LANGIT7.ID - Di ruang-ruang publik hari ini, perdebatan tentang kedudukan perempuan dalam Islam masih sering muncul dengan wajah lama: apakah perempuan “cuma pelengkap” dari lelaki, atau sejajar sebagai manusia utuh? Diskursus itu berkelindan dengan tafsir klasik soal asal kejadian Hawa—yang oleh sebagian mufasir diyakini tercipta dari tulang rusuk Adam.
Narasi itu, meski akrab di pengajian-pengajian, perlahan mulai ditantang tafsir kontemporer. Bukan hanya karena basis dalilnya lemah, tapi juga karena ia menumbuhkan warisan bias gender yang berlarut-larut: anggapan bahwa perempuan diciptakan “sekadar bagian” dari lelaki.
Quraish Shihab, dalam
Wawasan Al-Qur’an, mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah secara eksplisit menyebut asal perempuan dari tulang rusuk. Sebaliknya, ayat-ayat awal surat An-Nisa dan Al-Hujurat menekankan bahwa manusia diciptakan dari nafs wahidah—jiwa yang satu. “Kemuliaan bukan pada jenis kelamin, melainkan pada takwa,” tulisnya.
Baca juga: Dari Yunani hingga Romawi: Al-Qur’an Datang Memulihkan Martabat Perempuan Warisan Tulang RusukSejarah penafsiran panjang memang memberi bobot pada tafsir yang menghubungkan perempuan dengan tulang rusuk Adam. Al-Qurthubi, dalam tafsir klasiknya, menegaskan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri yang bengkok. Tafsir itu dikuatkan oleh hadis riwayat Abu Hurairah, yang menyebut perempuan diciptakan dari tulang rusuk bengkok sehingga tak mungkin diluruskan.
Namun tafsir demikian tak bebas dari kritik. Mahmud Syaltut, mantan Syekh Al-Azhar, dalam Min Tawjihat al-Islam menyatakan potensi perempuan dan lelaki setara: sama-sama berhak berjual beli, menikah, memberi kesaksian, dan menanggung tanggung jawab sosial. Syaltut menyebut pemahaman literal soal tulang rusuk lebih banyak mewarisi dongeng Perjanjian Lama ketimbang cermatan Qur’ani.
Kritik serupa datang dari Rasyid Ridha. Dalam Tafsir al-Manar, ia menegaskan, “Seandainya tidak tercantum kisah itu dalam Perjanjian Lama, niscaya ide tentang perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam tak pernah terlintas dalam benak seorang Muslim.”
Tafsir Baru, Realitas BaruBagi ulama kontemporer seperti Thabathaba’i, ayat-ayat tentang asal kejadian perempuan justru menegaskan kesamaan jenis penciptaan: perempuan dan lelaki sama-sama manusia, sama-sama anak Adam. Tak ada keistimewaan satu atas yang lain kecuali ketakwaan.
Baca juga: Menjahit Kasih dan Keadilan: Narasi Perempuan dalam Al-Qur'an Perspektif itu bergema di ruang sosial kita hari ini. Perempuan Indonesia berjuang mengikis bias tafsir yang telah melahirkan struktur diskriminatif: mulai dari aturan yang membatasi gerak mereka di sekolah, tempat kerja, hingga politik.
“Kalau tafsir lama itu terus dipelihara, ia menjadi legitimasi bagi ketidaksetaraan,” kata Lies Marcoes, aktivis gender yang kerap mengutip tafsir progresif Quraish Shihab dan Rasyid Ridha.
Pergeseran tafsir ini juga terasa dalam putusan Mahkamah Konstitusi, perdebatan soal UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, hingga kebijakan kuota 30 persen perempuan di parlemen. Tafsir yang menempatkan perempuan sebagai “ciptaan dari lelaki” rentan dipakai menolak keterlibatan perempuan di ruang publik.
Hawa yang DisalahkanDi sebagian forum, perempuan kerap dituding sebagai sebab Adam diusir dari surga. “Kalau bukan karena Hawa, manusia tak akan turun ke bumi,” begitu bunyi tafsir populer.
Padahal Al-Qur’an menyebut keduanya sama-sama tergelincir oleh godaan iblis. Surah Al-A’raf dan Al-Baqarah menuturkan setan membisikkan kepada keduanya. Jika ada ayat tunggal yang menyebut hanya Adam, itu justru menegaskan kepemimpinan dan tanggung jawab Adam sebagai suami.
“Tidak ada satu ayat pun yang melempar kesalahan semata-mata pada Hawa,” ujar Quraish Shihab. Dengan demikian, penyudutan perempuan sebagai biang keladi dosa adalah distorsi yang lahir dari budaya patriarkis, bukan dari teks wahyu.
Baca juga: Rabi‘ah al-Adawiyah: Perempuan yang Menyalakan Cahaya di Basrah Membaca Ulang, Menata UlangDi tengah kebangkitan wacana kesetaraan gender, tafsir Al-Qur’an atas asal kejadian perempuan menjadi relevan. Pandangan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam—dan karena itu lebih rendah—sudah lama dikoreksi oleh banyak mufasir.
Tempo merekam geliat pembacaan baru ini di kalangan akademisi muda Islam. Di kampus-kampus, dari UIN Jakarta hingga Yogyakarta, tafsir klasik diteliti ulang. Narasi “tulang rusuk” dibaca sebagai metafora, bukan fakta biologis. Ia menjadi simbol bahwa lelaki dan perempuan berbeda karakter, dan karena itu perlu saling melengkapi—bukan untuk melegitimasi subordinasi.
Perubahan tafsir sejalan dengan kebutuhan sosial. Di ruang politik, perempuan menjadi menteri, hakim agung, bahkan presiden. Di dunia bisnis, mereka duduk di kursi CEO. Dan di pesantren-pesantren, kiai perempuan mulai mendapat ruang.
Al-Qur’an, dengan bahasa metaforiknya, menegaskan: manusia diciptakan dari jiwa yang satu. Tak ada keutamaan lelaki atas perempuan kecuali ketakwaan. Tafsir progresif mengembalikan perempuan ke posisi sejajar, mengikis warisan tafsir yang menundukkan.
Pertanyaan hari ini bukan lagi “dari mana perempuan berasal”, tapi “ke mana perempuan akan bergerak.” Karena sejatinya, asal-usul penciptaan hanyalah pintu masuk bagi tafsir yang lebih penting: kemanusiaan, tanggung jawab, dan kesetaraan di hadapan Tuhan.
Baca juga: Menggali Kubur Peradaban: Ketika Bayi Perempuan Menjadi Aib(mif)