Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Agguy, Santan, dan Jejak Sufi dari Gowa ke Makkah

miftah yusufpati Selasa, 07 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Agguy, Santan, dan Jejak Sufi dari Gowa ke Makkah
Dari masjid batu hingga tarekat Khalwatiyyah, Islam Nusantara menemukan bentuknya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada akhir abad ke-17, jauh sebelum istilah “tarekat” menjadi akrab di telinga umat Islam Nusantara, seorang pendeta Prancis bernama Nicholas Gervaise menuliskan catatan yang kelak menjadi salah satu potret paling awal tentang kehidupan religius di Makassar.

Gervaise yang saat itu mengajar dua pangeran Makassar di Paris, menulis tentang kelompok spiritual yang disebutnya Aggity dan Santan. Laporannya, yang diterbitkan sekitar 1688, menggambarkan sebuah komunitas asketis yang hidup di masjid-masjid batu terawat dengan disiplin luar biasa: berjubah putih, kepala gundul, dan tinggal dalam sel-sel kecil di dalam kompleks masjid.

“Mereka hidup siang dan malam dalam sel-sel kecil, terpisah satu sama lain,” tulis Gervaise. “Setiap pagi mereka menerima sedekah orang-orang beriman, namun tak sedikit pun menikmatinya di luar kepatutan.” (The Makings of Indonesian Islam, hlm. 65–66).

Kelompok Santan itu hidup selibat, tunduk pada sumpah kesucian, dan menganggap mengemis dari pintu ke pintu sebagai bentuk kehormatan. Mereka tidak memelihara rambut, mengenakan pakaian sederhana dari linen putih, dan hanya keluar masjid dengan izin pemimpin mereka: Agguy Agung.

Bagi sejarawan modern, seperti Michael Laffan, kesaksian Gervaise ini adalah “rujukan Barat pertama yang jelas tentang para pengikut tarekat di Nusantara.” (Laffan, hlm. 67). Istilah Agguy sendiri diyakini sebagai serapan lokal dari kata Mesir Hajji atau Haggi, sebutan bagi guru sufi Asia Tenggara. Bahkan kata Guman, yang digunakan Gervaise untuk “Jumat”, tampak berakar dari pelafalan Mesir al-gum‘a.

Meniru Islam, Menyerap Kairo

Namun, bagi Gervaise, para ulama Makassar bukan peniru buta, melainkan pencipta bentuk Islam lokal yang taat sekaligus unik. Ia menulis bahwa mereka melaksanakan kewajiban agama “dengan usaha keras dan amal saleh,” menganggap wudhu sembarangan sebagai dosa besar, dan memilih mati kehausan daripada minum di siang hari Ramadan.

“Mereka jauh lebih taat ketimbang kaum Mahometan lain,” catat Gervaise. “Mereka melaksanakan upacara-upacara yang tidak dilakukan di Turki ataupun India, karena yakin bahwa upacara-upacara itu berasal dari Mekah.”

Gambaran ini menunjukkan satu hal penting: sejak awal, Islam di Makassar sudah bercorak kosmopolitan. Ia tidak lahir dari satu pusat tunggal, melainkan hasil penyerapan berlapis—Kairo, Mekah, dan Madinah di satu sisi; Gowa dan Banten di sisi lain.

Struktur Religius dan Hierarki Sosial

Selain Santan, Gervaise mencatat keberadaan dua lapisan ulama lain: para Labe—guru muda dalam hierarki keagamaan—dan para Touan, sebutan bagi pemuka tertinggi yang “hanya dapat ditahbiskan di Mekah oleh Mufti Agung.”

Gelar Touan (yang kelak berubah menjadi “Tuan Guru”) menjadi tanda kehormatan besar di Makassar. Mereka menikah, namun dilarang berpoligami, dan memperoleh penghormatan sosial tinggi. “Tidak ada perayaan atau pernikahan tanpa mereka diundang,” tulis Gervaise.

Di antara mereka, Agguy Agung menempati posisi tertinggi, berdiri sejajar dengan “Patriark dan Ulama tertinggi kerajaan.” Struktur ini mengingatkan pada pola keagamaan di Timur Tengah, namun beradaptasi dengan sistem kerajaan lokal.

Dari Para Agguy ke Syekh Yusuf

Menjelang awal abad ke-18, jejak para Agguy mulai meredup. Sebuah laporan kerajaan Gowa tahun 1701 menunjukkan perubahan orientasi religius: para raja kini berziarah ke makam Dato-ri-Bandung, salah satu pendakwah Islam awal di Makassar, sebelum akhirnya beralih ke makam Syekh Yusuf al-Maqassari—ulama besar yang wafat di pengasingan di Tanjung Harapan pada 1699 dan dipulangkan ke Gowa pada 1705.

Menurut Laffan, kedatangan jenazah Syekh Yusuf—dan lebih dahulu putranya pada 1702—menandai pergeseran simbol spiritual di Sulawesi Selatan. Raja-raja Makassar mulai memuliakan Yusuf sebagai wali besar, bahkan memasukkan garis keturunannya ke dalam silsilah kerajaan. “Kembalinya Yusuf menutup peran para Agguy,” tulis Laffan, “dan menggantikan mereka dengan figur wali yang berakar pada jaringan global tarekat Khalwatiyyah.”

Warisan dari Makassar ke Dunia

Gervaise mungkin melihat para Agguy dengan kacamata Eropa abad ke-17—asing, mistis, dan penuh ritual. Tapi bagi peneliti modern, catatan itu menyingkap wajah Islam lokal yang kaya dan dinamis.

Makassar kala itu bukan hanya pelabuhan dagang, tetapi juga laboratorium spiritual: tempat Islam berasimilasi dengan struktur kerajaan, membentuk komunitas sufi yang taat, dan menjelma menjadi kekuatan sosial.

Jejak para Agguy, Touan, dan Santan kini tinggal dalam teks dan tradisi. Tapi dari batu-batu masjid tua hingga ziarah ke makam Syekh Yusuf, gema spiritual mereka masih terdengar—sebuah warisan yang menautkan Gowa, Kairo, dan Mekah dalam satu garis panjang sejarah Islam Nusantara.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)