Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 11 Februari 2026
home masjid detail berita

Labirin Mutasyabih: Menelusuri Wilayah Terlarang dalam Tafsir

miftah yusufpati Rabu, 07 Januari 2026 - 05:45 WIB
Labirin Mutasyabih: Menelusuri Wilayah Terlarang dalam Tafsir
Secara interpretatif, pembatasan dalam tafsir adalah bentuk penghormatan terhadap objektivitas teks. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Al-Quran memang menggugat manusia untuk berpikir, namun ia juga meletakkan pagar kawat yang berduri bagi nalar yang mencoba melampaui kodratnya. Dalam diskursus tafsir, kebebasan berpikir bukanlah tanpa tepi. Sejarah mencatat bahwa sejak era para sahabat Nabi, pembatasan-pembatasan penafsiran telah muncul bukan untuk membungkam akal, melainkan untuk menjaga integritas makna dari spekulasi yang liar.

M. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Quran mengutip klasifikasi fundamental dari Ibnu Abbas, sang mahaguru tafsir di masa awal. Ibnu Abbas membagi tafsir dalam empat klaster. Pertama, makna yang dipahami orang Arab lewat bahasanya. Kedua, hal-hal dasar yang wajib diketahui setiap orang. Ketiga, wilayah yang hanya disingkap oleh para ulama. Dan keempat, wilayah misteri yang hanya diketahui oleh Allah. Klasifikasi ini secara otomatis menciptakan pembatasan yang ketat, baik dari segi materi ayat maupun prasyarat bagi sang penafsir.

Pembatasan pertama menyangkut materi ayat yang bersifat mutasyabih atau samar. Ayat-ayat seperti alif lam mim atau ya sin dipandang sebagai kode yang kuncinya hanya dipegang oleh Pemilik Redaksi. Di sini, para ulama yang mendalam ilmunya (al-rasikhun fi al-ilm) memilih sikap tawadhu dengan menyatakan iman tanpa mencoba membedah makna teknisnya. Upaya untuk memaksakan logika pada huruf-huruf potong (muqatta’at) ini dianggap melampaui wewenang manusia.

Wilayah kedua yang dipagari adalah masalah-masalah metafisika dan perincian ibadah murni (an-sich). Hal-hal seperti detail hari kiamat atau hakikat ruh berada di luar jangkauan pemikiran manusia. Dalam konteks ini, Dr. M. Quraish Shihab menekankan bahwa akal manusia memiliki batas kemampuan jangkauan (sphere of influence). Memaksakan akal untuk menafsirkan apa yang tidak bisa diindra atau dirasionalkan hanya akan melahirkan polusi pemikiran.

Bahkan tokoh rasionalis Mesir, Syaikh Muhammad Abduh, yang dikenal sangat mengandalkan akal, tetap tunduk pada pembatasan ini. Saat berhadapan dengan ayat tentang timbangan amal di hari kiamat, Abduh memilih untuk berhenti. Ia berpendapat bahwa cara Tuhan menimbang amal adalah atas dasar pengetahuan-Nya, bukan logika manusia. Penyerahan total ini (tafwidh) bukan berarti kemalasan berpikir, melainkan pengakuan jujur akan keterbatasan perangkat nalar manusia di hadapan kemutlakan Tuhan.

Ketegasan dalam pembatasan ini juga terlihat dari sikap Umar bin Khaththab. Saat menemui kata abba dalam surat Abasa, Umar memilih untuk tidak menguraikan maknanya secara spekulatif demi menjaga kemurnian pesan Tuhan. Sikap ini sejalan dengan prinsip yang dianut Al-Hakim Al-Naisaburi yang menolak menisbatkan penafsiran spekulatif sahabat kepada Nabi jika tidak memiliki sanad yang kuat.

Secara interpretatif, pembatasan dalam tafsir adalah bentuk penghormatan terhadap objektivitas teks. Ia mencegah Al-Quran dijadikan sekadar alat legitimasi bagi imajinasi atau kepentingan subjektif manusia. Dengan mengakui adanya wilayah yang tidak diketahui, seorang mufasir justru menunjukkan kematangan intelektualnya. Al-Quran tetap menjadi petunjuk bagi akal, namun ia juga menjadi pengingat bahwa di atas segala ilmu manusia, ada Pengetahuan yang tak bertepi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 11 Februari 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
12:10
Ashar
15:25
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan