LANGIT7.ID- Ibadah haji adalah sebuah perjalanan spiritual terbesar yang mengumpulkan jutaan manusia dalam satu ritme gerak yang sama. Namun, di balik dimensi vertikal pencarian rida Ilahi, haji juga merupakan sebuah ujian horizontal yang sangat nyata bagi relasi antarmanusia.
Dalam dunia sosiologi agama, safar atau perjalanan jarak jauh sering kali dipandang sebagai katalisator yang menyingkap topeng-topeng sosial seseorang. Melalui kepenatan fisik, antrean yang menjemukan, dan keterbatasan ruang, di sanalah akhlak asli seorang manusia akan ketahuan dan diuji secara telanjang.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalah
Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa dalam lingkaran pertemanan selama ibadah haji, terdapat adab atau etika ketat yang sebaiknya dipahami secara mendalam oleh setiap jamaah. Salah satu batu sandungan terbesar dalam menjaga keharmonisan pertemanan di tanah suci adalah ketidakmampuan mengendalikan lisan.
Al-Qosim mengimbau agar para jamaah menghindari kebiasaan banyak bertanya, mendetailkan urusan pribadi orang lain, serta berbicara tentang segala sesuatu yang tidak memiliki urgensi spiritual.
Kecenderungan untuk mencampuri urusan orang lain atau sekadar bergosip demi mengusir kejenuhan di tenda-tenda maktab merupakan penyakit komunikasi yang dapat merusak pahala ibadah. Batasan moral ini ditegaskan secara yuridis-teologis melalui sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
مَنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِArtinya:
Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya (tidak bermanfaat).
Hadits ini menjadi kompas etis bagi jamaah untuk melakukan sensor mandiri terhadap setiap kata yang hendak meluncur dari bibir mereka. Menjadi teman yang baik di tanah suci bukan berarti harus menjadi sosok yang cerewet atau terlampau ingin tahu, melainkan menjadi pribadi yang mampu memberikan ketenangan dan ruang privasi bagi kekhusyukan sahabat seperjalanannya.
Jika ditarik ke dalam diskursus yang lebih luas, pemikiran ini beririsan dengan konsep kemanusiaan universal yang digagas oleh para pemikir Islam. M. Quraish Shihab dalam buku
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah memaparkan bahwa makna kemanusiaan mengandung arti yang jauh lebih dalam dari sekadar persamaan antar-individu.
Kemanusiaan mencakup seperangkat nilai luhur yang menghiasi jiwa, termasuk kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus bertenggang rasa dalam berinteraksi. Menahan diri dari pertanyaan yang menyudutkan atau pembicaraan yang tidak bermanfaat merupakan bentuk nyata dari tenggang rasa tersebut.
Dalam psikologi sosial perjalanan, kedekatan intensif dalam waktu lama sering kali menimbulkan gesekan jika masing-masing individu egois. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin ketika membahas adab perjalanan menyatakan bahwa kesempurnaan seorang teman safar adalah kemampuannya untuk menanggung beban temannya, bukan justru menjadi beban baru lewat lisan atau perilakunya. Menjaga adab pertemanan dengan menerapkan hadits nabi di atas akan meminimalkan konflik batin yang merusak kesucian ihram.
Pada akhirnya, ibadah haji adalah skenario besar untuk mengantarkan setiap pelakunya masuk ke dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki Allah. Seseorang yang berhasil meraih predikat mabrur dicirikan oleh perubahan akhlaknya yang menjadi lebih arif. Menjadi teman yang baik selama safar haji dengan cara menjaga lisan dari hal sia-sia adalah langkah awal untuk melanjutkan evolusi spiritual manusia. Dengan demikian, kepulangan dari tanah suci tidak hanya membawa cerita tentang ritual fisik, tetapi juga membawa kepribadian baru yang menyejukkan bagi masyarakat di tanah air.
(mif)