LANGIT7.ID- Sosok itu muncul dalam banyak kisah: dari laki-laki berjubah hijau yang memakaikan pakaian kerohanian kepada seorang salik hingga guru rahasia yang kerap ditemui orang-orang saleh di tengah malam. Ia disebut Khidir, tokoh misterius yang menjadi bagian dari imajinasi Islam sepanjang berabad-abad. Namun Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam Fatawa Qardhawi terbitan 1996, meminta umat bersandar pada satu hal yang lebih pasti daripada cerita pulung: ilmu.
Dalam surat Al-Kahfi, Khidir diperkenalkan sebagai hamba saleh yang mengajar Musa tentang makna sabar dan hikmah ilahi yang tak selalu tampak pada permukaan. Narasi Qurani itu ringkas, tanpa detail ajaib yang meletup di literatur populer. Yang beredar kemudian, kata Qardhawi, jauh lebih panjang: Khidir masih hidup sejak sebelum Musa hingga hari ini; ia menjumpai wali-wali tertentu; ia hadir di Arafah bersama malaikat; ia menampakkan diri saat majelis-majelis zikir memuncak. Semua ini, tulis Ibn al-Qayyim dalam Al-Manaarul Muniif, adalah ciri hadis palsu.
Pendekatan skeptis ini sejajar dengan tradisi kritik hadis modern. Ignaz Goldziher dalam Muslim Studies mencatat bahwa kisah-kisah sufi sering berkembang menjadi narasi sejarah ketika khalayak tidak lagi membedakan antara sastra devosional dan catatan faktual. Jonathan Brown dalam
Hadith: Muhammad’s Legacy, menambahkan bahwa literatur keagamaan pascaklasik punya pola mirip: kisah yang secara spiritual menyentuh mudah diterima sebagai peristiwa, bukan simbol. Di sinilah Qardhawi berdiri—mengembalikan Khidir ke bingkai awalnya, bukan sebagai sosok abadi yang menghuni padang dan gunung, tetapi figur Qurani dengan misi spesifik.
Di banyak kota Muslim, keyakinan tentang Khidir yang hidup abadi tak pernah benar-benar padam. Ia muncul sebagai penolong musafir, pembuka rahasia para wali, bahkan simbol guru ideal yang mengajari tanpa syarat. Tradisi tasawuf menghidupi gambaran itu, sebagaimana dicatat Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam: Khidir menjadi arketipe penunjuk jalan, sosok yang menyeberangi batas dunia lahir dan batin. Tapi bagi para ahli fikih dan ahli hadis, garis pemisahnya jelas. Jika ia manusia, ia tunduk pada hukum kematian. Jika ia nabi, ia wajib datang kepada Nabi Muhammad, belajar dan berjihad bersamanya. Catatan sejarah Badar yang mencatat 313 nama peserta, menurut ulama seperti Ibn Taymiyyah, adalah bukti diam: Khidir tidak termasuk di sana.
Qardhawi tidak sedang memerangi tradisi, tetapi mempertanyakan apa yang dipertahankan tanpa dasar. Ia mengutip ayat Al-Anbiya yang menegaskan bahwa tidak ada manusia yang diberi keabadian. Ia juga menautkan sabda Nabi tentang tidak adanya manusia yang hidup lebih dari seratus tahun sejak era beliau, yang oleh Imam Bukhari dijadikan alasan menolak keyakinan umur panjang Khidir. Argumen ini bergerak di antara logika teks, sejarah riwayat, dan nalar yang dijunjung Ibn Khaldun: bahwa kisah, betapapun indahnya, harus diuji oleh akal sehat dan kaidah transmisi.
Namun Qardhawi tidak menutup pintu rapat-rapat. Ia mengakui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang status Khidir: nabi atau wali. Argumennya memihak pada yang pertama, dengan menekankan ayat Al-Kahfi yang menyebut bahwa tindakan Khidir dilakukan bukan atas kemauan sendiri, melainkan wahyu. Dengan kata lain, ia adalah nabi dengan misi terbatas, bukan figur supranatural yang melintasi zaman tanpa kewajiban syariat.
Pertanyaan terbesar kemudian: mengapa kisah Khidir begitu melekat? Jawabannya mungkin terletak pada fungsi psikologisnya. Kesulitan hidup membuat orang merindukan hadirnya penunjuk jalan yang tak terlihat. Legenda tentang guru gaib menawarkan keteduhan spiritual saat otoritas keagamaan dianggap gagal memberi jawaban. Fenomena ini, dalam bahasa Goldziher, adalah kebutuhan manusia untuk mengisi ruang kosong antara wahyu dan realitas.
Di tengah budaya populer yang kembali memproduksi cerita keajaiban dari video singkat hingga kisah viral, peringatan Qardhawi terasa seperti teguran lama yang menemukan waktunya lagi: iman tidak tumbuh dari dongeng, melainkan dari disiplin ilmu. Khidir tetap milik Qurani, bukan panggung cerita yang tak pernah diuji. Sementara selebihnya, biarkan logika, sejarah, dan sumber primer menjadi penuntunnya.
(mif)