Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 02 Juli 2026
home masjid detail berita

Doa Malaikat bagi Mereka yang Sedang Sahur: Mengurai Nalar Medis Makan Sahur

miftah yusufpati Kamis, 02 Juli 2026 - 05:20 WIB
Doa Malaikat bagi Mereka yang Sedang Sahur: Mengurai Nalar Medis Makan Sahur
Waktu sepertiga malam terakhir merupakan fase krusial di mana gerbang pengabulan doa dibuka secara lebar. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suasana senyap menyelimuti sudut perkampungan Madinah ketika jam dinding imajiner menunjukkan waktu sepertiga malam terakhir.

Di dalam sebuah rumah sederhana, kepulan asap tipis mulai membubung dari tungku tanah liat yang membakar beberapa butir kurma dan gandum.

Seorang pria tampak duduk di atas tikar, menyuap makanan dengan tenang demi mempersiapkan fisiknya menghadapi ibadah puasa beberapa jam ke depan.

Aktivitas makan di waktu yang tidak lazim ini sekilas hanya terlihat seperti pemenuhan kebutuhan biologis dasar manusia agar tidak lemas di siang hari.

Namun, dalam kacamata hukum Islam, setiap suapan nasi dan seteguk air yang masuk ke dalam kerongkongan pada waktu tersebut memicu sebuah gerakan metafisika yang besar.

Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam mimpi, mereka yang mengunyah makanan sahur justru sedang dikelilingi oleh kesibukan para malaikat yang dikirim khusus untuk memohonkan ampunan dan keselamatan.

Menu makanan sahur yang dikonsumsi oleh masyarakat muslim memiliki dimensi nilai yang melompat jauh di luar urusan kalori.

Fenomena ini dibahas secara tematis dalam buku berjudul Mereka Didoakan Malaikat yang ditulis oleh ulama Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi.

Penulis menyodorkan data tekstual dari dokumen hadis otentik yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad jilid 10 halaman 15 dan Ibnu Abi Syaibah jilid 3 halaman 8.

Dalam draf teks tersebut, Nabi Muhammad menekankan urgensi makan sahur sebagai sebuah paket regulasi ibadah yang tidak boleh diabaikan oleh umatnya.

Nabi Muhammad bersabda:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Artinya: Sahur itu makannya merupakan berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang bersahur.

Formulasi Berkah

Penekanan syariat terhadap aktivitas ini diperkuat oleh riwayat lain dari sahabat Anas bin Malik yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari nomor 1923 dan Imam Muslim nomor 1095.

Nabi Muhammad bersabda secara lugas: "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan."

Kata berkah dalam teks hukum Islam tidak bersifat abstrak, melainkan memiliki indikator empiris yang dapat dirasakan langsung pada tubuh dan psikologis jemaah.

Secara data sosiologis dan medis, Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi merinci lima faedah utama yang lahir dari aktivitas makan sahur.

Pertama, pasokan nutrisi di waktu fajar memberikan jaminan kekuatan fisik bagi seorang muslim untuk tetap produktif menjalankan aktivitas kerja dan ibadah di siang hari.

Rasa lapar yang ekstrem akibat melewatkan sahur secara klinis dapat memicu rasa malas dan menurunkan konsentrasi.

Kedua, ketersediaan energi dalam tubuh berfungsi sebagai instrumen pembendung emosi negatif. Manusia yang berada dalam kondisi kelaparan akut cenderung lebih sensitif, mudah marah, dan rentan melakukan perbuatan buruk di ruang publik.

Sahur bertindak sebagai stabilisator psikologis agar pelaku puasa tetap mampu menjaga etika sosialnya.

Pembeda Identitas

Faktor ketiga dan keempat dari urgensi sahur berkaitan dengan aspek historis dan kepatuhan hukum, yaitu sebagai bentuk mencontoh perilaku keseharian Nabi Muhammad serta menjadi garis demarkasi yang membedakan ritus puasa umat Islam dengan puasa ahli kitab pada masa lalu.

Islam menuntut adanya distingsi atau pembeda yang jelas dalam setiap bentuk peribadatan agar tidak terjadi asimilasi budaya yang mengaburkan identitas teologis umat.

Faedah kelima yang paling krusial adalah aspek manajemen waktu. Perintah untuk makan sahur secara otomatis memaksa seorang individu untuk bangun di akhir malam.

Momentum terjaga ini memberikan peluang emas bagi jemaah untuk mengeksekusi berbagai instrumen ibadah sekunder yang memiliki nilai premium, seperti melaksanakan salat malam, berzikir, membaca Al-Qur'an, dan memanjatkan doa secara intensif.

Waktu sepertiga malam terakhir merupakan fase krusial di mana gerbang pengabulan doa dibuka secara lebar.

Panduan Syariat

Aktivitas makan sahur di akhir malam membuktikan bahwa dalam sistem nilai Islam, aspek pemeliharaan kesehatan fisik dan pemenuhan kebutuhan biologis diletakkan pada posisi yang sangat terhormat, bahkan dinilai setara dengan ibadah ritual itu sendiri selama dijalankan berdasarkan panduan syariat.

Sikap disiplin untuk bangun dan mengunyah makanan di waktu sahur menjadi sebuah otokritik bagi pola hidup masyarakat modern yang sering kali mengabaikan keteraturan biologis demi mengejar produktivitas materi yang semu.

Di era digital, saat banyak orang rela begadang hingga larut malam demi berselancar di media sosial atau menyelesaikan pekerjaan kantor namun kemudian melewatkan sarapan pagi dan bangun kesiangan, ritus sahur melatih manusia untuk mengelola waktu dengan lebih presisi.

Mengharapkan datangnya ketahanan mental dan keberkahan spiritual dari Allah dalam menjalani ujian hidup sementara kita malas untuk sekadar bangun meneguk seteguk air di waktu fajar laksana seorang tentara yang bermimpi memenangkan pertempuran besar di medan laga, namun ia sendiri enggan mengisi magasin senjatanya dengan peluru dan menolak memakai rompi pelindung sebelum melangkah ke garis depan perbatasan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 02 Juli 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:00
Ashar
15:21
Maghrib
17:53
Isya
19:07
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan