Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Syekh Ahmad al-Mutamakkin: Sang Sufi Pesisir yang Menyatukan Ilmu dan Laku

miftah yusufpati Selasa, 07 Oktober 2025 - 15:31 WIB
Syekh Ahmad al-Mutamakkin: Sang Sufi Pesisir yang Menyatukan Ilmu dan Laku
Di Kajen, nama Mutamakkin bukan sekadar sejarah. Ia hidup di napas masyarakat: dalam doa, ritual, dan tutur rakyat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di desa yang dikepung sawah dan angin laut utara, suara azan berbaur dengan gemuruh pengajian santri. Di sela waktu antara magrib dan isya, nama Syekh Ahmad al-Mutamakkin kerap disebut dengan nada penuh takzim. Di Kajen, Pati, nama itu bukan sekadar penanda sejarah: ia hidup di napas masyarakat, di ritual, di tutur rakyat, di bait doa.

“Beliau bukan sekadar guru ngaji,” kata Kiai muda di Kajen saat haul Mbah Mutamakkin beberapa waktu lalu. “Beliau simbol bagaimana ilmu dan laku menyatu.”

Tiga abad sudah berlalu sejak sang syekh berpulang, tapi jejaknya masih kuat dalam denyut pesantren pesisir. Ajaran neo-tasawuf yang ia wariskan, seperti dicatat peneliti Manggara Bagus Satriya Wijaya dan Sariyatun dari Universitas Sebelas Maret (2018), menjadi jembatan antara dunia fikih yang rasional dan tasawuf yang mistik. Di sanalah Mutamakkin berdiri: di tengah, di antara dua kutub yang sering berselisih.

Jejak Awal di Kajen

Riwayat lahirnya samar. Catatan sejarah tak menulis tanggal lahir yang pasti. Tapi cerita turun-temurun menyebutnya sebagai santri pengembara, yang menimba ilmu dari ulama pesisir hingga ke Jawa Timur. Ia kemudian menetap di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, dan membangun lingkungan pengajaran yang kelak dikenal sebagai cikal bakal pesantren Kajen.

Dalam kisah yang dikumpulkan situs Pustaka Muslim Assalafiyyah, Mutamakkin disebut memiliki murid yang kelak menjadi ulama besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia bukan hanya mengajarkan fikih, tetapi juga cara hidup yang berimbang — antara dzikir dan amal, antara kitab dan realitas sosial.

Baca juga: Agguy, Santan, dan Jejak Sufi dari Gowa ke Makkah

Dalam artikel Pemikiran Neo-Sufisme Syekh Ahmad al-Mutamakkin di Jurnal Theologia (Walisongo, 2018), para peneliti menemukan gagasan yang tak lazim di zamannya. Mutamakkin menolak memisahkan lahir dan batin dalam beragama. Ia memandang syariat dan hakikat sebagai dua sisi dari satu mata uang spiritual.

“Mutamakkin adalah representasi neo-sufisme Jawa,” tulis peneliti. “Ia mengajarkan praktik sufistik yang rasional, tanpa menafikan syariat.”

Naskah ‘Arsy al-Muwahhidin menjadi kuncinya. Islah Gusmian dari IAIN Surakarta (2019) menafsirkan karya itu sebagai panduan yang menyatukan gerak lahir ibadah dengan kesadaran batin. Salat, misalnya, bagi Mutamakkin bukan sekadar rukun dan bacaan, tapi peristiwa penyatuan antara hamba dan Tuhan — dalam batas akidah yang tetap berpijak pada Islam ahlussunnah wal jamaah.

Namun, pemikiran itu juga menuai tafsir berbeda. Sebagian kalangan menilai ajarannya terlalu lentur terhadap praktik lokal. Dalam catatan NU Online, kisah Mutamakkin pernah diwarnai perdebatan dengan para ulama “formalis” soal penggunaan simbol dan wayang dalam pendidikan.

Antara Cerita dan Kenangan

Masyarakat Kajen mengenang Mutamakkin bukan lewat kitab tebal, melainkan lewat cerita. Setiap haul, ribuan peziarah datang ke makamnya yang sederhana — sebagian mencari berkah, sebagian mengenang. Di pelataran, anak-anak mendengar kisah tentang “Mbah Mutamakkin yang menolak tunduk pada kezaliman.”

Penelitian Living Sufism of Sheikh Ahmad Mutamakkin in Tradition and Culture of Kajen Muslim Community (Alnashr, Nisfa & Linnas, Islamic Review, 2025) menyebut tradisi ini sebagai “sufisme hidup”: ajaran yang bernafas melalui budaya dan ritus, bukan hanya teks.

Cerita rakyat yang dikumpulkan oleh Dini Mulyani dari Universitas Negeri Semarang (2012) memperlihatkan peran penting orang tua dalam menuturkan kisah Mutamakkin untuk menanamkan nilai-nilai moral: kesabaran, keberanian, dan kesetiaan pada kebenaran.

Gelar yang Menjelma Karakter

Nama “Mutamakkin” berarti “yang kokoh, teguh tak tergoyahkan.” KH Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, pernah mengatakan dalam ceramah haul bahwa gelar itu mencerminkan sikap hidup sang syekh. “Beliau teguh pada prinsip, tapi tetap lembut pada manusia,” ujar Gus Baha seperti dikutip NU Online.

Baca juga: Ibnu Taimiyah: Sufi dalam Balutan Puritanisme

Bagi warga Kajen, panggilan Mbah lebih dari sekadar penghormatan. Ia menunjukkan kedekatan. Mutamakkin bukan figur jauh di menara gading ilmu, melainkan bagian dari denyut harian masyarakat.

Dari ajarannya lahir tradisi keilmuan yang panjang. Pesantren Kajen kemudian tumbuh menjadi salah satu simpul utama jaringan ulama pesisir. Situs Pustaka Muslim Assalafiyyah mencatat, sebelum NU berdiri, banyak tokoh pesantren di Pantura berakar dari tradisi Kajen — dari ilmu fikih hingga tafsir sufistik.

Karya ‘Arsy al-Muwahhidin menjadi salah satu rujukan klasik dalam studi tasawuf Nusantara. Penelitian Kementerian Agama (2020) dalam Jurnal Lektur Keagamaan menyebut teks itu sebagai representasi “tasawuf moderat” yang berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan ortodoksi.

Antara Teks dan Tradisi

Mutamakkin wafat, tapi ajarannya tetap hidup. Di makamnya, setiap malam Jumat, orang-orang masih membaca tahlil dan wirid. Kajen tetap jadi magnet spiritual: antara tradisi pesantren, ritual lokal, dan modernitas yang datang tanpa diundang.

Dalam catatan Citrakara Journal (Universitas Dian Nuswantoro, 2024), perancang muda bahkan membuat buku ilustrasi tentang Mutamakkin untuk mengenalkan sosoknya kepada generasi digital. Warisan sang sufi kini menjelma menjadi inspirasi lintas zaman — dari kitab kuning ke karya visual.

Tiga abad setelah wafatnya, sosok Mutamakkin tetap relevan. Bagi para peneliti, ia adalah contoh bagaimana Islam Nusantara menemukan bentuk: tidak menolak syariat, tapi juga tidak mengabaikan budaya.

Baca juga: Dua Tahun Bersama Ja’far: Jejak Sufi dalam Fikih Abu Hanifah

Dalam pandangan antropolog agama, Mutamakkin adalah “teks hidup”: figur yang terus ditafsir ulang oleh masyarakat, dari pengajian santri hingga diskusi kampus. Ia menjadi simbol Islam yang lentur namun berakar, mistik tapi rasional, lokal tapi universal.

Mungkin di situlah makna sejati dari gelarnya: al-Mutamakkin — yang teguh tak goyah, sekalipun zaman terus berubah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)