LANGIT7.ID-Sejarah Bani Israil sering kali diwarnai oleh hubungan yang penuh ketegangan dengan para pemimpin mereka. Di tengah gurun yang gersang dan hukum yang ketat, isu personal bisa menjadi komoditas politik yang menghancurkan reputasi. Salah satu fragmen yang paling dramatis adalah ketika Nabi Musa Alaihissalam menjadi sasaran perundungan kolektif terkait kondisi fisiknya. Di tengah tradisi mandi bersama dalam keadaan telanjang yang lazim dilakukan kaumnya, sikap menutup diri sang nabi justru memicu lahirnya teori konspirasi yang liar.
Dalam catatan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari melalui karyanya
Qishshah Musa alaihis salam wa Malakul Maut, digambarkan betapa Musa sangat menjaga rasa malunya. Sementara orang-orang Bani Israil mandi tanpa sehelai benang pun dan saling melihat aurat, Musa memilih menyendiri. Ketertutupan ini tidak dibaca sebagai bentuk kesalehan oleh kaumnya, melainkan sebagai upaya menyembunyikan aib fisik. Mereka berbisik di belakang punggung sang nabi, menduga bahwa Musa mengidap penyakit kulit atau cacat pada bagian tubuh tertentu.
Kebenaran sering kali membutuhkan cara yang tidak biasa untuk menampakkan dirinya. Suatu hari, Musa pergi ke sungai untuk membersihkan diri. Ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu besar. Di sinilah intervensi metafisika terjadi. Atas kehendak Allah, batu tersebut bergerak, membawa lari pakaian sang nabi. Musa, yang terkejut dan khawatir pakaiannya hilang, mengejar batu itu sembari berseru, "Wahai batu, bajuku! Wahai batu, bajuku!"
Kejar-kejaran antara seorang nabi dan sebongkah benda mati ini membawa Musa melewati kerumunan Bani Israil. Dalam kondisi tanpa busana karena keadaan darurat tersebut, kaumnya akhirnya melihat kenyataan yang selama ini mereka ragukan. Tubuh Musa bersih, sempurna, dan tanpa cacat sedikit pun. Prasangka yang selama ini dipelihara oleh lidah-lidah yang tajam seketika runtuh. Allah telah membersihkan nama baik utusan-Nya dengan cara yang paling telanjang di hadapan publik.
Setelah berhasil mengejar batu tersebut, Musa mengambil pakaiannya dan memberikan pukulan pada batu itu sebagai bentuk luapan kemanusiaannya. Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa pukulan itu meninggalkan bekas enam atau tujuh guratan pada batu tersebut, sebuah bukti fisik atas kekuatan sang nabi yang dikenal memiliki ketegasan luar biasa.
Peristiwa ini bukan sekadar anekdot pengantar tidur, melainkan memiliki bobot teologis yang sangat kuat hingga diabadikan dalam Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 69:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا ۚ وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًاHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis ini sebagai peringatan bagi umat beriman agar tidak mudah memberikan stigma negatif kepada para pembawa risalah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menyakiti perasaan seorang nabi, baik melalui lisan maupun prasangka, adalah perbuatan yang sangat tercela. Allah sendiri yang akan turun tangan membela hamba-hamba-Nya yang memiliki kedudukan terhormat (wajihan) di sisi-Nya.
Pesan interpretatif dari kisah ini melintasi zaman. Di era di mana pembunuhan karakter dan penyebaran hoaks begitu masif, kisah Musa dan batu ini menjadi pengingat bahwa integritas seseorang tidak diukur dari sejauh mana ia mengikuti arus massa, melainkan dari konsistensinya dalam menjaga prinsip, termasuk dalam hal yang paling pribadi seperti rasa malu (haya).
Bani Israil telah belajar dengan cara yang keras bahwa mata manusia sering kali tertipu oleh apa yang tidak mereka lihat. Sementara itu, bagi Musa, batu yang membawa lari pakaiannya bukan sekadar benda penghalang, melainkan instrumen langit untuk membungkam fitnah yang telah lama menggerogoti wibawa kenabiannya di hadapan kaum yang keras kepala.
(mif)