LANGIT7.ID- Di balik sunyinya Lembah Thuwa, sebuah dialog transenden terjadi antara Sang Pencipta dan hamba-Nya, Musa Alaihissalam. Setelah fondasi tauhid ditanamkan melalui perintah shalat dan pengenalan jati diri Tuhan, Musa tidak dibiarkan melangkah ke Mesir dengan tangan hampa. Allah Subhanahu wa Ta’ala membekalinya dengan instrumen yang dalam terminologi akidah disebut mukjizat—sesuatu yang melemahkan lawan dan berada di luar jangkauan hukum alam biasa.
Persoalannya bukan sekadar tongkat yang berubah menjadi ular. Dalam perspektif interpretatif, peristiwa ini adalah simulasi mental bagi Musa sebelum ia berhadapan dengan rezim Fir’aun yang mengandalkan sihir dan kekuatan militer. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam
Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut bertujuan menenteramkan hati Musa. Tanpa visualisasi kekuasaan Allah secara langsung, beban psikologis menghadapi tiran sekaliber Fir’aun tentu akan sangat berat bagi manusia biasa.
Mari kita lihat fragmen di Surah Thaha ayat 19 hingga 21:
قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ . فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ . قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰAllah berfirman: Lemparkanlah ia, Hai Musa! Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: Peganglah ia dan jangan takut, kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.Perintah Allah agar Musa memegang kembali ular tersebut adalah ujian keberanian. Musa diperintahkan untuk menundukkan rasa takut alaminya melalui ketaatan mutlak. Di sini, mukjizat berfungsi sebagai media pendidikan karakter. Ketika tongkat itu kembali ke wujud kayu, Musa memahami satu hakikat: bahwa zat benda berada di bawah kendali penuh Sang Khalik, bukan pada hakikat benda itu sendiri.
Tak berhenti di situ, Allah memerintahkan Musa menyisipkan tangannya ke ketiak. Begitu dikeluarkan, tangan itu memancarkan cahaya putih cemerlang tanpa cacat (
baydha’ min ghayri su’). Ini adalah counter-logic terhadap persepsi fisik. Cahaya tersebut bukan penyakit kusta, melainkan representasi dari kebenaran yang benderang. Ibnu Katsir dalam
Tafsir al-Quran al-Azhim menekankan bahwa dua tanda awal ini—tongkat dan tangan—adalah pembuka dari rangkaian sembilan mukjizat yang akan mengguncang stabilitas Mesir.
Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 101, Musa dibekali sembilan mukjizat nyata. Ulama dunia seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa mukjizat selalu datang selaras dengan keahlian yang sedang digandrungi masyarakat pada zamannya. Pada masa itu, Mesir adalah pusat ilmu sihir. Allah memberikan Musa mukjizat yang secara kasat mata mirip dengan sihir namun secara hakikat menghancurkannya. Ini adalah bentuk diplomasi Sang Pencipta yang menggunakan bahasa yang dipahami oleh audiensnya saat itu.
Mukjizat-mukjizat lainnya, seperti belalang, kutu, katak, hingga darah, merupakan serangan terhadap stabilitas ekonomi dan kesehatan Mesir Kuno. Setiap tanda kekuasaan ini datang sebagai peringatan bertahap (gradual). Allah tidak langsung membinasakan Fir’aun, melainkan memberikan argumentasi hissi (yang bisa diindra) agar mereka berpikir.
Secara filosofis, naskah ini ingin menegaskan bahwa kekuatan materi yang disembah Fir’aun—sungai Nil yang mengalir, tentara yang besar, dan sihir yang memukau—hanyalah fatamorgana jika berhadapan dengan kehendak Rabb semesta alam. Bagi Musa, mukjizat adalah "paspor" kenabian yang melegitimasi bahwa ia bukan sekadar aktivis politik yang menuntut kebebasan Bani Israil, melainkan utusan resmi dari Pemegang Otoritas Tertinggi.
Kesimpulannya, pemberian mukjizat di Thuwa bukan hanya tentang pertunjukan keajaiban. Ia adalah bekal intelektual dan spiritual bagi seorang nabi. Dengan bekal itu, Musa tidak lagi memandang Fir’aun sebagai tuhan yang menakutkan, melainkan sebagai makhluk lemah yang sedang menunggu waktu kehancurannya. Keajaiban tongkat itu adalah pesan abadi bahwa di atas setiap penguasa yang sombong, ada Kekuatan Yang Tak Terlihat yang mampu membalikkan keadaan dalam sekejap mata.
(mif)