LANGIT7.ID-Perdebatan tentang kebenaran ilmiah Al-Qur’an hampir selalu berujung pada satu pertanyaan klasik: sejauh mana kitab suci itu memuat teori sains modern? Dari relativitas hingga kosmologi, ayat-ayat Al-Qur’an kerap ditafsirkan sebagai pembenaran atas penemuan mutakhir. Namun pendekatan ini justru menyederhanakan fungsi wahyu.
Dalam Membumikan Al-Qur’an, M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa Al-Qur’an sejak awal memperkenalkan diri sebagai petunjuk, bukan ensiklopedia ilmu pengetahuan. Penegasan itu selaras dengan QS 2:185 yang menempatkan wahyu sebagai hudan linnas, penunjuk arah bagi manusia, bukan daftar rumus atau teori.
Perbedaan pandangan ulama tentang relasi Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan sudah berlangsung lama. Imam Al-Ghazali dalam Jawahir Al-Qur’an menyatakan bahwa seluruh cabang ilmu, baik yang telah maupun belum ditemukan, bersumber dari Al-Qur’an. Sebaliknya, Al-Syathibi dalam Al-Muwafaqat menolak pandangan itu. Menurutnya, para sahabat Nabi yang paling memahami Al-Qur’an tidak pernah mengklaim bahwa kitab suci itu memuat seluruh disiplin ilmu.
Quraish Shihab mengambil posisi moderat. Menurutnya, hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan tidak terletak pada pembuktian ayat demi ayat dengan teori ilmiah, melainkan pada spirit yang dikandung wahyu. Ukurannya bukan apakah Al-Qur’an memuat teori relativitas, melainkan apakah nilai-nilainya menghambat atau justru mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan pemikir Aljazair, Malik bin Nabi. Dalam Intaj Al-Mustasyriqin wa Atsaruhu fi Al-Fikriy Al-Hadits, ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya kumpulan masalah dan metode, tetapi juga bergantung pada syarat psikologis dan sosial yang menopangnya. Tanpa iklim mental yang mendukung, ilmu akan mandek.
Sejarah Eropa memberi contoh. Galileo Galilei tidak ditumbangkan oleh argumen ilmiah, melainkan oleh tekanan sosial dan dogma keagamaan zamannya. Di titik ini, relasi wahyu dan ilmu menjadi relevan. Al-Qur’an hadir justru untuk membebaskan akal dari belenggu ketakutan dan kejumudan.
Ayat-ayat yang mendorong penggunaan akal tersebar luas dalam Al-Qur’an. QS 34:46, misalnya, mengajak manusia berpikir secara mandiri dan jujur. Pesan ini membentuk fondasi psikologis bagi kemajuan ilmu: keberanian bertanya, kebebasan berpikir, dan tanggung jawab moral.
Dalam perspektif ini, kebenaran ilmiah Al-Qur’an tidak terletak pada kecocokan literal dengan temuan sains modern, melainkan pada kemampuannya membangun etos pengetahuan. Wahyu tidak bersaing dengan sains, tetapi menyiapkan manusia agar sains dapat tumbuh tanpa kehilangan arah etik.
Upaya “mencocok-cocokkan” ayat dengan teori yang sifatnya sementara justru berisiko mereduksi kesucian Al-Qur’an dan mengaburkan logika ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketika teori berubah, tafsir pun goyah. Sebaliknya, nilai-nilai yang menumbuhkan akal sehat, kejujuran intelektual, dan tanggung jawab sosial tetap relevan lintas zaman.
Di situlah Al-Qur’an membumi: bukan sebagai kitab fisika atau biologi, tetapi sebagai fondasi peradaban ilmu yang manusiawi.
(mif)