Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Menggali Kubur Peradaban: Ketika Bayi Perempuan Menjadi Aib

miftah yusufpati Ahad, 03 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Menggali Kubur Peradaban: Ketika Bayi Perempuan Menjadi Aib
Praktik penguburan hidup-hidup tidak hanya berlaku secara fisik, melainkan juga simbolik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Wajahnya merah padam. Bukan karena bahagia, melainkan karena murka dan malu. Kelahiran anak perempuan, dalam budaya jahiliah Arab, bukan anugerah, melainkan musibah. Ia ditangisi, bukan dirayakan. Anak perempuan dianggap beban, sumber aib, dan potensi kehinaan yang bisa mencoreng nama kabilah.

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah mukanya, dan dia sangat marah...” (QS an-Nahl: 58-59). Ayat itu merekam respons psikologis khas masyarakat patriarkis ekstrem: murka terhadap karunia Tuhan, hanya karena jenis kelamin sang anak.

Fenomena tersebut bukan sekadar ekspresi emosional, tapi juga menandakan konstruksi sosial yang cacat, bahwa kehormatan ditentukan oleh jenis kelamin, dan perempuan bukan bagian dari warisan kejayaan. Sebagian orang bahkan mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup, praktik keji yang dikenal dalam sejarah sebagai wa’d.

Al-Qur’an tidak hanya mencela praktik ini, tetapi juga menyusun narasi tandingan yang revolusioner. Dalam QS al-Isra’ ayat 31, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu...” Ayat ini menyoroti akar persoalan: ketakutan ekonomi yang dibungkus kehormatan palsu. Ketakutan yang melahirkan kekerasan sistematis.

Baca juga: Perempuan Saudara Kandung Laki-Laki: Menafsir Ulang Karakteristik Wanita Muslimah

Di Surah at-Takwir (8-9), pengadilan ilahi digambarkan sangat tajam: “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” Pertanyaan itu retoris, dan menyayat. Dosa apakah? Ia belum sempat tumbuh, belum sempat bicara. Tapi tubuhnya sudah menjadi korban struktur yang membunuh bahkan sebelum hidup dimulai.

Dalam buku Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 1996), Prof Dr. M. Quraish Shihab menyebut bahwa ayat-ayat seperti ini menandai babak baru dalam peradaban manusia. Islam datang bukan sekadar menolak penguburan bayi, tetapi menegaskan kesetaraan eksistensial perempuan dalam seluruh dimensi hidup: akal, jiwa, dan peran sosial.

Namun warisan sosial dari era jahiliah tak serta-merta lenyap. Dalam Kebebasan Wanita dalam Islam (Tahrirul-Mar’ah fi ‘Ashrir-Risalah) karya Abdul Halim Abu Syuqqah (Gema Insani Press, 1998), dijelaskan bahwa meskipun Nabi telah mengangkat derajat perempuan lewat wahyu dan teladan hidup, banyak kaum Muslim justru kembali menurunkan mereka dalam realitas sosial. Pemelintiran terhadap teks agama dan dominasi budaya patriarkal membuat perempuan tetap terkungkung, bahkan dalam masyarakat modern.

"Musuh terbesar perempuan bukan syariat Islam," tulis Abu Syuqqah, "melainkan warisan adat jahiliah yang dibungkus dengan justifikasi agama." Kekerasan simbolik ini sering kali justru dilestarikan oleh tafsir-tafsir konservatif yang membatasi peran perempuan hanya di ranah domestik.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Mana Lelaki, Mana Perempuan?

Kini, kita memang tidak lagi menyaksikan bayi perempuan dikubur secara harfiah. Tapi penguburan secara sosial dan struktural masih terus terjadi. Ketika anak perempuan dilarang sekolah karena alasan tradisi, ketika perempuan korban kekerasan seksual disalahkan karena pakaian, ketika suara mereka di ruang publik ditertawakan, ketika potensi mereka dipenjara dalam stereotip dan stigma. Itulah wajah baru praktik wa’d.

Pertanyaan Al-Qur’an dalam surah at-Takwir (8-9) tetap relevan: “Karena dosa apakah mereka dibunuh?

Pertanyaan yang mengguncang kesadaran, bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, melainkan sebagai kritik abadi terhadap peradaban yang terus saja menggali kubur bagi separuh umat manusia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)