Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Kiamat Sudah Dekat: Epidemi Egoisme dan Mengeringnya Sumur Kedermawanan

miftah yusufpati Selasa, 03 Februari 2026 - 17:00 WIB
Kiamat Sudah Dekat: Epidemi Egoisme dan Mengeringnya Sumur Kedermawanan
Kiamat sedang mendekat melalui tangan-tangan yang mengepal erat, melalui hati yang tak lagi bergetar melihat kemiskinan, dan melalui hilangnya rasa cukup dalam jiwa. Ilustrasi AI
LANGIT7.ID-Di tengah kemajuan sistem ekonomi global yang menjanjikan kemudahan akses materi, sebuah ironi psikologis justru sedang menjangkiti manusia modern. Di balik angka pertumbuhan dan kemewahan yang terpampang di etalase digital, tersimpan kecemasan luar biasa akan kekurangan. Manusia kian protektif terhadap apa yang dimilikinya, seolah setiap sen yang keluar adalah ancaman bagi eksistensi dirinya. Dalam diskursus eskatologi Islam, fenomena ini tidak dilihat sebagai sekadar perilaku hemat, melainkan sebuah penyakit hati sistemik yang disebut sebagai asy-syuhhu atau kekikiran yang mendarah daging.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebut, kekikiran diletakkan sebagai salah satu indikator kunci keruntuhan tatanan sosial di ujung zaman. Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah membedah bagaimana rasa kikir bukan lagi sifat individual, melainkan suasana batin kolektif yang sengaja dilemparkan ke tengah masyarakat.

Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ

Artinya: Zaman semakin berdekatan, amal berkurang, dan kekikiran dilemparkan ke dalam hati.

Mekanisme Kekikiran yang Dilemparkan

Penggunaan diksi yulqa (dilemparkan) dalam teks tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa kekikiran ini akan merata, merasuk ke dalam jiwa manusia dengan begitu kuatnya sehingga empati menjadi barang langka. Secara sosiologis, kita melihat hal ini dalam bentuk individualisme ekstrem. Seseorang tidak lagi peduli apakah tetangganya lapar atau kerabatnya kesusahan, selama tumpukan aset pribadinya tetap aman.

Istilah syuhhu berbeda dengan kikir biasa (bukhl). Syuhhu adalah kekikiran yang disertai dengan ketamakan. Ia tidak hanya enggan memberi, tetapi juga memiliki hasrat untuk terus mengambil milik orang lain. Dalam perspektif ekonomi-politik, inilah motor dari eksploitasi dan ketidakadilan distribusi kekayaan yang terjadi hari ini. Ketika kekikiran telah dilemparkan ke dalam hati, maka instrumen sosial seperti zakat, infak, dan sedekah dipandang bukan sebagai solusi, melainkan sebagai pengurangan kekayaan.

Secara analitis, fenomena ini beriringan dengan berkurangnya amal (yanqushul amal). Ketika hati sudah dipenuhi oleh kekhawatiran akan kemiskinan dan pemujaan terhadap angka, maka waktu untuk berbuat kebajikan pun tersita habis untuk akumulasi materi. Kiamat kecil hadir melalui beku dan dinginnya hubungan antarmanusia yang hanya didasarkan pada hitung-hitungan profit.

Matinya Kemanusiaan dalam Kalkulasi Materi

Dalam catatan IslamHouse tahun 2009 ini, diingatkan bahwa kekikiran adalah akar dari berbagai kerusakan besar. Sejarah mencatat bahwa bangsa-bangsa terdahulu hancur karena sifat kikir yang mendorong mereka untuk saling menumpahkan darah dan menghalalkan segala cara demi harta. Di era pasca-modern, kekikiran mewujud dalam bentuk kebijakan yang anti-sosial dan gaya hidup yang hanya mementingkan kenyamanan diri sendiri.

‘Awadh bin ‘Ali mengajak kita melakukan otopsi terhadap nurani publik. Apakah kita sedang berada di masa di mana donasi hanya menjadi sekadar konten pencitraan, sementara di kehidupan nyata kita menutup mata rapat-rapat dari penderitaan sekitar? Jika harta telah menjadi tuhan yang disembah dengan cara ditumpuk, maka nubuatan yulqasy syuhhu sedang menemukan panggung utamanya.

Kiamat sedang mendekat melalui tangan-tangan yang mengepal erat, melalui hati yang tak lagi bergetar melihat kemiskinan, dan melalui hilangnya rasa cukup dalam jiwa. Akhir zaman adalah saat di mana manusia memiliki segalanya namun merasa tidak punya apa-apa untuk dibagikan. Inilah tragedi kemanusiaan yang paling nyata; ketika dunia semakin kaya dengan materi, namun semakin miskin dalam berbagi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan