LANGIT7.ID-Dunia modern sering kali menjebak manusia dalam labirin tujuan yang pragmatis. Di tengah hiruk-pikuk pencapaian materi, muncul sebuah pertanyaan mendasar: untuk apa sebenarnya kita berbuat? Pertanyaan ini tidak hanya menghantui para filsuf, tetapi juga menjadi inti dari perjalanan spiritual manusia sepanjang zaman. Dalam khazanah pemikiran Islam, diskursus mengenai motivasi terdalam manusia ini dipotret secara tajam oleh Imam al-Ghazali melalui sebuah perumpamaan yang melibatkan sosok Isa bin Maryam.
Naskah klasik yang terekam dalam buku
Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah (1999) menceritakan perjalanan Isa saat melintasi tiga kelompok manusia dengan rona wajah dan beban batin yang berbeda. Kelompok pertama adalah mereka yang duduk bersedih karena rasa takut terhadap neraka. Kelompok kedua dibayangi kesedihan karena rindu akan surga. Namun, kelompok ketiga tampil berbeda; mereka tampak memikul beban berat, namun wajah mereka memancarkan cahaya kebahagiaan yang melampaui logika keduniawian.
Al-Ghazali, dalam mahakaryanya
Ihya Ulumuddin, memang sering membagi tingkatan manusia berdasarkan kualitas niatnya. Kelompok pertama dan kedua sering kali diibaratkan sebagai hamba yang berdagang dengan Tuhan. Ketakutan akan siksa dan harapan akan imbalan adalah motor penggerak yang sah secara hukum agama, namun dalam kacamata sufisme, hal itu masih dianggap sebagai tujuan yang kurang baik jika dibandingkan dengan pencarian realitas absolut.
Kelompok ketiga dalam kisah tersebut memberikan jawaban yang menggetarkan: mereka digerakkan oleh Jiwa Kebenaran karena telah melihat Realitas. Bagi mereka, surga dan neraka bukan lagi fokus utama, melainkan bayang-bayang di balik keagungan Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Rabiah al-Adawiyah, tokoh sufi perempuan terkemuka, yang dalam berbagai karya ilmiah sejarah tasawuf sering dikutip atas doanya yang sangat masyhur:
Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah aku darinya.
Motivasi yang melampaui pamrih ini memiliki landasan dalam teks suci. Dalam Al-Quran, tujuan tertinggi manusia sering kali dikaitkan dengan rida Allah, yang posisinya berada di atas kenikmatan fisik apa pun. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tawbah ayat 72:
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُArtinya:
Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itulah keberuntungan yang besar.
Penelitian sosiologis tentang perilaku religius sering menemukan bahwa rasa takut dan harapan adalah instrumen kontrol sosial yang efektif. Namun, untuk mencapai kedewasaan spiritual, manusia perlu menapakkan kaki pada tangga makna yang lebih tinggi. Idries Shah melalui terjemahan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menekankan bahwa mereka yang telah mencapai tahapan ini adalah orang-orang yang akan berada dalam Kehadiran Tuhan pada Hari Perhitungan nanti. Mereka tidak lagi terikat oleh dualitas pahala dan dosa sebagai komoditas, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang tulus.
Realitas sejati sering kali tertutup oleh keinginan-keinginan ego yang halus. Kelompok ketiga yang ditemui Isa menunjukkan bahwa beban hidup—setajam apa pun itu—tidak akan mampu memadamkan cahaya kebahagiaan jika orientasi hidup adalah kebenaran mutlak. Mereka adalah representasi dari manusia yang merdeka; merdeka dari intimidasi rasa takut dan merdeka dari belenggu pamrih.
Dalam konteks kekinian, perumpamaan ini relevan untuk meninjau kembali integritas moral kita. Apakah kita melakukan kebaikan karena takut akan sanksi sosial? Apakah kita bekerja hanya demi bonus di akhir tahun? Ataukah kita bergerak karena ada nilai kebenaran yang kita yakini secara mendalam? Sebagaimana kesimpulan dalam literatur Jalan Sufi, mencapai Kehadiran Tuhan berarti melupakan tujuan-tujuan rendah demi merengkuh Cahaya Sejati yang abadi. Kelompok ketiga itulah sang pemenang sejati dalam drama panjang kehidupan manusia.
(mif)