Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 06 Maret 2026
home masjid detail berita

Melampaui Batas Logika: Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan Ibarat Angin yang Berembus

miftah yusufpati Jum'at, 27 Februari 2026 - 16:00 WIB
Melampaui Batas Logika: Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan Ibarat Angin yang Berembus
Ramadhan adalah bulan di mana setiap kebaikan dilipatgandakan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi masyarakat Madinah empat belas abad silam, Ramadhan bukan hanya berarti perubahan jadwal makan, melainkan tibanya musim kedermawanan yang tak tertandingi. Di tengah kepapaan sebagian penduduknya, sosok Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam muncul sebagai oase yang melimpahkan segala yang beliau miliki kepada siapa saja yang membutuhkan. Jika pada bulan-bulan biasa beliau sudah dikenal sebagai pribadi yang tangan di atas, maka pada bulan Ramadhan, kedermawanan beliau bertransformasi menjadi sesuatu yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menguraikan bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah jalan tunggal menuju kebahagiaan sejati. Meneladani kedermawanan beliau di bulan suci merupakan amalan saleh yang lahir dari ilmu yang bermanfaat. Nabi tidak pernah membiarkan tangannya tertahan oleh rasa khawatir akan masa depan, sebab beliau memahami bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk memberikan manfaat terbaik bagi sesama.

Salah satu metafora paling kuat yang digunakan para sahabat untuk mendeskripsikan sifat pemurah Nabi terekam dalam Shahih Bukhari melalui penuturan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Beliau menyebutkan bahwa Nabi adalah orang yang paling dermawan, dan puncaknya terjadi saat Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Quran. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah digambarkan:

فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Maka Rasulullah jauh lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berembus. (HR. Bukhari).

Penggunaan diksi angin yang berembus (ar-rihil mursalah) mengandung makna yang sangat dalam. Angin tidak memilih tempat untuk disentuh; ia membawa kesejukan bagi si kaya maupun si miskin, menyentuh tanah yang subur maupun yang tandus, dan ia bergerak dengan sangat cepat. Begitulah kedermawanan Rasulullah. Beliau memberikan bantuan tanpa birokrasi yang rumit, tanpa diskriminasi, dan tanpa sedikit pun keraguan. Beliau adalah pribadi yang tidak takut kekurangan sama sekali karena keyakinannya pada perbendaharaan Allah yang tidak terbatas.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad menjelaskan bahwa kedermawanan Nabi di bulan Ramadhan mencakup segala hal: ilmu, harta, jiwa, dan waktu. Beliau memberikan makanan bagi mereka yang berpuasa, menanggung beban orang-orang yang kesulitan, serta memberikan ketenangan ruhani melalui pengajaran Al-Quran. Ilmu yang bermanfaat ini mengajarkan kepada umat Islam bahwa puasa seharusnya memperhalus perasaan seseorang terhadap penderitaan orang lain, bukan justru menjadikannya kikir karena alasan ekonomi yang tidak menentu.

Kedermawanan ini merupakan buah dari tadarus Al-Quran bersama Malaikat Jibril. Setiap kali beliau mengulang ayat-ayat Tuhan, jiwa beliau kian lapang dan semangat untuk berbagi kian berkobar. Di sinilah letak korelasi antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Rasulullah membuktikan bahwa semakin dekat seseorang dengan Al-Quran, seharusnya ia semakin pemurah kepada sesama manusia.

Bagi umat Islam saat ini, meneladani kedermawanan Nabi di bulan Ramadhan adalah upaya untuk menghidupkan kembali ruh Islam yang humanis. Kebahagiaan tertinggi akan diraih ketika seseorang mampu melepaskan keterikatan pada materi demi melihat senyum di wajah saudaranya. Seseorang yang tidak berada di atas petunjuk Rasulullah dalam hal kedermawanan, dikhawatirkan akan kehilangan arah dalam memaknai hakikat puasa itu sendiri.

Ramadhan adalah bulan di mana setiap kebaikan dilipatgandakan. Melalui teladan angin yang berembus, Rasulullah mengajarkan bahwa kebaikan tidak boleh tertahan di dalam kantong, melainkan harus terus bergerak menyentuh setiap relung kebutuhan umat. Inilah amalan saleh yang sesungguhnya; memberikan yang terbaik bukan dari sisa kelebihan, melainkan dari apa yang paling kita cintai. Dengan cara inilah, seorang hamba dapat berharap untuk tetap bersama sang utusan Allah di akhirat kelak, di tempat di mana tidak ada lagi ketakutan akan kekurangan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 06 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:07
Ashar
15:08
Maghrib
18:13
Isya
19:22
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)