Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Bukan Hawa yang Salah: Mendobrak Stigma Wanita Sumber Bencana

miftah yusufpati Kamis, 15 Januari 2026 - 04:15 WIB
Bukan Hawa yang Salah: Mendobrak Stigma Wanita Sumber Bencana
Islam justru membersihkan nama wanita dan menempatkannya sebagai mitra sejajar laki-laki. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Selama berabad-abad, sebuah narasi gelap membayangi eksistensi perempuan dalam sejarah agama. Ada anggapan kolot yang menyebut wanita sebagai biang keladi penderitaan manusia. Logikanya sederhana namun menyesatkan: Adam terusir dari surga karena godaan Hawa. Namun, Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-fatwa Kontemporer yang diterbitkan Gema Insani Press membedah kekeliruan ini dengan sangat tajam. Menurut Qardhawi, Islam justru datang untuk membersihkan nama wanita dari tuduhan yang tidak berdasar tersebut.

Dalam literatur yang sering disalahpahami, wanita dianggap sebagai sumber fitnah yang menghancurkan. Namun, jika kita merujuk pada Al-Quran, khususnya surat Thaha ayat 115-122, tanggung jawab pertama atas pelanggaran di surga justru diletakkan pada pundak Adam, bukan Hawa. Islam tidak mengenal konsep bahwa wanita adalah pembawa sial atau penyebab kesengsaraan anak cucu manusia sejak zaman bapak manusia hingga sekarang. Sebaliknya, tugas dan tanggung jawab diberikan Allah kepada keduanya secara adil dan utuh.

Qardhawi menyayangkan adanya penceramah yang menggunakan hadits-hadits peringatan terhadap fitnah wanita secara tidak proporsional. Padahal, Islam memuliakan wanita dalam setiap tahap kehidupannya; sebagai manusia, anak, istri, hingga ibu. Menisbatkan segala penderitaan dunia kepada perempuan adalah bentuk kezaliman yang jauh dari logika Islam. Syariat telah menempatkan wanita pada posisi yang sangat jelas, memberikan hak-haknya, dan melindunginya sebagai anggota masyarakat yang setara dalam mendapatkan pahala maupun siksa.

Mitos bahwa wanita adalah jelek segala-galanya, yang sering dikaitkan dengan perkataan Ali bin Abi Thalib, ditegaskan oleh Qardhawi sebagai pandangan yang tidak dapat diterima. Ia bukan berasal dari logika Islam dan bukan berasal dari nash yang sahih. Islam justru menyejajarkan muslim dengan muslimah dalam ketaatan dan keimanan. Dengan demikian, merendahkan wanita dengan dalih agama adalah sebuah penyimpangan besar yang harus diluruskan dengan pemahaman yang jernih terhadap sumber asli ajaran Islam.

Seringkali, hadits Rasulullah SAW tentang fitnah wanita dijadikan alat untuk memarjinalkan perempuan. Padahal, makna fitnah dalam konteks tersebut adalah ujian, sebagaimana harta dan anak-anak juga merupakan fitnah. Syaikh Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa manusia lebih sering diuji dengan kenikmatan daripada musibah. Wanita, sebagaimana harta, adalah kenikmatan hidup yang jika tidak disikapi dengan iman dapat melalaikan manusia dari Tuhannya. Jadi, peringatan tersebut adalah bentuk mawas diri bagi laki-laki, bukan vonis kejahatan bagi wanita.

Dalam pandangan Qardhawi, merendahkan wanita adalah tindakan yang sangat memprihatinkan, apalagi jika dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Islam justru memberikan ruang bagi wanita untuk berkontribusi dalam masyarakat. Sejarah mencatat bagaimana Nabi SAW bermusyawarah dengan istrinya, Ummu Salamah, dan menerima pemikirannya dengan rela. Ini membuktikan bahwa akal dan pendapat wanita memiliki nilai yang tinggi dalam Islam. Hadits yang memerintahkan untuk menyelisihi pendapat wanita dipastikan sebagai hadits palsu atau maudhu yang tidak memiliki bobot ilmiah.

Lebih jauh lagi, Qardhawi menekankan bahwa tidak ada satu pun nash sahih yang menyatakan Hawa adalah penyebab utama penderitaan manusia. Pandangan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh riwayat-riwayat luar yang tidak sejalan dengan prinsip Al-Quran. Al-Quran menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dengan menempatkan wanita kembali sebagai mitra sejajar laki-laki, Islam mengembalikan martabat kemanusiaan yang sempat terkubur oleh tradisi-tradisi misoginis pra-Islam maupun penafsiran yang keliru.

Kesimpulannya, memuliakan wanita dalam Islam adalah kewajiban yang berakar pada teks-teks suci. Wanita adalah manusia yang diberi taklif penuh. Penjelasan Qardhawi ini menjadi oase bagi mereka yang selama ini terpojok oleh narasi-narasi ekstrem. Pemurnian pemahaman ini penting agar Islam tidak dituduh zalim, dan agar umat Islam sendiri tidak terjerumus dalam perilaku merendahkan wanita yang justru dilarang oleh Rasulullah SAW. Wanita adalah pilar masyarakat, dan kehormatannya adalah cerminan dari kemajuan sebuah peradaban iman.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)