LANGIT7.ID-Suara rubaiyat Omar Khayyam masih menggema dari abad ke-11 ke zaman modern. Dari Nishapur, Persia, ia menulis bait-bait pendek yang menyatukan filsafat, sains, dan renungan sufistik. Namun ironisnya, di Barat nama Khayyam lebih populer lewat terjemahan bebas Edward Fitzgerald (1859) ketimbang melalui pemahaman otentik atas karya dan jiwanya.
Lahir pada 1048 M di Nishapur, Omar Khayyam (Ghiyath al-Din Abu’l-Fath Umar ibn Ibrahim al-Khayyam) dikenal bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga ilmuwan. Ia menyusun reformasi kalender Jalali pada masa Sultan Malik-Shah, yang akurasinya bahkan lebih presisi daripada kalender Gregorian (Kennedy, Journal for the History of Astronomy, 1975).
Khayyam juga menulis risalah matematika tentang persamaan kubik dan geometri non-Euclidean, menjadikannya pelopor dalam ilmu aljabar. George Sarton, dalam Introduction to the History of Science (1927), menyebut Khayyam sebagai “salah satu matematikawan terbesar Persia.”
Namun, di luar sains, namanya lebih diingat lewat rubaiyat—puisi empat baris yang penuh metafora tentang anggur, cinta, dan kefanaan.
Baca juga: Ilmuwan Dunia Temukan Cara Memperbaiki Jalan Berlubang tanpa Campur Tangan Manusia Bayang-bayang FitzgeraldDi Inggris era Victoria, Edward Fitzgerald menerjemahkan Rubaiyat of Omar Khayyam (1859). Terjemahan itu meledak, menjadikan Khayyam ikon eksotisme Timur. Namun para ahli kemudian menilai Fitzgerald terlalu bebas, bahkan menambahkan nuansa anti-Sufi.
“Fitzgerald bersalah karena interpolasi propaganda anti-Sufi yang tidak dapat dimaafkan,” tulis Idries Shah dalam The Sufis (1964). Kritik serupa muncul dari Peter Avery dan John Heath-Stubbs dalam edisi The Ruba’iyat of Omar Khayyam (1979), yang menegaskan Fitzgerald lebih banyak menulis ulang sesuai selera zamannya.
Akibatnya, Khayyam di mata pembaca Barat sering direduksi menjadi hedonis yang merayakan anggur, bukan seorang intelektual sufistik yang menggunakan simbol minuman sebagai alegori spiritual.
Warisan SufiSejumlah peneliti Timur berupaya mengembalikan Khayyam pada akar sufismenya. Swami Govinda Tirtha dalam The Nectar of Grace (1941) menelusuri bahwa rubaiyat Omar kaya dengan terminologi tasawuf—anggur sebagai ekstase spiritual, taman sebagai simbol kosmos, dan kebersamaan sebagai perjalanan menuju fana’.
Qasim Ali dalam Omar Khayyam: A Study in Persian Humanism (2005) juga menekankan bahwa rubaiyat adalah tafsir eksistensial yang lahir dari perenungan sufi, bukan sekadar pesimisme duniawi.
Baca juga: Aksi Ilmuwan Cilik, Lomba Sains untuk PAUD dari Kemendikdasmen Khayyam tetap berada dalam posisi ambigu: populer sebagai nama, tapi sering disalahpahami dalam isi. Di Iran, ia dikenang lewat monumen megah di Nishapur, sementara di Eropa, ia abadi lewat antologi puisi Fitzgerald.
“Secara efektif Omar Khayyam dikenang, tapi tidak terkenal,” tulis Tirtha (1941). Ingatan kolektif dunia masih lebih mengaitkannya dengan romantisme eksotis ketimbang filsafat dan sains yang ia wariskan.
Namun, barangkali justru dalam paradoks inilah Khayyam tetap hidup: seorang matematikawan yang menulis puisi, seorang penyair yang bicara dengan bahasa sains, seorang sufi yang abadi dalam alegori anggur.
(mif)