Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 14 Januari 2026
home masjid detail berita

Syariat Islam: Antara Universalitas dan Tuduhan Budaya Arab

miftah yusufpati Selasa, 11 November 2025 - 05:45 WIB
Syariat Islam: Antara Universalitas dan Tuduhan Budaya Arab
Syariat Islam kerap disalahpahami sebagai budaya Arab kuno. Ilustrasi: MEE
LANGIT7.ID – Di tengah derasnya arus modernitas, penolakan terhadap hukum Islam dan sunnah Rasulullah SAW kembali menyeruak, terutama di kalangan yang merasa bahwa syariat terlalu “kolot” dan tak relevan dengan zaman. Di media sosial, seminar akademik, bahkan ruang diskusi keagamaan, muncul argumen yang berulang: hukum Islam dianggap bagian dari budaya Arab abad ke-7 yang tak semestinya dipaksakan pada masyarakat modern Indonesia.

Namun, pandangan seperti ini sesungguhnya bukan baru. Ia merupakan gema dari perdebatan lama antara “universalisme Islam” dan “relativisme budaya”.

“Bukankah Allah yang menciptakan segala sesuatu, termasuk waktu dan tempat?” tanya Al-Qur’an dalam surah Al-Mulk ayat 14. Pertanyaan retoris itu menggugat logika sebagian umat Islam yang menilai hukum syariat tak lagi sesuai dengan perubahan zaman. Jika Sang Pencipta Mahatahu terhadap seluruh dimensi kehidupan manusia, maka bagaimana mungkin wahyu-Nya kehilangan relevansi?

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam Malaamihu Al-Mujtama’ Al-Muslim Alladzi Nasyuduhu (Citra Islami Press, 1997) menegaskan bahwa fleksibilitas syariat justru terletak pada prinsip-prinsipnya, bukan pada kompromi terhadap nilai-nilai moral. “Islam bukan agama yang kaku,” tulis Qardhawi, “melainkan sistem nilai yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.”

Tuduhan “Arab Sentris”

Argumen paling populer dalam menolak syariat adalah bahwa hukum Islam hanya cocok untuk masyarakat Arab. Sebagian tokoh bahkan menyebut penerapan sunnah sebagai “importasi budaya Arab.”

Namun, pandangan ini ditolak oleh mayoritas ulama tafsir klasik. Ibnu Abbas dan Qatadah, seperti dikutip dalam tafsir Al-Furqan ayat 1, menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan “lil ‘aalamiin”—bagi seluruh umat manusia. Rasulullah SAW sendiri bersabda, “Aku diutus bukan hanya untuk satu kaum, tapi untuk seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari-Muslim).

Karen Armstrong dalam Muhammad: A Prophet for Our Time (HarperOne, 2006) mencatat bahwa universalitas risalah Islam merupakan revolusi spiritual terbesar dalam sejarah Arab. “Islam melampaui batas etnis,” tulis Armstrong, “dan menegaskan kesetaraan spiritual antara semua manusia.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menjelaskan bahwa ajaran Islam datang bukan untuk menghapus seluruh budaya lokal, melainkan untuk meluruskan dan menyempurnakannya. “Islam tidak menolak adat, kecuali jika bertentangan dengan syariat,” tulisnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Pernyataan itu memperlihatkan bahwa syariat bukan produk budaya Arab, tetapi penyempurna moral universal yang menilai kebudayaan berdasarkan nilai, bukan asal-usul.

Sosiolog Islam kontemporer, Prof. Tariq Ramadan, dalam Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation (Oxford University Press, 2009), menambahkan bahwa “keuniversalan Islam terletak pada kemampuannya menanamkan nilai keadilan dan kasih di setiap konteks budaya, tanpa kehilangan akar tauhid.”

Menghapus Warisan Jahiliyah

Nabi Muhammad SAW tidak serta-merta mewarisi seluruh kebiasaan masyarakat Arab. Banyak praktik pra-Islam justru dihapus: sistem riba, pernikahan tanpa wali, hingga balas dendam antar suku. “Segala sesuatu dari jahiliyah aku letakkan di bawah kakiku,” sabda Rasulullah (HR. Muslim).

Artinya, Islam datang bukan sebagai kelanjutan budaya Arab, melainkan sebagai koreksi terhadap penyimpangan moralnya. Di sinilah letak perbedaan fundamental antara Islam sebagai wahyu dan budaya Arab sebagai produk sosial.

Al-Qur’an tegas menolak superioritas etnis. Surah Al-Hujurat ayat 13 menjadi deklarasi egalitarianisme Islam: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Dalam khutbah terakhirnya, Rasulullah SAW menegaskan, “Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, atau kulit putih atas kulit hitam, kecuali dengan takwa.”

Sosiolog Muslim Syed Naquib al-Attas, dalam Islam and Secularism (ISTAC, 1993), menyebut ayat ini sebagai “puncak kesadaran kemanusiaan Islam” — sebuah nilai yang justru mendahului konsep universal human rights modern.

Islam: Dari Arab, untuk Dunia

Menolak syariat dengan alasan “Arab sentris” berarti mengabaikan dimensi transhistoris Islam. Wahyu memang turun di jazirah Arab, tapi pesan yang dibawanya bersifat lintas ruang dan zaman.

Rasulullah SAW bersabda, “Pada diriku ada teladan yang baik bagi siapa yang mengharap rahmat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21). Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai “landasan bagi setiap Muslim untuk meneladani Rasulullah dalam seluruh ucapan, perbuatan, dan keadaannya.”

Maka, sebagaimana dikatakan Qardhawi, “Islam bukan budaya Arab yang diarabkan, melainkan nilai langit yang dimanusiakan.”

Syariat Islam, dalam pengertian itu, adalah bahasa universal yang berbicara kepada fitrah manusia—tentang keadilan, kasih, dan keteraturan hidup. Ia tidak dibatasi oleh waktu, tidak dibelenggu oleh etnis. Dan seperti firman Allah dalam surah Thaha ayat 52: “Rabb-ku tidak akan salah, dan tidak pula lupa.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 14 Januari 2026
Imsak
04:17
Shubuh
04:27
Dhuhur
12:05
Ashar
15:29
Maghrib
18:18
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan