LANGIT7.ID-Ibadah haji kerap dipandang sebagai puncak pencapaian spiritual sekaligus status sosial bagi sebagian masyarakat. Ketika seseorang berhasil menginjakkan kaki di tanah suci, ada kepuasan mendalam yang membuncah. Namun, di balik jubah ihram yang putih bersih, tersembunyi musuh batin yang sangat halus namun destruktif: ujub atau rasa bangga diri atas amal perbuatan, serta ria dan sumah yang merindukan pujian sesama manusia. Tanah suci yang seharusnya menjadi tempat merunduk pasrah, tidak jarang berubah menjadi panggung terselubung untuk memamerkan kesalehan.
Ancaman kerusakan spiritual ini dibedah secara lugas oleh Abdulmalik al-Qosim dalam bukunya yang bertajuk
Risalah ila Ahli Arafah wa Muzdalifah wa Mina. Dalam edisi terjemahan oleh Syafar Abu Difa yang diterbitkan oleh IslamHouse pada tahun 2009, Al-Qosim mengingatkan jemaah agar tidak tergelincir dalam takabur. Beliau menegaskan bahwa setiap helai amal yang dikerjakan di tempat-tempat mustajab sesungguhnya hanyalah terjadi karena taufik, bantuan, dan hidayah dari Allah, bukan semata karena kekuatan atau kesucian sang hamba.
Secara teologis, kesadaran akan kecilnya nilai amal manusia di hadapan kemahabesaran pencipta merupakan inti dari haji yang mabrur. Al-Qosim menekankan pentingnya bagi jemaah untuk merasakan keagungan Tuhan dan keluasan pengampunan-Nya, alih-alih mengagumi kekhusyukan salat atau banyaknya putaran tawaf yang telah diselesaikan. Jemaah diimbau untuk selalu memohon agar tidak menyandarkan keselamatan pada amal perbuatan mereka sendiri, walau hanya sekejap mata.
Ujian keikhlasan ini justru kerap memuncak saat jemaah telah kembali ke tanah air. Godaan untuk menyiarkan cerita-cerita dramatis agar dikagumi atau menyandang gelar haji dengan penuh kebanggaan menjadi jebakan berikutnya. Dalam sebuah jurnal ilmiah mengenai psikologi agama yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri, disebutkan bahwa fenomena pamer kesalehan pascahaji sering kali menjadi kompensasi sosial atas biaya besar yang telah dikeluarkan. Padahal, perilaku sumah ini berpotensi menghapus seluruh ganjaran yang telah diraih dengan susah payah.
Tidak hanya dari pamer kemuliaan, kerusakan amal juga bisa datang dari lisan yang tidak terjaga. Al-Qosim menyoroti fenomena sebagian jemaah yang tidak sabar dan mengeluarkan keluhan-keluhan sepele setelah berhaji, seperti ucapan: melelahkan, macet, udara panas, atau aku rugi sekian banyak. Ungkapan-ungkapan bernada ketidakpuasan ini dinilai mencerminkan ketidakpahaman atas hakikat ibadah haji itu sendiri. Haji secara alamiah adalah paket ibadah yang sarat dengan kesulitan fisik, perjalanan panjang, dan himpitan keramaian yang menguji batas kesabaran manusia.
Alih-alih mengeluhkan kondisi lapangan yang tidak lumrah, jemaah diajak untuk melakukan kontemplasi yang lebih dalam. Al-Qosim mengajak pembaca membayangkan keterasingan sesaat di Mekkah sebagai cermin keterasingan yang sesungguhnya di alam kubur kelak. Jika di Mekkah media komunikasi masih terbuka dan masa tinggalnya singkat, maka di alam barzah manusia benar-benar sendiri menghadapi kengerian tanpa pembela. Kesadaran bahwa setiap orang akan mati seorang diri, dihitung amalnya seorang diri, dan dibangkitkan seorang diri seharusnya meruntuhkan segala bentuk kesombongan batin.
Pada akhirnya, esensi haji adalah latihan mati sebelum kematian yang sesungguhnya tiba. Menghindari ujub dan menjaga lisan dari keluhan adalah benteng untuk merawat kemurnian ibadah tersebut. Di akhir risalahnya, Al-Qosim mengajak jemaah untuk terus memperbanyak doa agar Allah berkenan menerima ibadah haji mereka, menuliskan pahalanya, serta meneguhkan iman hingga hari pertemuan akhir kelak. Sebab, tanpa penerimaan dari Tuhan, perjalanan ribuan kilometer itu hanya akan menyisakan lelah dan gelar kosong tanpa makna.
(mif)