اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاتٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allahu nurus samawati wal ardhi, matsalu nurihi kamisykah fiha mishbah, al-mishbahu fi zujajah, az-zujajah ka’annaha kaukabun durriyyun yuqadu min syajaratin mubarakatin zaitunatin la sharqiyatin wa la gharbiyatin yakadu zaituha yudi’u wa lau lam tamsashhu narun nurun ‘ala nur, yahdillahu linurihi man yasya’u wa yadribullahul amtsala linnas, wa Allahu bi kulli syay’in ‘alim.Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Terkait dengan pelabelan, kita juga sering melihat adanya pergeseran makna dalam mendefinisikan Sufisme. Sebutan psikologi atau kebijaksanaan sering disematkan bukan karena istilah-istilah tersebut secara akurat menggambarkan Sufisme, melainkan karena ketiadaan kosakata yang lebih tepat dalam bahasa modern untuk menggambarkan kondisi ma'rifat.
Dalam ranah literal dan penerapannya, pengaruh gagasan sufi sangat luas. Kita dapat menemukan bahan-bahan fisik, metode, dongeng, hingga syair Sufisme yang menyusup ke dalam berbagai fenomena peradaban dunia. Karya-karya besar seperti kisah William Tell dari Swiss, legenda Peacock Angel di Timur Dekat, cara pemujaan kaum Troubadour, hingga tulisan-tulisan Sir Richard Burton yang merupakan seorang darwis tarekat Qadiriyah, semuanya memuat jejak pemikiran Sufi.
Bahkan, pengaruh ini juga dapat ditemukan dalam simbolologi Rosicrucian, Illuminasi, literatur psikoterapi, serta karya tokoh seperti Gurdjieff dan Ouspensky. Dalam karya sastra klasik Barat, seperti yang ditulis oleh Geoffrey Chaucer dan Dante Alighieri, jejak pemikiran sufistik terlihat dengan sangat jelas. Karya Dante, misalnya, secara struktural dan tematis banyak mengambil inspirasi dari literatur spiritual Islam, khususnya kisah Isra' Mi'raj yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada Abad Pertengahan.
Lebih jauh, gagasan-gagasan Sufi turut memengaruhi karya William Shakespeare, dongeng Denmark karya Hans Christian Andersen, hingga literatur modern Kenneth Walker. Nama-nama seperti Geber, yang dikenal sebagai bapak kimia Barat dan berasal dari nama keluarga kaum Sufi, Raymond Lully dari Majorca, serta Guru Nanak sang pendiri Sikhisme, juga menunjukkan jejak pemikiran yang sejalan dengan esensi tasawuf yang menjunjung tinggi kebenaran batin.
Oleh karena itu, membatasi Sufisme hanya pada satu kelompok atau satu zaman adalah sebuah bentuk penyederhanaan yang keliru. Sufisme adalah sebuah sistem pengetahuan dan pengalaman spiritual yang terus mengalir dan mewarnai berbagai peradaban. Untuk memahami sumber-sumber literalnya, para pengkaji dituntut untuk melihat melampaui batas-batas kaku kategori ilmu pengetahuan modern dan mulai membaca jejak-jejak universal yang ditinggalkan oleh para sufi.
