Berpijak pada pemikiran Nurcholish Madjid, naskah ini menelusuri kontroversi keabsahan tasawuf. Antara ekstase Ibn Arabi yang dianggap liar dan ketegasan syariat dalam menjaga batas-batas ketuhanan.
Fariduddin Aththar, apoteker Nishapur, meninggalkan warisan bukan dari botol-botol obat, melainkan dari dongeng Sufi yang menyingkap tahap jiwa manusia, dari rindu hingga penyingkapan.
Dari lorong sunyi Khurasan, Bayazid melontarkan kata-kata yang menggetarkan: Subhani! Seruan yang membuatnya dipuja para pencari Tuhan, tapi juga dikecam sebagai penyimpang.
Syariah sering dimaknai formal dan kaku. Tasawuf hadir sebagai koreksi batiniah. Bisakah keduanya bersinergi di era modern, ketika spiritualitas dan etika publik kembali dipertaruhkan?
Sufisme menolak dibekukan. Ia hidup bukan di teks, tapi di jiwa yang mencari makna. Namun di era modern, bahaya baru muncul: simbol lebih ramai daripada substansi.
Tiga darwis kembali dari pengembaraan panjang. Jawaban mereka tentang rahasia bertahan hidup terdengar sederhana: kucing, makanan, dan latihan. Tapi di balik kata-kata itu, tersimpan teka-teki kehidupan.
Dari gang-gang sunyi Bukhara, para darwis Khajagan menulis ulang peta spiritual Asia Tengah. Mereka tidak sekadar guru tarekat mereka adalah arsitek budaya yang diam-diam menuntun para raja.
Dari gang Baghdad hingga ruang sunyi zaman modern, Tarekat Suhrawardi mengajarkan keheningan sebagai jalan marifahpelajaran yang kini bersua dengan tren mindfulness global.
Dari Khurasan ke India, dari seruling ke samudra jiwa. Chisytiyah menjadikan musik sebagai jembatan menuju marifat, meski di kemudian hari, irama itu disalahpahami.
Sebutan-sebutan ini menambah kabut. Di telinga Barat, nama tarekat seperti Qadiriyah atau Naqsyabandiyah terdengar eksotis, kadang salah kaprah dipahami sebagai sekte atau ordo rahasia.
Bahaya pertama: seorang suami yang mencari nafkah dengan cara yang haram. Nabi sendiri menegaskan: tak ada amal saleh yang cukup untuk menebus dosa itu.
Dari Ahl al-Suffah di Masjid Nabawi hingga zikir sunyi para sufi, tasawuf menjelma menjadi moralitas Islam yang terus bergulat antara spiritualitas, filsafat, dan zaman.
Kelompok pertama mencerminkan orang-orang beriman yang sama sekali menjauhkan diri dari dunia, dan kelompok yang terakhir adalah kelompok orang kafir yang hanya mengurusi dunia.