Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 11 Februari 2026
home masjid detail berita

Labirin Makna: Daulat Bahasa dalam Tafsir Al-Quran

miftah yusufpati Jum'at, 09 Januari 2026 - 04:15 WIB
Labirin Makna: Daulat Bahasa dalam Tafsir Al-Quran
Al-Quran meminjam kosakata Arab namun memberi roh baru pada maknanya. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID-Al-Quran turun dengan bahasa Arab yang fasih, namun ia bukan sekadar reproduksi dari syair-syair jahiliah yang lazim terdengar di pasar-pasar jazirah. Bahasa wahyu adalah sebuah entitas yang unik; ia meminjam wadah kata dari masyarakat setempat, namun sering kali menuangkan isi makna yang sepenuhnya baru. Fenomena kebahasaan inilah yang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi para mufasir dalam menjaga kemurnian pesan Tuhan.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam karyanya, Membumikan Al-Quran, memberikan catatan kritis mengenai aspek semantik ini. Menurutnya, meskipun Al-Quran menggunakan kosakata yang populer di kalangan orang Arab pada abad ketujuh, pengertian kosakata tersebut tidak selalu sinkron dengan apa yang mereka pahami saat itu. Al-Quran melakukan sebuah revolusi semantik, menarik kata-kata dari bidang pemaknaan yang lama menuju bidang pemaknaan yang Qurani.

Dalam disiplin tafsir, seorang penafsir tidak memiliki cek kosong untuk memilih arti sebuah kata secara serampangan. Shihab menegaskan adanya sebuah hirarki otoritas makna. Prioritas pertama harus diberikan pada penggunaan Al-Quran terhadap kosakata tersebut. Jika Al-Quran telah memberikan definisi khusus melalui konteks ayat-ayatnya (tafsir al-quran bi al-quran), maka pengertian itulah yang harus didahulukan daripada pengertian populer masa pra-Islam maupun pengertian baru yang berkembang di era modern.

Kekakuan semantik ini penting untuk menjaga agar wahyu tidak diseret-seret oleh kepentingan ideologis atau perkembangan bahasa yang sering kali mengalami pergeseran makna secara ekstrem. Penggunaan pengertian baru yang muncul berabad-abad setelah wahyu turun secara umum dinilai tidak dibenarkan, karena hal itu berisiko mengaburkan maksud asli Sang Pemilik Kata.

Namun, Islam tidak lantas menutup ruang bagi kreativitas berpikir. Ada wilayah di mana bahasa memberikan kelenturan yang luas. Shihab memberikan contoh pada kata alaq dalam surat pertama yang turun, Al-Alaq ayat 2. Kata ini memiliki spektrum makna yang lebar: dari segumpal darah, sejenis cacing atau lintah, hingga sesuatu yang berdempet dan bergantung.

Di sinilah seorang mufasir diberi kebebasan intelektual. Jika tidak ditemukan pengertian khusus dari Al-Quran atau ada petunjuk bahwa makna literal pra-Islam bukanlah yang dimaksud, maka penafsir boleh memilih arti yang paling memungkinkan menurut pemikirannya, tentu dengan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, memilih arti alaq sebagai sesuatu yang bergantung dapat dikaitkan dengan temuan medis modern mengenai janin yang menempel pada dinding rahim.

Sikap moderat ini menunjukkan bahwa Al-Quran menghargai perbedaan pendapat yang muncul dari analisis kebahasaan. Selama perbedaan itu dikemukakan dalam koridor tanggung jawab ilmiah dan kesadaran akan keterbatasan manusia, agama justru memberikan apresiasi tinggi. Bahkan, dalam sebuah kaidah klasik, upaya ijtihad yang keliru tetap mendapatkan satu pahala, sementara yang benar mendapatkan dua.

Kesimpulannya, bahasa dalam Al-Quran adalah sebuah sistem yang kokoh sekaligus elastis. Ia kokoh karena memiliki akar sejarah dan konteks wahyu yang tidak boleh dilanggar, namun ia elastis karena memberikan ruang bagi setiap generasi untuk menggali kedalaman maknanya. Memahami Al-Quran lewat bidang bahasa adalah upaya untuk mendengar suara Tuhan melalui perangkat manusia, sebuah perjalanan yang menuntut ketelitian ahli bahasa sekaligus ketaatan seorang hamba.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 11 Februari 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
12:10
Ashar
15:25
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan