Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 27 Mei 2026
home masjid detail berita

Doa Para Malaikat bagi si Kikir: Mengurai Petaka di Balik Penumpukan Harta

miftah yusufpati Jum'at, 10 April 2026 - 05:48 WIB
Doa Para Malaikat bagi si Kikir: Mengurai Petaka di Balik Penumpukan Harta
Di setiap pintu langit, ada pengawasan moral terhadap arus kas manusia. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam lanskap ekonomi modern, keberhasilan sering kali diukur dari akumulasi angka di buku tabungan dan aset yang tak bergerak. Namun, dalam cakrawala teologis yang dibedah oleh Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi dalam karyanya, Man Tushallii alaihimul Malaa-ikatu wa Man Talanuhum, terdapat sebuah mekanisme transendental yang bekerja di luar nalar matematika pasar. Di sana, setiap keping harta yang ditahan dari hak orang lain justru mengundang daya rusak yang dikirim langsung melalui lisan para malaikat.

Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Orang-Orang Yang Dilaknat Malaikat ini menguraikan sebuah realitas metafisik yang berlangsung setiap hari. Berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah menggambarkan adanya dua malaikat yang turun mengiringi aktivitas manusia sejak terbit fajar. Salah satunya membawa kabar gembira berupa doa penggantian bagi para dermawan, sementara yang lain membawa kalimat mengerikan: Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.

Istilah kikir dalam konteks ini, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Malla Ali al-Qari, memiliki spektrum yang luas. Kikir bukan hanya berarti menolak memberi, tetapi juga sikap menutup diri dari segala pintu kebaikan yang membutuhkan dukungan finansial. Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap fungsi sosial harta.

Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan catatan kaki yang sangat krusial dalam memahami doa kehancuran ini. Menurutnya, kehancuran yang dimaksud bisa berupa lenyapnya fisik harta tersebut atau hilangnya keberkahan dari pemiliknya. Ketika harta kehilangan kebaikan, pemiliknya akan disibukkan dengan urusan-urusan yang melelahkan namun tidak mendatangkan manfaat sejati, sebuah kondisi yang dalam bahasa sosiologi agama disebut sebagai kemiskinan batin di tengah gelimang materi.

Lebih dalam lagi, naskah Dr. Fadhl Ilahi mengutip riwayat dari Imam Ahmad dan al-Hakim yang menggambarkan betapa krusialnya transisi waktu antara matahari terbit dan terbenam. Seruan malaikat ini sebenarnya terdengar oleh seluruh penduduk bumi, kecuali jin dan manusia yang sering kali tertutup oleh hiruk-pikuk keduniawian. Pesan sentralnya jelas: yang sedikit namun cukup jauh lebih baik daripada yang banyak tetapi digunakan untuk foya-foya. Di sini, nilai sebuah aset tidak lagi ditentukan oleh nominalnya, melainkan oleh dampaknya. Harta yang produktif secara sosial mendapatkan jaminan penggantian, sementara harta yang stagnan dan egois mendapatkan percepatan kehancuran.

Dr. Fadhl Ilahi juga menyitir riwayat dari Abu Hurairah yang menggambarkan adanya malaikat di pintu-pintu langit. Salah satunya menegaskan prinsip pinjaman kepada Tuhan yang akan dibalas di kemudian hari. Ini adalah sebuah paradoks ekonomi langit: memberi berarti menabung, sedangkan menyimpan secara berlebihan berarti membuang. Percepatan kehancuran bagi mereka yang memegang erat hartanya adalah bentuk keadilan Ilahi agar sumber daya tidak berhenti pada satu titik yang hanya memicu kesenjangan dan kesombongan.

Interpretasi atas fenomena ini memberikan sudut pandang baru dalam melihat fluktuasi kekayaan manusia. Sering kali, kebangkrutan atau hilangnya nilai aset yang tidak terduga dipandang sebagai murni kegagalan manajerial. Namun, dari kacamata karya ilmiah ini, boleh jadi itu adalah perwujudan dari doa-doa malaikat yang merespons kekikiran pemiliknya. Harta yang tidak mengalir ke saluran kebajikan akan membusuk dan merusak wadahnya sendiri.

Naskah ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di setiap pintu langit, ada pengawasan moral terhadap arus kas manusia. Menjadi dermawan bukan sekadar tentang kemanusiaan, melainkan strategi bertahan hidup agar terhindar dari doa-doa keburukan makhluk yang tak pernah berdosa. Sebuah peringatan halus bahwa tangan yang terbuka akan selalu menerima ganti, sementara tangan yang mengepal hanya akan memegang kehancuran yang dipercepat oleh waktu.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 27 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)