LANGIT7.ID- Dalam riuh rendah dunia modern yang mendewakan data dan angka, ada ruang sunyi yang luput dari radar metodologi ilmiah konvensional. Ruang itu adalah wilayah makrifat, sebuah dimensi pengetahuan ilahiah yang tidak bisa diukur dengan mikroskop atau timbangan laboratorium.
Bagi para pencari spiritual, pengetahuan ini laksana samudra tanpa tepi, yang hakikatnya hanya bisa dipahami secara utuh oleh mereka yang telah menyelaminya secara langsung. Di sinilah letak keunikan sekaligus kerumitan sifat dasar pengetahuan ilahiah: ia menuntut pengalaman rasa, bukan sekadar ketajaman rasio.
Dimensi berlapis dalam kognisi manusia ini dibedah secara apik oleh Idries Shah dalam bukunya yang monumental, Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat. Dalam edisi Indonesia yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, terbitan Risalah Gusti, Shah memaparkan tesis tentang keterbatasan persepsi manusia.
Pengetahuan ilahiah memiliki sifat yang hierarkis dan eksklusif dalam hal pencapaian spiritual, sehingga tidak bisa dinilai secara serampangan dari luar.
Shah menganalogikannya dengan sangat tangkas melalui fase pertumbuhan manusia. Seorang anak kecil tidak akan pernah memiliki gambaran yang utuh tentang beban dan pencapaian emosional orang dewasa.
Pada tingkat berikutnya, orang dewasa awam tidak dapat meraba kedalaman berpikir orang yang terpelajar. Mengikuti hukum kausalitas yang sama, kaum terpelajar yang hanya mengandalkan logika formal belum tentu mampu memahami pengalaman pencerahan rohani yang dialami oleh para nabi, orang-orang suci, atau kaum sufi. Ada lompatan kesadaran yang tidak bisa dijembatani hanya dengan membaca tumpukan buku.
Sifat dasar pengetahuan ini juga merombak total definisi kita tentang cinta dan ketertarikan diri. Kaum sufi melihat bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam ilusi emosional. Jika seseorang mencintai sesamanya karena alasan kesenangan yang diperoleh, itu bukanlah cinta sejati.
Cinta tersebut sejatinya ditujukan pada kesenangan itu sendiri, sementara sang kekasih hanyalah sasaran sekunder. Pengetahuan ilahiah membongkar kedangkalan persepsi ini, mengajak manusia mengenali motif terdalam dari setiap tindakan mereka agar bersih dari pamrih egoistis.
Bagi sang hamba, puncak dari pengetahuan ilahiah adalah kesiapan menghadapi kepunahan fisik atau kematian. Idries Shah mengutip petuah emas dari sang pembela Islam, Imam al-Ghazali. Sang imam memperingatkan bahwa manusia harus menyiapkan diri untuk sebuah transisi besar, sebuah alam baru yang tidak menyediakan satu pun fasilitas atau kenyamanan yang biasa dinikmati di dunia.
Setelah jasad mati, identitas ruhani seseorang hanya akan merespons rangsangan dari hal-hal spiritual yang pernah ia pupuk selama hidup di bumi. Jika selama di dunia manusia tetap terikat pada kebendaan dan materi yang sudah ia kenal, maka keterikatan itu hanya akan menjadi sumber penderitaan yang hebat di alam keabadian.
Al-Quran memberikan sinyal mengenai kesadaran spiritual ini dalam Surah Qaaf ayat dua puluh dua: Fakasyafna anka ghithaaka fabasharukal yauma hadiid. Artinya: Maka Kami singkapkan darimu tutup yang menutupi matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.
Sayangnya, sifat pengetahuan ilahiah yang melampaui batas pancaindra ini sering kali berbenturan dengan ego keduniawian. Muncul sebuah adagium klasik dalam khazanah sufi bahwa manusia cenderung menentang sesuatu hanya karena mereka tidak mengetahuinya. Kebodohan spiritual melahirkan defensivitas, dan ketidakmampuan mencerna kebenaran makrifat sering kali mewujud dalam bentuk penolakan dan penghakiman.
Melalui laporan dunia makrifat ini, kita disadarkan bahwa sifat dasar pengetahuan ilahiah bukanlah dogma yang menjauhkan manusia dari realitas. Ia justru sebuah undangan terbuka untuk mendaki tangga kesadaran, melampaui ego pribadi, dan mempersiapkan jiwa untuk sebuah perjalanan panjang yang melintasi batas waktu dan ruang materi.
(mif)