LANGIT7.COM-Suatu hari, seorang tetangga
Nasrudin Hoja kembali ke kampung setelah lama bepergian ke negeri yang jauh. Orang-orang berkumpul untuk mendengar ceritanya tentang negeri-negeri asing yang aneh-aneh.
Sambil duduk bersama Nasrudin di balai desa, ia mulai berkisah:
“Kau tahu, Nasrudin,” katanya penuh semangat, “di salah satu negeri yang aku kunjungi, udaranya panas sekali. Sangat panas, sampai-sampai tak seorang pun yang mau mengenakan pakaian, baik laki-laki maupun perempuan. Semuanya telanjang begitu saja!”
Orang-orang terkejut mendengar cerita itu. Tetapi Nasrudin hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum geli.
“Wah,” kata Nasrudin akhirnya, “kalau begitu, di sana pasti sulit sekali, ya?”
“Sulit bagaimana?” tanya si tetangga.
Nasrudin menjawab sambil mengangkat alis:
“Ya, bagaimana cara kita membedakan mana yang lelaki dan mana yang perempuan? Semua pasti sibuk melihat ke bawah, lupa melihat ke atas!”
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Upah dari Allah, dan Tetangga yang Malang Orang-orang yang mendengarnya terdiam sebentar, lalu meledaklah tawa mereka bersama-sama, sementara si tetangga hanya garuk-garuk kepala, bingung apakah ia sedang diolok atau diberi nasihat.
---
Hikmah, seperti banyak kisah Nasrudin, terselip di balik kelucuan dan sindirannya. Beberapa pelajaran yang bisa dipetik antara lain:
1. Jangan hanya terpaku pada yang lahiriah
Nasrudin menyindir cara pandang yang hanya melihat perbedaan fisik/lahiriah (seperti pakaian, tubuh) untuk menilai seseorang. Padahal yang lebih penting adalah mengenali sifat, akhlak, dan hakikatnya, bukan hanya penampilan luar.
2. Manusia sering lupa memandang ke atas (kepada Tuhan)
Kalimat Nasrudin tentang “sibuk melihat ke bawah, lupa melihat ke atas” juga bisa dimaknai bahwa manusia sering terjebak pada hawa nafsu dan hal-hal duniawi (simbol “melihat ke bawah”), sehingga lupa untuk mengingat Allah, beribadah, dan memandang kepada hal-hal yang lebih tinggi dan bermakna.
Baca juga: Kisah Humor Nasrudin Hoja: Jubah-Jubah yang Diselundupkan 3. Cerita-cerita aneh seringkali menguji akal sehat kita
Nasrudin dengan humor cerdasnya menunjukkan bahwa tidak semua cerita yang aneh harus diterima begitu saja tanpa berpikir. Kadang kita perlu mempertanyakan dan melihat dengan sudut pandang yang lebih bijak.
Seperti biasa, kisah-kisah sufi mengajak kita tersenyum sambil merenung. Kalau ingin, aku juga bisa bantu buatkan tafsir lebih mendalam atau versi hikmah lainnya.
(mif)