Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Antara Ekstase dan Kutukan Syariat: Menakar Keabsahan Kaum Sufi

miftah yusufpati Senin, 19 Januari 2026 - 05:15 WIB
Antara Ekstase dan Kutukan Syariat: Menakar Keabsahan Kaum Sufi
Membicarakan keabsahan tasawuf serupa memasuki labirin tanpa ujung yang penuh dengan ranjau teologis. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID-Membicarakan keabsahan tasawuf serupa memasuki labirin tanpa ujung yang penuh dengan ranjau teologis. Ia bukan sekadar soal benar atau salah secara hukum formal, melainkan menyangkut pengambilan sikap penghakiman terhadap pengalaman kerohanian yang paling intim.

Dalam buku Islam: Doktrin dan Peradaban yang ditulis Nurcholish Madjid dan diterbitkan Yayasan Paramadina, nalar mistis ini dibedah sebagai fenomena yang selalu mengarah ke dalam dan bersifat sangat pribadi. Karena sifatnya yang privat, pengalaman mistis hampir mustahil dikomunikasikan secara utuh kepada orang lain melalui bahasa manusia yang terbatas.

Inilah yang memicu lahirnya tingkatan laku eksentrik, atau yang kerap disebut orang awam sebagai perilaku di luar garis. Di berbagai pelosok negeri Islam, cerita tentang wali yang berkelakuan aneh bukanlah barang baru. Namun, bagi para pemegang ajaran standar atau ahl al-dhawahir, keanehan tersebut sering kali dikutuk sebagai absurditas tanpa makna, kesintingan, atau bahkan dianggap sebagai tarikan setan yang menyesatkan. Pertentangan ini abadi karena satu pihak menggunakan neraca hukum lahiriah, sementara pihak lain berenang dalam samudra batiniah.

Titik paling krusial dari sengketa ini berada pada kawasan teori wahdat al-wujud atau kesatuan eksistensial. Tokoh-tokoh seperti al-Hallaj hingga Syekh Siti Jenar menjadi martir dari pandangan ini karena ucapan-ucapan mereka yang dianggap melampaui batas ketuhanan. Namun, pengembangan yang paling liar sekaligus kaya datang dari Ibn Arabi. Melalui Fushush al-Hikam, ia berdendang tentang hubungan timbal balik antara Tuhan dan hamba yang begitu cair. Ibn Arabi dituding oleh para ulama syariat sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas apa yang dianggap penyelewengan dalam Islam. Sebaliknya, bagi pengikutnya, ia adalah al-syaikh al-akbar, sang guru agung yang berhasil menyentuh hakikat.

Kesulitan memahami literatur kesufian, menurut ulasan dalam Islam: Doktrin dan Peradaban, terletak pada penggunaan kiasan dan pelambang. Ungkapan kaum sufi harus dipahami dalam kerangka interpretasi metaforis atau ta'wil batini. Meskipun para sufi tetap berpegang pada sumber suci, mereka menolak memahami teks menurut bunyi lahiriahnya saja. Pangkal kontroversi inilah yang membuat sosok sekaliber Ibnu Taymiyyah memberikan vonis sesat yang keras kepada Ibn Arabi. Syariat menuntut kepastian tekstual, sementara tasawuf menuntut kedalaman esensial.

Namun, jika dipandang dengan semangat empatik, pengalaman mistis kaum sufi mungkin justru merupakan bentuk pengalaman keagamaan yang sejati. Ia mirip dengan pengalaman Nabi saat Mi'raj yang tak terlukiskan oleh kata-kata. Kaum sufi gemar menggunakan analogi rasa: Anda tidak mungkin menjelaskan manisnya madu kepada orang yang tidak pernah mencicipinya. Pengalaman tertinggi mereka adalah ekstase, sebuah situasi kejiwaan yang dilukiskan sebagai keadaan mabuk kepayang oleh minuman kebenaran. Kebenaran atau al-haqq digambarkan sebagai khamar yang memabukkan kesadaran kemanusiaan.

Intensitas penghayatan tauhid yang begitu dalam membuat seorang sufi sering kali tidak menyadari apa pun selain Dia Yang Maha Ada. Pengalaman yang mungkin hanya terjadi sesaat ini diibaratkan seperti turunnya laylat al-qadar dalam jiwa manusia. Meski sesaat, relevansinya bagi pembentukan budi pekerti bersifat abadi karena seseorang telah berhasil menangkap kebenaran yang utuh. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa bahagia, tenteram, dan ma'rifat al-nafs atau tahu diri sebagai makhluk yang harus pasrah bulat kepada Sang Khalik.

Meski sering dituding pasif atau pelarian dari kenyataan, tasawuf pada hakikatnya adalah ajaran akhlak. Kedahsyatan moral yang ingin mereka wujudkan adalah upaya meniru akhlak Tuhan, sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Pada akhirnya, tasawuf adalah upaya manusia menemukan keseimbangan diri melalui apresiasi akan kualitas Tuhan dalam al-asma al-husna. Menilai keabsahan tasawuf hanya dari kacamata hitam-putih syariat mungkin sama saja dengan mencoba memenjarakan samudra dalam sebuah gelas kaca yang sempit.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)