LANGIT7.ID-Dunia Bani Israil saat itu tengah terpukau oleh retorika sang pemimpin. Di hadapan kaumnya, Nabi Musa Alaihissalam berdiri menyampaikan khutbah yang memukau. Namun, sebuah pertanyaan sederhana dari audiens—siapakah manusia paling berilmu—memantik sebuah teguran Allah Taala. Dengan lugas Musa menjawab, "Saya." Jawaban itu, meski secara lahiriah didasarkan pada statusnya sebagai penerima wahyu langsung, dinilai Allah sebagai bentuk kelalaian dalam menisbatkan ilmu kepada Sang Pemilik Ilmu.
Dalam catatan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari melalui karyanya
Qishshah Musa alaihis salam wa Malakul Maut, peristiwa ini menjadi titik mula pengembaraan epik menuju Majma' al-Bahrain atau pertemuan dua lautan. Allah mengabarkan adanya seorang hamba yang memiliki derajat keilmuan yang tidak dimiliki Musa. Maka, berangkatlah Musa didampingi pemuda bernama Yusya bin Nun, dengan instruksi unik: bawalah ikan sebagai kompas gaib. Jika ikan itu hilang, di sanalah sang guru berada.
Pencarian itu menemui titik krusial di sebuah batu besar. Di tempat itulah, fenomena metafisika terjadi; ikan yang menjadi bekal tiba-tiba hidup kembali dan melompat ke lautan. Musa yang kelelahan baru menyadari kehilangan itu setelah perjalanan berlanjut hingga pagi. Al-Quran mengabadikan keletihan itu dalam surah al-Kahfi ayat 62:
قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗاBerkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."Langkah kaki pun berbalik arah menuju batu tadi. Di sana, seorang sosok misterius bernama Khidir telah menunggu. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah kontrak pedagogis yang berat. Khidir sejak awal telah memberikan peringatan keras bahwa logika syariat yang dibawa Musa mungkin akan berbenturan dengan logika hakikat yang diembannya. "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku," ujar Khidir dingin.
Ketidakmampuan manusia memahami rahasia takdir digambarkan melalui tiga peristiwa yang mengguncang nalar Musa. Pertama, pelubangan kapal yang telah menolong mereka tanpa bayaran. Kedua, pembunuhan seorang anak kecil yang tampak tak berdosa. Ketiga, perbaikan dinding rumah di sebuah negeri yang penduduknya justru pelit dan enggan menjamu tamu.
Setiap tindakan Khidir dijawab Musa dengan protes keras. Baginya, tindakan-tindakan tersebut melanggar batas moral dan logika hukum. Namun, Khidir tetap pada posisinya:
قَالَ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗاDia (Khidir) berkata: "Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku." (QS. al-Kahfi: 72).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam
Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa perjalanan ini adalah pelajaran tentang keterbatasan persepsi manusia. Apa yang tampak sebagai musibah (kapal bocor) sebenarnya adalah penyelamatan dari rampasan raja zalim. Apa yang tampak sebagai kekejaman (kematian anak) adalah perlindungan bagi iman kedua orang tuanya. Dan apa yang tampak sebagai kerja bakti sia-sia (memperbaiki dinding) adalah penjagaan terhadap harta anak yatim.
Interpretasi yang paling mendalam dari kisah ini adalah metafora burung yang mencelupkan paruhnya ke laut. Khidir mengingatkan Musa bahwa seluruh ilmu manusia, termasuk ilmu mereka berdua, hanyalah setetes air di ujung paruh burung dibandingkan dengan samudera ilmu Allah yang tak bertepi.
Kisah Musa dan Khidir di atas batu serta perjalanan lautan ini mengajarkan satu hal: ilmu menuntut ketundukan ego. Bahkan seorang nabi setingkat Ulul Azmi pun harus menempuh perjalanan melelahkan untuk memahami bahwa di atas setiap orang yang berilmu, masih ada Yang Maha Mengetahui. Sayangnya, keterbatasan sabar manusia membuat perjalanan itu harus berakhir di dinding rumah yang roboh, meninggalkan rasa penasaran yang abadi bagi umat sesudahnya.
(mif)