LANGIT7.ID-Di sebuah pasar di Nishapur, abad ke-12, seorang apoteker menghabiskan hari-harinya menakar obat. Tapi hidupnya ternyata lebih dari sekadar menimbang jamu atau meracik parfum. Ia adalah Fariduddin Aththar an-Nisaburi, yang kelak dikenang bukan karena botol-botol kaca di tokonya, melainkan karena kata-kata yang melintasi abad.
Aththar menulis tidak kurang dari 114 buku. Tiga di antaranya menancap dalam khazanah Sufi: Divine Book, Parliament of the Birds, dan Book of Counsel. Namun, baru tujuh setengah abad kemudian dunia Barat membacanya dalam bahasa Inggris. Itu pun berkat upaya seorang pertapa Hindu, Dr. Bankey Behari, yang pada 1961 menerbitkan 62 seleksi kisah Aththar dalam bahasa Inggris.
Keterlambatan itu ironis. Sebab, karya Aththar justru menjadi batu pijakan bagi tokoh besar Sufi lain: Jalaluddin Rumi. “Aththar menapaki semua tujuh lembah, sementara kami baru di ujung jalan,” ujar Rumi, sebagaimana dikutip Idries Shah dalam
The Way of the Sufi (Risalah Gusti, 1999).
Baca juga: Ibnu Taimiyah: Sufi dalam Balutan Puritanisme Burung-Burung dan Tahap JiwaDalam Parliament of the Birds, Aththar menggunakan perjalanan sebagai metafora. Burung-burung, dipimpin burung Hudhud, menempuh perjalanan mencari Simurgh—sosok yang akhirnya mereka temukan di dalam diri mereka sendiri. Sebuah alegori tentang jiwa manusia: pencarian panjang, penuh keraguan, rindu, dan penyingkapan.
Tak heran, kisah Aththar dipenuhi dongeng, fabel, dan apologi. Bukan sekadar cerita moral, tapi kiasan yang menguliti tahap-tahap kesadaran. Dari “orang gila yang menangis demi belas kasih hati Tuhan”, hingga “raja yang mendapati cincin bertuliskan: Ini, juga, akan berlalu.” Semua menandai satu hal: hidup manusia adalah ujian kesadaran.
Aththar tak hanya menulis. Ia juga menenun biografi para guru Sufi dalam Memorials of the Saints. Dari Khair Nassaj, darwis tanpa majikan yang kelak membimbing Ibrahim Khawwas; hingga Fazl-Rabbi, yang rela ditusuk tongkat besi tanpa mengeluh demi menjaga harga diri seorang tua yang kikir.
Dongeng-dongeng itu bukan sekadar hiburan. Dalam bahasa Aththar, ia adalah “kotak ajaib” yang bisa mengubah karpet kasar menjadi permadani halus.
Baca juga: Dua Tahun Bersama Ja’far: Jejak Sufi dalam Fikih Abu Hanifah Ironi lain mewarnai akhir hidupnya. Ketika pasukan Jengis Khan memasuki Nishapur, Aththar menolak menerima tanda jasa dari kaki tangan penjajah. Ia sempat membubarkan murid-muridnya ke tempat aman, lalu memilih tetap tinggal. Ia terbunuh, sebagaimana dilaporkan tradisi Sufi, di tangan tentara Mongol.
Kematiannya menyegel hidupnya sebagai syahid—guru yang menolak tunduk pada kuasa dunia.
Membaca Aththar Hari IniKisah-kisah Aththar, jika dibaca sepotong, tampak seperti dongeng lugu. Orang gila melenguh di tengah salat, raja menangis karena kacang buncis, atau seorang kikir merayu Malaikat Maut dengan tiga ratus ribu dinar.
Namun jika dirangkai, ia membentuk struktur sosial dan etika Islam, sebagaimana dicatat Idries Shah. Ia mengajarkan bahwa kebesaran tak selalu tampak di istana, melainkan kadang di jubah tambalan seorang darwis.
Aththar seakan mengingatkan kita dengan kalimat ringkas yang diukir dalam satu kisah:
“Pecinta sejati akan menemukan cahaya hanya jika, seperti lilin, dirinya membakar dirinya sendiri.”
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami(mif)