LANGIT7.ID- Dunia sains hari ini sedang berdiri di atas satu kaki: materialisme. Sejak revolusi industri meletus di Eropa, komunitas ilmiah cenderung membatasi definisi kebenaran hanya pada apa yang bisa diobservasi, diukur, dan dieksperimenkan. Di luar batas laboratorium, segala sesuatu dianggap sebagai mitos atau sekadar abstraksi yang tidak valid secara saintifik. Namun, dalam magnum opusnya, Membumikan Al-Quran, M. Quraish Shihab mengajak kita menengok kembali sebuah klasifikasi ilmu yang jauh lebih utuh dan mendalam. Bagi Quraish Shihab, Al-Quran bukan sekadar kitab doa atau kumpulan mantra ritual, melainkan sebuah basis epistemologi yang menampung apa yang ia sebut sebagai ilmu abadi dan ilmu yang dicari.
Argumen Quraish ini sebenarnya beresonansi dengan kegelisahan intelektual para pemikir Islam abad ke-20, seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang lama bersuara mengenai deislamisasi ilmu. Data menunjukkan bahwa Al-Quran menggunakan kata ilm dalam berbagai bentuknya sebanyak 854 kali. Angka ini merupakan sebuah anomali bagi teks abad ketujuh jika kita tidak memahami bahwa wahyu tersebut memandang ilmu sebagai proses pencapaian sekaligus objek pengetahuan itu sendiri.
Perbedaan mendasar antara nalar Qurani dan sains Barat terletak pada definisi realitas. Jika sains mutakhir mengunci diri dalam penjara alam materi (physical world), Al-Quran justru mendobrak pintu tersebut. Quraish Shihab menekankan bahwa objek ilmu dalam Islam melampaui batas-batas empiris. Ada realitas non-empiris atau nomena yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera, namun memiliki keberadaan yang nyata secara ontologis.
Ia merujuk pada sumpah Tuhan dalam surat Al-Haqqah mengenai apa yang dapat kamu lihat dan apa yang tidak dapat kamu lihat. Di sini, para ilmuwan tidak semestinya menolak keberadaan metafisika hanya karena instrumen mereka tidak mampu mendeteksinya. Sebab, sebagaimana dalam matematika terdapat konsep akar atau dalam fisika terdapat berat jenis, banyak realitas yang keberadaannya diterima melalui logika meski hakikat zatnya tetap misterius.
Kritik Quraish Quraish terhadap sains modern semakin tajam ketika masuk ke wilayah etika. Mengembangkan sains tanpa panduan nilai moral ibarat memberikan sebilah pedang kepada seorang pemabuk di tengah keramaian. Quraish Shihab mengutip filsuf Muhammad Iqbal untuk mempertegas bahwa kemanusiaan saat ini sedang sekarat karena kehilangan penafsiran spiritual atas alam raya. Tanpa fondasi spiritual, kemajuan teknologi hanya akan melahirkan manusia satu dimensi: mahir secara teknis, namun buta secara etika; sanggup menciptakan bom atom, namun kehilangan alasan mengapa mereka tidak boleh menjatuhkannya.
Inilah mengapa pesan iqra atau bacalah dalam wahyu pertama tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dikaitkan dengan bismi rabbika, demi nama Tuhanmu. Keterikatan ini menjadi jangkar agar ilmu tidak dikurbankan demi ambisi pribadi, sentimen regional, atau kepentingan nasional yang destruktif. Ilmu pengetahuan harus dikembalikan pada fungsinya sebagai instrumen pengabdian. Dalam pandangan Syaikh Abdul Halim Mahmud, yang juga dikutip Quraish Shihab, ilmu yang bersandar pada ketuhanan harus memberikan manfaat bagi pemiliknya sekaligus membawa cahaya ke seluruh penjuru masyarakat.
Lebih jauh, Quraish Shihab membedah bagaimana Al-Quran memposisikan alam raya sebagai intelligible atau sesuatu yang dapat dipahami. Tuhan sengaja menundukkan alam melalui hukum-hukumnya agar manusia dapat melakukan tafakkur yang menghasilkan sains, dan tashkhir yang menghasilkan teknologi. Namun, produk perkembangan ilmu ini hanya diakui keabsahannya oleh Al-Quran selama ia membawa kemudahan bagi manusia dan menghindari dampak negatif. Tuhan menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya, bukan kesukaran.
Kesadaran akan keterbatasan ilmu manusia—sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Isra ayat 85—seharusnya membuat para ilmuwan lebih rendah hati. Fenomena yang kita saksikan di alam semesta hanyalah sebagian kecil dari hakikat wujud yang sebenarnya. Di tengah krisis kemanusiaan yang dipicu oleh teknologi yang kering nilai, laporan ilmiah dari sebuah permusyawaratan di Italia beberapa dekade silam menyimpulkan hal yang serupa dengan pesan Quraish: untuk menetralisir teknologi yang menghilangkan kepribadian, manusia harus menggali kembali nilai-nilai spiritual.
Pada akhirnya, rekonstruksi ilmu yang ditawarkan melalui Al-Quran adalah sebuah upaya untuk mengawinkan kembali nalar dan wahyu. Membumikan Al-Quran berarti menjadikan teks suci sebagai kompas moral dalam laboratorium, sehingga ilmuwan tidak lagi menjadi sosok asing bagi jiwanya sendiri. Di tangan Quraish Shihab, wahyu tampil sebagai jawaban konkret atas perselisihan manusia, penuntun menuju tatanan wujud yang lebih adil dan membahagiakan.
