Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home masjid detail berita

Polemik Kategori Akademis dalam Membedah Esensi Sufisme

miftah yusufpati Senin, 04 Mei 2026 - 16:00 WIB
Polemik Kategori Akademis dalam Membedah Esensi Sufisme
Diperlukan pendekatan yang lebih terbuka dan interdisipliner dalam mengkaji teori-teori Sufisme.. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Menelusuri rimba pemikiran tasawuf kerap kali membawa seorang pencari pengetahuan pada sebuah labirin yang dipenuhi oleh berbagai label dan kategori. Dalam pengantar karya klasik berjudul Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat, Idries Shah menguraikan bagaimana seorang murid pemula dihadapkan pada dilema epistemologis ketika mencoba memahami Sufisme dari berbagai sumber.

Persoalan utamanya bukan hanya terletak pada keberagaman sumber, melainkan pada kecenderungan zaman modern yang gemar mengotak-ngotakan manusia, benda, dan gagasan ke dalam kategori-kategori spesifik dan kaku.

Keterbatasan pendekatan ini dapat diilustrasikan melalui analogi yang cukup satir mengenai pilihan yang sangat terbatas. Layaknya ucapan Henry Ford pada masa lalu, bahwa seseorang bisa memiliki mobil dengan warna apa pun asalkan warna itu adalah hitam.

Kondisi ini terjadi ketika akademisi dan peneliti masa kini mencoba memahami Sufisme menggunakan kacamata disiplin ilmu yang terkotak-kotak tanpa menyadari keterikatan mereka sendiri pada batasan-batasan tersebut.

Kritik ini tidaklah berlebihan jika melihat bagaimana literatur akademis kerap memisahkan ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Padahal, banyak studi menunjukkan bahwa gagasan-gagasan sufistik telah lama menjadi fondasi atau setidaknya memengaruhi perkembangan berbagai disiplin ilmu, baik di dunia Timur maupun Barat.

Dalam bukunya yang berjudul Dimensi Mistis Islam, pakar studi Islam Annemarie Schimmel mencatat bahwa ajaran mistik Islam memiliki pengaruh yang luar biasa melintasi batas-batas agama dan budaya. Schimmel menjabarkan bagaimana elemen-elemen sufisme meresap ke dalam karya para pemikir besar dunia.

Lebih lanjut, dalam naskah yang dikumpulkan oleh Shah, terdapat catatan bahwa gagasan dan teks sufistik telah diadopsi atau berada di balik teori-teori berbagai tokoh besar. Nama-nama seperti Santo Yohanes dari Salib atau St. John of the Cross, Santa Teresa dari Avila, Roger Bacon, hingga Geber yang dikenal sebagai bapak kimia Barat yang memiliki akar nama dari bahasa Arab, merupakan segelintir contoh bagaimana pemikiran Sufi menyebar. Bahkan, tokoh seperti Raymond Lully dari Majorca, Guru Nanak pendiri Sikhisme, hingga kumpulan cerita Gesta Romanorum dan ajaran Weda dalam Hinduisme menunjukkan jejak pemikiran yang sejalan dengan esensi tasawuf.

Tidak mengherankan jika dalam pandangan tasawuf, esensi pencarian pengetahuan tidak terbatas pada buku atau kajian rasional semata, melainkan melibatkan penyucian jiwa dan peningkatan kapasitas spiritual. Hal ini sejalan dengan Surah Al-Baqarah ayat 151 yang berbunyi:

وَیُزَكِّیكُمۡ وَیُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَیُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ
Wa yuzakkikum wa yu'allimukum al kitaba wa al hikmata wa yu'allimukum ma lam takunu ta'lamun.

Artinya: Dan Dia menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.

Ayat tersebut menegaskan bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak dapat dipisahkan dari proses penyucian batin atau tazkiyatun nafs. Sayangnya, proses penyatuan antara rasio dan spiritualitas ini sering kali ditolak oleh kalangan akademisi modern yang terbiasa dengan pendekatan rasionalistik semata.

Dalam ranah esoteris, teori tentang bunyi huruf juga menjadi salah satu pembahasan yang menarik. Shah mengemukakan bahwa bunyi dari huruf Arab seperti Shad, Waw, dan Fa atau S, U, F memiliki pengaruh yang signifikan terhadap mentalitas manusia. Bagi kaum Sufi, penamaan tersebut bukan sekadar berasal dari kata shuuf atau wol.

Bunyi tersebut diyakini memprogram ulang respons otak dan membawa manusia pada pengalaman yang melampaui batasan persepsi awam. Ketika penjelasan ini diberikan kepada pemikir modern, mereka kerap menolaknya sebagai omong kosong primitif. Padahal, jika dianalogikan dengan komputer, otak manusia menerima getaran suara dan meresponsnya sesuai dengan pemrograman tertentu. Penolakan ini muncul karena adanya komitmen psikologis yang sistematis untuk menolak gagasan di luar kerangka material yang telah mereka bangun.

Dalam pengalamannya, Idries Shah menemukan bahwa upayanya mengumpulkan hasil temuan para orientalis dan spesialis terkemuka seperti Profesor Asin, Landau, Ribera, Tara Charid, hingga Guillaume, justru mendapat sambutan dingin dan serangan personal. Ketika ia menyebutkan telah mengutip karya-karya kuno yang secara terang-terangan menyebut Sufisme, para spesialis tersebut justru bersikap defensif.

Mereka lebih memilih mendiskreditkan sang penulis daripada mendalami fakta atau menganalisis pekerjaan yang telah dilakukan. Sikap seperti ini menunjukkan sebuah bias metodologis yang menutup diri terhadap sudut pandang alternatif yang berada di luar tradisi akademis mereka.

Gejala yang sama juga terjadi pada kajian filsafat Barat. Dalam karya besar Bertrand Russell berjudul Wisdom of the West, pemikir-pemikir Barat yang gagasan dan karyanya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Sufi disebutkan secara gamblang. Namun, Russell sama sekali tidak menyebutkan adanya kaitan atau pengaruh kaum Sufi maupun konsep Sufisme dalam karya tersebut. Bagi pembaca umum atau mahasiswa yang mengacu pada literatur semacam ini, informasi mengenai hubungan antara pemikiran Barat dan tradisi tasawuf menjadi hilang atau terputus.

Ketidakhadiran informasi ini melahirkan kekosongan literatur yang membuat pembaca umum memiliki pemahaman yang sangat terbatas mengenai sejarah intelektual manusia. Mereduksi Sufisme ke dalam satu definisi atau kategori saja merupakan kesalahan besar dalam melihat sejarah peradaban. Sufisme bukanlah sekadar kelompok yang mengenakan jubah wol, melainkan sebuah gerakan pemikiran esoteris yang universal dan telah mengakar di dalam berbagai peradaban selama ribuan tahun.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih terbuka dan interdisipliner dalam mengkaji teori-teori Sufisme. Pendekatan ini harus mampu melampaui batasan-batasan konvensional yang dibuat oleh spesialisasi ilmu pengetahuan modern. Memahami Sufisme berarti harus bersedia melihatnya sebagai sebuah sistem pengetahuan yang holistik dan relevan, yang mampu membuka dimensi persepsi baru bagi akal budi dan spiritualitas manusia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)