Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 23 Mei 2026
home masjid detail berita

Ibnu Taimiyah: Sufi dalam Balutan Puritanisme

miftah yusufpati Kamis, 25 September 2025 - 04:15 WIB
Ibnu Taimiyah: Sufi dalam Balutan Puritanisme
Figur-figur besar seperti Ibnu Taimiyah selalu melahirkan kontroversi, karena mereka terlalu kaya untuk ditangkap oleh satu aliran saja. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Damaskus, abad ke-7 Hijriah. Kota itu berdiri sebagai simpul peradaban Islam: madrasah, masjid, dan bazar berbaur dalam hiruk pikuk. Di salah satu sudutnya, lahir seorang ulama yang kelak memecah perdebatan sepanjang zaman: Taqi al-Din Ahmad bin Abdul Halim bin Abd al-Salam, lebih dikenal sebagai Ibnu Taimiyah (1263–1328 M).

Namanya hari ini identik dengan ketegasan hukum, fatwa kontroversial, bahkan inspirasi ideologi Islamis modern. Tapi di balik citra keras itu, ada sisi yang jarang dibicarakan: penghormatannya kepada para sufi dan kedekatannya dengan tasawuf.

Dalam Majmu‘ Fatawa (Dar ar-Rahmat, Kairo, jilid 11), Ibnu Taimiyah menulis: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak para Nabi dan Rasul.”

Ia menyebut nama-nama besar sufi: Hasan al-Basri, Rabi‘a al-‘Adawiyya, Ibrahim ibn Adham, Ma‘ruf al-Karkhi, Junaid al-Baghdadi, bahkan Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Di halaman 499 jilid yang sama, ia menambahkan: “Ketika kita dalam haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka‘bah. Para syaikh ini adalah petunjuk menuju Allah dan Nabi kita.”

Bagi Ibnu Taimiyah, tasawuf sejati bukanlah khayalan kosong, melainkan disiplin tazkiyatun-nafs (penyucian jiwa) dan ihsan (kesadaran spiritual). Dalam definisinya:

“Tasawuf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah… ia menjaga makna-makna tinggi dan meninggalkan ketenaran serta egoisme untuk meraih keadaan penuh dengan Kebenaran.” (Majmu‘ Fatawa, vol. 11).

Ibnu Taimiyah dan Bayazid al-Bistami

Menariknya, Ibnu Taimiyah mengutip kisah ekstatis Bayazid al-Bistami. Dalam Majmu‘ Fatawa jilid 10 halaman 510, ia menulis:

“Syaikh besar Bayazid al-Bistami berkata kepada Allah dalam kasyf: ‘Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?’ Allah menjawab: ‘Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku.’ Lalu Bayazid berkata: ‘Aku keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya’.”

Kutipan ini, kata sejarawan Alexander Knysh dalam Islamic Mysticism: A Short History (2000), memperlihatkan bahwa Ibnu Taimiyah tidak menolak pengalaman batin sufi, selama tetap dalam bingkai syariat. Zuhd, pengingkaran diri, dan melawan ego adalah jalan spiritual yang sah baginya.

Namun, di sisi lain, Ibnu Taimiyah juga keras mengkritik praktik tasawuf yang dianggap berlebihan: kultus wali, tawassul yang melampaui batas, atau ritual yang tak berdasar teks Al-Qur’an dan Hadis.

Yossef Rapoport dan Shahab Ahmed dalam Ibn Taymiyya and His Times (Oxford University Press, 2010) menyebut paradoks ini sebagai “dua wajah Ibnu Taimiyah”: seorang sufi yang menghormati para wali, sekaligus mujaddid yang ingin membersihkan Islam dari bid‘ah.

Tak heran bila jejaknya hari ini beresonansi ke banyak arah. Kalangan Salafi mengangkatnya sebagai simbol purifikasi. Sementara tarekat tradisional juga menemukan rujukan dalam pujiannya kepada tokoh-tokoh sufi awal.

Bayangan Panjang ke Nusantara

Nama Ibnu Taimiyah ikut masuk ke khazanah keislaman Indonesia. Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (1994) mencatat, karya-karya dan fatwanya beredar lewat ulama jaringan Makkah–Aceh–Jawa sejak abad ke-17.

Bagi kelompok reformis modern seperti Muhammadiyah, Ibnu Taimiyah adalah rujukan pemurnian akidah. NU lebih selektif, tapi tak menolak pengakuannya terhadap tasawuf murni. Sedangkan kelompok Salafi menjadikannya ikon ideologis, meski sering mengabaikan sisi-sisi sufistiknya.

Ibnu Taimiyah wafat di Damaskus pada 1328 M, setelah beberapa kali keluar-masuk penjara akibat fatwa politik dan teologisnya. Tapi warisannya hidup lebih panjang dari tubuhnya.

Bagi sebagian, ia adalah “bapak puritanisme Islam”. Bagi lainnya, ia adalah “sufi yang menyamar”.

Sebagaimana ditulis Annemarie Schimmel dalam Islamic Literatures (1975):

“Figur-figur besar seperti Ibnu Taimiyah selalu melahirkan kontroversi, karena mereka terlalu kaya untuk ditangkap oleh satu aliran saja.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 23 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)