkan teori-teori subyektif yang sering kali membelokkan esensi ajaran tersebut.

Para pengkaji yang kurang memahami dimensi esoteris ini sering kali mengklaim bahwa Sufisme lahir sebagai bentuk penyimpangan atau sekadar reaksi dari sejarah Islam. Tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan berbagai pengaruh eksternal tanpa melihat akar spiritualnya yang mendalam. Teori-teori ini menyebutkan bahwa tasawuf dipengaruhi oleh agama Kristen, dualisme Persia, filsafat Neoplatonisme, Buddhisme, hingga Shamanisme. Idries Shah mengibaratkan perdebatan tersebut layaknya orang yang memperdebatkan apakah besi berasal dari Swedia atau Jepang, sebuah analogi yang menunjukkan betapa dangkalnya perdebatan mengenai asal-usul geografis tersebut.

Hal ini sejalan dengan pandangan pakar studi Islam, Annemarie Schimmel, dalam bukunya yang berjudul Dimensi Mistis Islam. Schimmel menyatakan bahwa Sufisme adalah fenomena universal yang tidak dapat direduksi hanya pada satu pengaruh budaya atau agama tertentu. Sufisme adalah manifestasi dari pencarian batin manusia akan kebenaran mutlak yang melintasi batas-batas geografis dan zaman. Pencarian akan kebenaran ini juga ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 35 tentang cahaya di atas cahaya:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاتٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allahu nurus samawati wal ardhi, matsalu nurihi kamisykah fiha mishbah, al-mishbahu fi zujajah, az-zujajah ka’annaha kaukabun durriyyun yuqadu min syajaratin mubarakatin zaitunatin la sharqiyatin wa la gharbiyatin yakadu zaituha yudi’u wa lau lam tamsashhu narun nurun ‘ala nur, yahdillahu linurihi man yasya’u wa yadribullahul amtsala linnas, wa Allahu bi kulli syay’in ‘alim.Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Terkait dengan pelabelan, kita juga sering melihat adanya pergeseran makna dalam mendefinisikan Sufisme. Sebutan psikologi atau kebijaksanaan sering disematkan bukan karena istilah-istilah tersebut secara akurat menggambarkan Sufisme, melainkan karena ketiadaan kosakata yang lebih tepat dalam bahasa modern untuk menggambarkan kondisi ma'rifat.

Dalam ranah literal dan penerapannya, pengaruh gagasan sufi sangat luas. Kita dapat menemukan bahan-bahan fisik, metode, dongeng, hingga syair Sufisme yang menyusup ke dalam berbagai fenomena peradaban dunia. Karya-karya besar seperti kisah William Tell dari Swiss, legenda Peacock Angel di Timur Dekat, cara pemujaan kaum Troubadour, hingga tulisan-tulisan Sir Richard Burton yang merupakan seorang darwis tarekat Qadiriyah, semuanya memuat jejak pemikiran Sufi.

Bahkan, pengaruh ini juga dapat ditemukan dalam simbolologi Rosicrucian, Illuminasi, literatur psikoterapi, serta karya tokoh seperti Gurdjieff dan Ouspensky. Dalam karya sastra klasik Barat, seperti yang ditulis oleh Geoffrey Chaucer dan Dante Alighieri, jejak pemikiran sufistik terlihat dengan sangat jelas. Karya Dante, misalnya, secara struktural dan tematis banyak mengambil inspirasi dari literatur spiritual Islam, khususnya kisah Isra' Mi'raj yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada Abad Pertengahan.

Lebih jauh, gagasan-gagasan Sufi turut memengaruhi karya William Shakespeare, dongeng Denmark karya Hans Christian Andersen, hingga literatur modern Kenneth Walker. Nama-nama seperti Geber, yang dikenal sebagai bapak kimia Barat dan berasal dari nama keluarga kaum Sufi, Raymond Lully dari Majorca, serta Guru Nanak sang pendiri Sikhisme, juga menunjukkan jejak pemikiran yang sejalan dengan esensi tasawuf yang menjunjung tinggi kebenaran batin.

Oleh karena itu, membatasi Sufisme hanya pada satu kelompok atau satu zaman adalah sebuah bentuk penyederhanaan yang keliru. Sufisme adalah sebuah sistem pengetahuan dan pengalaman spiritual yang terus mengalir dan mewarnai berbagai peradaban. Untuk memahami sumber-sumber literalnya, para pengkaji dituntut untuk melihat melampaui batas-batas kaku kategori ilmu pengetahuan modern dan mulai membaca jejak-jejak universal yang ditinggalkan oleh para sufi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 05 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)