Umar bin Khattab tercatat menikahi sembilan perempuan dalam fase hidupnya yang melahirkan dua belas anak. Jejak poligami sang khalifah merekam watak keras yang terbawa hingga ke bilik rumah tangga serta potret kesederhanaan ekonomi di tengah ekspansi kedaulatan Islam.
Dua malaikat turun setiap fajar untuk menentukan nasib ekonomi manusia. Bagi mereka yang menggenggam erat hartanya dari jalan kebaikan, kehancuran bukan sekadar ancaman, melainkan doa yang menembus langit.
Kikir bukan sekadar perkara menahan harta, melainkan penyakit jiwa yang menghancurkan tatanan sosial. Dari jerat ular berbisa hingga kehancuran peradaban, bakhil adalah racun bagi keimanan.
Ketika kapitalisme personal merasuk hingga ke relung batin dan kepedulian sosial dianggap sebagai beban ekonomi, nubuat tentang dilemparkannya kekikiran ke dalam hati manusia menjadi nyata.
Kikir bukan sekadar enggan memberi. Ia penyakit sosial yang merusak keadilan dan solidaritas. Dari hadis Nabi hingga teori ekonomi modern, sifat ini terbukti bisa menghancurkan peradaban.
Hampir semua manusia mencintai harta benda dan berbagai perhiasan dunia. Namun sayangnya, berbagai perhiasan dunia tersebut sering membuat manusia menjadi sangat bakhil, pelit alias kikir dan hilang arah.
Akhlak bakhil (kikir) merupakan kutub ekstrim dari israaf (berlebih-lebihan) dan tabdziir (mubazir). Israaf dan tabdziir berarti melebihi batasan, sementara bakhil kurang dari batasan.